Pesan Paus Terbaru dan ‘Kepo-isme’ Surat Suspensi KAJ

KatolikKita_Anak-Yang-HilangRADIO SUARA WAJAR – Rabu (11/05/2016), Kamis dan hari ini (dan semoga hari-hari ke depan) sungguh menjadi suatu pembelajaran bagaimana kita umat Katolik  harus bersikap bagaimana menghadapi infomasi di media sosial dan online yang cendrung bisa sangat ‘kejam’.

Dengan tegas dalam pesannya di Vatikan pada hari Rabu kemarin (11/5), Paus Fransiskus dalam konteks bacaan Kisah Anak Yang Hilang menyampaikan pesan,”Tidak ada yang dapat merampas martabat kita sebagai Anak Alah. bahkan Iblis-pun tidak.”

Ironisnya di hari yang sama, beredar viral dan juga langsung ditayangkan sebagai breaking news perihal surat suspensi dari Bapak Uskup Mgr. Ignatius Suharyo kepada salah satu imam KAJ. Bahkan ada yang mengangkat isu sebagai ‘hukuman’ kepada yang bersangkutan dengan kutipan dari Hukum Kanonik Gereja.

Dari bocornya ‘surat suspensi’ yang harusnya bersifat intern hirarki Gereja inilah kemudian bermunculan beragam ‘spekulasi kepo’ kepada yang bersangkutan. Beragam klarifikasi bahkan melalui grup2 media sosial disampaikan bagaimana romo2 paroki harus menjawab pertanyaan tersebut. Namun ‘kotak pandora’ sudah terlanjur terbuka. Maka jadilah ‘hal yang biasa’ menjadi ‘luar biasa’ dengan beragam bumbu tambahan di sana-sini. Termasuknya munculnya akun dadakan yang mencoba mendeskriditkan dengan memanfaatkan situasi. Dan sekali lagi, dunia media sosial dapat menjadi sangat ‘kejam’ yang dengan ‘ke-kepo-an’ menelanjangi harkat kemanusiaan…

Dalam audiensi rutin di Bapa Suci di Basilika St. Petrus kemarin, Paus Fransiskus kembali menegaskan bahwa sang Bapa, bahkan sebelum si anak hilang mengucapkan kata maaf, langsung memeluk dan merangkul anak tersebut. Merinding bila membaca kisah ini dengan seksama.

Dan pengakuan ‘aku tidak layak lagi disebut anak Bapa’ sunnguh menusuk hati sang Bapa yang langsung mengembalikan martabat anak yang hilang dengan simbol memberikan kembali jubah halus, cincin dan kasut. Yesus tidak memberikan gambaran ,’kamu akan membayar atas apa yang kamu lakukan’ melainkan, ‘anakku telah kembali dalam keadaan sehat dan selamat’.

Bapa Suci juga memberikan catatan kepada ‘anak tertua’ sebagai simbol ‘anak yang seolah dekat dengan Bapa’ namun menuntut imbalan dari ‘kedekatan tersebut’. Bapa Paus juga menyebutkan sebagai ‘ dekat tetapi jauh’ sampai-sampai sang Bapa harus kembali menegaskan ‘semua milikKu adalah milikmu’ yang dapat diartikan semata-mata adalah rahmat.

Tulisan inipun semata-mata bukan dibuat sebagai sebuah pembelaan. Namun sebagai sebuah ajakan untuk kita bersama-sama menempatkan konteks masalah yang kini banyak kita hadapi di media sosial sesuai dengan ajakan Bapa Paus: menggunakan logika Belas-Kasih.

“Sukacita terbesar bagi Bapa adalah untuk melihat anak-anaknya mengakui satu sama lain sebagai saudara,” tambah Bapa Paus. Sesuai  pesan Paus yang menutup kotbahnya, “Injil ini mengajarkan kita bahwa kita semua harus memasuki rumah Bapa dan berpartisipasi dalam kegembiraannya dalam kasih,”

So, berhenti kepo, berhenti menghakimi, berhenti melucuti harkat martabat kita sebagai Anak-anak Allah yang penuh belas kasih sebagai saudara…

Sumber: katolikkita.com

 

1592 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *