Renungan Harian, Sabtu, 20 Januari 2018
Pekan Biasa II
INJIL: Mrk 3,20-21:
Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.
RENUNGAN:
Injil yang cukup singkat ini menggambarkan keprihatinan Yesus yang dikatakan atau difitnah sudah tidak wareas lagi. Padahal kita tahu bahwa Yesus memperhatikan pelayanan bagi banyak orang bahkan sampai makan pun Ia tidak sempat. Tanggapan negatif atas perbuatan baik Yesus kepada banyak orang sehingga Ia tidak sempat makan, datang dari orang-orang farisi dan kemudian menggerakkan keluarganya sendiri untuk menarik Yesus dari tengah-tengah masyarakat. Karena mereka telah menuduh Yesus tidak waras lagi. Pernyataan ini sungguh menyakitkan.
Yesus yg adalah Tuhan di atas segala Tuhan, Raja di atas segala Raja, difitnah.” sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.” Padahal sekali lagi Yesus melakukan hal yg benar dan baik, Yesus menyembuhkan orang yg sakit, Yesus membebaskan orang yg terikat/terbelenggu dengan Kuasa kegelapan. Tetapi apa yg terjadi? Orang-orang Farisi, ahli-ahli taurat dan orang-orang banyak memfitnah Yesus dan berkata,”Yesus menyembuhkan orang dengan memakai Beelzebul, dengan lain kata mereka menganggap Yesus melakukan penyembuhan dengan memakai penghulu setan!” Dan yg menarik lagi di sini, Yesus tidak terganggu. Yesus tidak marah-marah, sama sekali tidak! Lalu, pertanyaan saya sederhana. Kalau Yesus saja difitnah, siapa kita yg meminta pengecualiaan agar kita bebas dari fitnahan?” Kalaulah kita difitnah, kita marah sama Tuhan, dan berkata,”Tuhan, hati saya luka, sakit, bayangkan bahwa saya sudah berbuat baik, bayangkan bahwa saya sudah melayani, tiba-tiba saya difitnah!” Di sini kita bisa belajar dari Yesus supaya kita tetap berbesar hati, walaupun difitnah, Itulah resiko dan kalau kita siap menjadi murid Yesus, berarti kita siap juga kena fitnah.
Yesus tetap tenang dalam menghadapi fitnah. Meskipun keluarga Yesus dan orang-orang di sekitarNYA gelisah, dikatakan pada ayat yg ke-21 ”Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.” Jadi, bisa kita lihat bahwa orang-orang menganggap Yesus sudah tidak waras lagi. Orang-orang menuduh Yesus kerasukan Beelzebul, dan keluargaNYA panik. Maria sebagai ibuNYA dan Yusuf sebagai ayahNYA, dan saudara yg lain merasa, lho…kenapa ini? Koq dikatakan Yesus sudah tidak waras? Koq dikatakan Yesus kerasukan Beelzebul? Keluarga Yesus berpikir, kita ambil saja Yesus dari tengah-tengah mereka.
Dalam situasi yang seperti itu, Yesus tetap tenang, Yesus tidak marah dan tersinggung. Yesus tidak coba membalas yg jahat dengan yg jahat. Atau menantang mereka, ”siapa itu yg ngomong/buktikan siapa yg lebih benar daripada kita?” Saudaraku yg kekasih dalam Tuhan, bila kita menghadapi fitnah, hal pertama yg harus kita buat adalah: tetap tenang. Janganlah mencari dukungan yg menurut saudara dapat mendukung saudara, karena hal itu akan membuat saudara bertambah marah, membuat saudara lebih kuat, dan berusaha menyerang orang yg memfitnah saudara.
Sekali lagi, Yesus tenang, meskipun saudaranya gelisah. Karena Yesus tahu bahwa IA berjalan di jalan Kebenaran. Orang berbicara apapun, Allah yg akan menyatakan Kebenaran itu. Jadi, hal pertama saat kita menghadapi fitnah, adalah: tetap tenang seperti Yesus. Kalaulah Yesus saja menghadapi fitnah, kenapa kita harus lari dari fitnah, kenapa kita harus menangis di tengah-tengah fitnahan yg terjadi, kenapa kita mesti kecewa? Dengan hal ini mau mengingatkan kita bahwa Yesus melayani, IA menyembuhkan, namun orang mengatakan bahwa IA kerasukan setan, Yesus tidak waras. Secara manusiawi, hatiNYA pastilah sakit, menangis, tetapi Yesus tetap tenang. Mengapa IA tetap tenang? Karena Kebenaran selalu akan dibela oleh Allah sendiri.
Dalam keseharian hidup kita hal serupa bisa muncul. Tidak semua pelayanan kita mendapat dukungan dari sesame dan saudara kita, bahkan boleh jadi mereka menuduh kita yang bukan-bukan. Dalam kesempatan ini, kita diundang untuk melihat pengalaman Yesus. Yesus sendiri sudah terlebih dahulu diburuk-burukkan orang, terlebih itu datang dari kalangan keluarga-Nya sendiri. Namun, Yesus tetap bertahan untuk melakukan hal yang baik. Karena Yesus tahu bahwa hal itu adalah kehendak Bapa-Nya. Maka mari tetap setia pada perbuatan baik, meskipun tantangan datang dari orang terdekat kita!
DOA:
“Ya Tuhan Allah, berilah aku kekuatan dan ketabahan bila aku difitnah. Aku tetap akan berbuat baik demi kebaikan sesama dan kemuliaan nama-Mu. Terpujilah Engkau kini dan sepanjang segala masa. Amin.”***
Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

