Paus Fransiskus: Orang Perlu Bangun Sikap Kepedulian Terkait Krisis Kemanusiaan

A young girl stands with other migrants and refugees waiting to board a train near the registration camp, after crossing the Greek-Macedonian border, near Gevgelija on October 1, 2015. Macedonia is a key transit country in the Balkans migration route into the EU, with thousands of asylum seekers and migrants -- many of them from Syria, Afghanistan, Iraq and Somalia -- entering the country every day. AFP PHOTO / ARMEND NIMANI

Seorang anak berdiri bersama para migran dan pengungsi lain sedang menunggu sebuah kereta api dekat kamp registrasi, setelah menyeberangi perbatasan Yunani-Makedonia, 1 Oktober.

RADIO SUARA WAJAR – Ketidakpedulian terhadap krisis migran  dan pengungsi saat ini mendorong keterlibatan ketika orang tetap diam atau menolak, kata Paus Fransiskus.

Yesus sendiri secara jelas telah menyerukan untuk menyambut orang asing dan menunjukkan rasa belas kasihan, kata Bapa Suci dalam pesan yang dirilis di Vatikan pada 1 Oktober.

“Namun, ada terus perdebatan tentang kondisi dan batas waktu yang akan ditetapkan oleh penerimaan migran, tidak hanya pada tingkat nasional, tetapi juga di beberapa komunitas paroki, yang merasa ketenangannya terancam,” katanya.

Paus membuat komentar dalam pesannya untuk memperingati Hari Migran dan Pengungsi Internasional 2016, yang akan dirayakan pada 17 Januari di banyak negara.

Paus Fransiskus memilih tema  “Migrants and Refugees Challenge Us. The Response of the Gospel of Mercy” untuk peringatan tahun depan.

Semua migran adalah “saudara-saudari kita untuk mencari kehidupan yang lebih baik, akibat kemiskinan, kelaparan, eksploitasi dan distribusi yang tidak adil dari sumber daya planet ini,” kata Paus dalam pesannya.

Krisis tidak bisa diterima

Mereka mencari sesuatu yang sama seperti setiap orang cari – “kehidupan yang lebih baik, lebih layak dan sejahtera,” katanya, seraya menambahkan, “Krisis kemanusiaan itu tidak bisa diterima.”

Tapi, “ketidakpedulian dan sikap diam mendorong keterlibatan dari  setiap kita ketika menyaksikan orang  mati lemas, kelaparan, kekerasan dan kecelakaan kapal.”

Masyarakat yang menyambut migran secara serius ditantang, tetapi dengan motivasi, manajemen dan regulasi yang baik, mereka dapat menemukan cara mengintegrasikan pendatang baru dengan budaya yang berbeda dengan cara yang saling menguntungkan dan mencegah rasisme dan diskriminasi, katanya.

Sementara pendatang baru memiliki hak untuk mempertahankan identitas budaya mereka. Mereka juga harus menghormati “warisan material dan spiritual dari negara tuan rumah, dan mematuhi hukum,” katanya.

Dalam pesannya, Paus mengatakan orang-orang juga memiliki hak untuk tidak dipaksa untuk pindah dan ia menyerukan upaya yang lebih besar dalam mencegah dan menghentikan penyebab migrasi massal.

Solidaritas yang lebih besar, kerja sama dan distribusi yang lebih adil dari sumber daya alam akan membantu menghilangkan jenis ketidakseimbangan yang menuntun orang-orang untuk meninggalkan tanah air mereka, katanya.

Kardinal Antonio Veglio, Presiden Dewan Kepausan untuk Migran dan Orang dalam Perjalanan, mengatakan hampir setiap masalah dalam hidup perlu dibahas dan ditangani secara bersama.

“Itu sebabnya saya benar-benar mengagumi sikap Bapa Suci” dan seruan kepada setiap paroki, lembaga religius  di Eropa untuk mengambil  satu keluarga pengungsi karena itu salah satu cara Gereja dapat menawarkan bantuan nyata, katanya.

Kardinal mengatakan dia berharap bahwa setiap Konferensi Waligereja nasional di seluruh dunia membuat komitmen konkrit untuk mencari solusi praktis untuk memecahkan masalah ini.”

Pedoman praktis

Kardinal itu mengatakan dewan kepausan sedang mempersiapkan dokumen untuk semua konferensi waligereja yang akan memberikan pedoman “praktis dan konkret” dan pertimbangan hukum sehingga mereka bisa menanggapi seruan Bapa Suci menjadi tuan rumah bagi keluarga pengungsi.

Msgr Giancarlo Perego, direktur “Migrantes Foundation” Konferensi Waligereja Italia mengatakan kepada para wartawan pada konferensi pers bahwa sejak seruan Bapa Suci pada 6 September, sekitar 2.500 pengungsi telah diambil oleh paroki-paroki di Italia.

Sekitar 22.000 orang menerima tempat tinggal dan jasa dari lembaga Gereja, paroki atau biara, katanya. Angka itu telah lebih dari dua kali lipat dari jumlah orang-orang yang membantu tahun lalu, tambahnya.(ucanews.com)

 

872 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *