Hal Sederhana Pemicu Konflik Rumah Tangga

176891_620RADIO SUARA WAJAR – Perceraian! Mendengar katanya saja sudah terasa miris, apalagi harus mengalaminya. Ya, perceraian mungkin menjadi kata keramat yang paling menyeramkan bagi pasangan suami istri manapun di dunia ini.

Mudah memang mengucap janji pernikahan, tapi semudah itu pula mengucap ikrar perpisahan karena persoalan rumah tangga yang dianggap tak kunjung terselesaikan. Parahnya, angka perceraian pun kian marak terjadi sekarang ini, baik di kalangan artis maupun masyarakat biasa.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah terjadinya perceraian?

“Sulit sih untuk bicara masalah perceraian pasangan. Soalnya begitu banyak penyebab yang seringkali dirasa orang luar begitu sepele, namun tidak bagi pasangan. Usia pendekatan atau penjajakan yang singkat kerap menjadi pemicunya. Belum lagi ditambah proses adaptasi yang sulit dan sikap tidak mau menerima kekurangan yang begitu kaku,” ujar Ayoe Sutomo (Psychologist Practitioners) soal pemicu konflik rumah tangga.

Mengakui bahwa menjalani biduk rumah tangga bukanlah perkara mudah. Ayoe membeberkan 4 hal sederhana perusak rumah tangga, selain tentunya perselingkuhan dengan orang ketiga. Menurutnya, 4 hal sederhana pemicu konflik rumah tangga ini terlihat sepele, tapi justru menjadi penentu dalam keharmonisan rumah tangga.

“Menikah bukan hanya sekedar tidur bersama kemudian memiliki anak. Menikah juga menyatukan kedua manusia dalam satu ikatan yang didalamnya ada prinsip, ada ego, ada kebutuhan dan sebagainya. Makanya, penting bagi pasangan yang baru menikah untuk memahami semuanya secara mendalam,” tambah Ayoe soal 4 hal sederhana pemicu konflik rumah tangga.

Adapun 4 hal sederhana perusak rumah tangga yang menurut Ayoe harus diketahui dan disamakan prinsipnya untuk menghindari gesekan dalam membangun pernikahan yang harmonis.

1. Prinsip tentang keuangan

Ya, masalah finansial acapkali membuat suami istri ribut di kemudian hari. Tak melulu soal pendapatan yang sedikit atau kurang, perbedaan pola mengatur keuangan serta ketimpangan gaji antara suami dan istri saja menimbulkan situasi yang sensitif.

Diakui Ayoe, prinsip tentang keuangan ini mencakup rencana jangka panjang, dana pendidikan, pengaturan pos tabungan investasi, kebiasaan berbelanja, hak uang istri dan hak uang suami dan masih banyak lagi.

2. Pola asuh

Jangan keliru! Pola asuh anak memang terlihat sederhana, namun perbedaan prinsip pola mengasuh dan mendidik anak kerap menjadi awal pertikaian pasangan suami istri. Makanya, pola asuh yang dipilih dan diterapkan haruslah menjadi kesepakatan berdua, bukan satu orang.

3. Bagaimana pasangan memandang peran suami dan istri dalam pernikahan

Dari kacamata psikologis, peran suami tidak hanya sekedar pencari nafkah saja, melainkan fungsi lainnya. Sebaliknya, peran istri tidak hanya melayani suami saja untuk kebutuhan ranjang dan melahirkan anak, tapi juga hal-hal mulia lainnya.

“Ini yang harus disadari oleh kedua pasangan sebelum menikah. Berdiskusi santai namun serius diperlukan untul mengetahui adakah prinsip yang tak cocok yang dirasa tidak fleksibel sehingga membuat hubungan akan memanas. Sekecil apapun perbedaan prinsip tersebut dapat memicu pertengkaran di kemudian hari,” jelasnya.

4. Bagaimana pasangan memperlakukan orangtua dalam pernikahan

Hidup di Indonesia dengan adat budaya ketimuran yang begitu kental membuat konsep pernikahan tidak hanya soal dua orang, melainkan dua keluarga besar. Walau mungkin banyak pasangan memilih tinggal berjauhan, namun nilai ketimuran yang memuliakan peran orangtua harus disepakati bersama.

“Keuangan mapan, istri pintar mengurus rumah tangga dan anak, tapi orangtua sering ikut campur atau malah terabaikan. Belum lagi, jika kasih sayang istri/suami timpang ke mertua. Ini bisa jadi pemicu percekcokan rumah tangga yang sangat sensitif kalau dibahas,” papar Ayoe.

Pada tabloidnova.com, Ayoe pun menyarankan masing-masing pasangan untuk sangat mengenal dan mencari tahu soal karakter, kebiasaan, prinsip, maupun kekurangan pasangan sejak pacaran atau masa penjajakan. Setuju atau tidak, kenyataannya konflik dalam pernikahan dan membangun rumah tangga berawal dari kondisi di atas.

 

666 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *