Renungan Harian, Kamis, 23 Agustus 2018

Pekan Biasa XX

INJIL: Mat 22,1-14

Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Ilustrasi. (Foto : Facebook Thomas Suratno)

Ilustrasi. (Foto : Facebook Thomas Suratno)

RENUNGAN:

Injil yang kita renungkan hari ini juga menggambarkan sebuah suasana pesta sebagai gambaran kerajaan Allah untuk kita sekalian. Ada orang-orang yang sebenarnya sejak awal beruntung karena “diundang ke perjamuan” tetapi malah meremehkannya. Karena itulah keberuntungan yang sebenarnya akan mereka nikmati kemudian beralih kepada orang-orang lain yang tadinya tidak masuk hitungan.

Maksud perumpamaan ini sebenarnya adalah membantu agar orang menyadari bagaimana cara Yang Mahakuasa mengajak siapa saja ikut masuk ke dalam kehidupan keluargaNya, ke dalam keintiman yang tidak bisa sebarangan dimasuki. Dengan mengajak orang ikut serta dalam kegembiraan pesta nikah anaknya, sang raja tadi ingin berbagi kegembiraan. Bahkan boleh dikatakan, kegembiraannya itu baru menjadi nyata bila ikut dirasakan orang lain. Pesta nikah itu terjadi justru karena hadirnya orang-orang jalanan tadi. Kita diberikan ajakan yang amat kuat. Ayo ikut membuat kehidupan yang nyata ini bagian dari Kerajaan Surga. dan Tiap orang diminta menemukan wujud Kerajaan Surga bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari, kehidupannya di persimpangan jalan. Namun untuk itu perlu memakai pakaian pesta.

Tidak mengenakan pakaian pesta berarti datang tanpa sungguh mau mengikuti pesta dan datang tanpa pakaian yang cocok berarti membiarkan diri tidak dikenal sebagai undangan. Komitmen setengah-setengah ini kurang dapat menjadikan hidup orang menjadi bagian dari hidup dalam Kerajaan Surga. Kebalikannya, datang dengan mengenakan pakaian pesta berarti datang tanpa maksud atau tujuan lain. Yang bersangkutan akan dikenali sebagai orang yang hidupnya sedang berubah dari yang ada di persimpangan jalan menjadi dia yang hidup dalam perjamuan yang makin memanusiakan dan makin mendekatkan ke keilahian.

Pertanyaan untuk kita sekalian, kita ini berada digolongan undangan yang mana? Apakah yang diundang secara resmi tetapi mati-matian menolak karena kesibukan dan rutinitas sehari2 ataukah yang berada dipersimpangan jalan tapi tidak menyiapkan diri dengan baik? Atau apakah kita siap untuk memenuhi undangan Tuhan dan tak lupa mengenakan pakaian pesta ketika memenuhi undangan itu? Pakaian pesta adalah bagaimana kita membangun relasi yang baik dengan Tuhan dalam hidup sehari2. Kita menghormati Tuhan sebagai yang empunya pesta, menghormatinya dengan berbuat baik dalam hidup kita sehari2.

Mari kita harumkan pakaian pesta kita dengan amal baik kita, dengan teladan hidup kita, kita rapikan pakaian pesta kita dengan kesetiaan kita, kita datang ke pesta dengan sebungkus kado yaitu tanda persembahan syukur kita atas segala berkat yang telah kita peroleh dari Tuhan. Ingatlah bahwa banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih.

DOA:

“Ya Tuhan Allah, jadikanlah hatiku selalu siap sedia menjawab undangan-Mu dan senantiasa memantaskan diri di hadapan-Mu dengan segala sifat-sikap yang pantas di hadapan-Mu. Amin.”***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

416 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *