Misa Satu Tahun Mengenang Mas Aan disiarkan Live di Suara Wajar

RP Thomas Suratno SCJ, saat membagikan komuni dalam Misa Prapaskah III secara langsung dari Jalan Cendana No. 26 Pahoman Bandar Lampung, Minggu 28 Februari 2016.

RP Thomas Suratno SCJ, saat membagikan komuni dalam Misa Prapaskah III secara langsung dari Jalan Cendana No. 26 Pahoman Bandar Lampung, Minggu 28 Februari 2016.

BANDAR LAMPUNG, RADIO SUARA WAJAR — Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua pun akan binasa dengan cara demikian. Ini merupakan kutipan salah satu ayat dari Injil Lukas bab tiga belas, yang merupakan bacaan Injil Minggu Prapaskah III yang jatuh pada hari ini, Minggu 28 Februari 2016.

Radio Suara Wajar menyiarkan Misa Prapaskah III secara langsung dari Jalan Cendana No. 26 Pahoman Bandar Lampung pada pukul 10.30 WIB sampai dengan selesai. Perayaan Ekaristi ini sekaligus mengenang satu tahun meninggalnya Antonius Ngatimin atau yang akrab disapa Mas Aan serta tiga hari hari Sumidi yang merupakan adik Mas Aan.

Perayaan Ekaristi Minggu Prapaskah III ini dipersembahkan oleh Romo Thomas Suratno, SCJ, dengan diiringi paduan suara dari Orang Muda Katolik (OMK) St. Petrus Stasi Panjang. Sementara lektor dibacakan oleh Veronika Setya Atmaja dan pemazmur oleh Sesilia Tiara.

Selain Pimpinan dan Penggawa Radio Suara Wajar, Misa ini dihadiri oleh umat stasi Panjang, beberapa suster Hati Kudus (HK) dan FSGM.

Pada homilinya, Romo Ratno – begitu dia dipanggil — mengatakan bahwa kita tidak pernah tahu kapan kematian akan menjemput. “Banyak kematian-kematian yang tidak terduga. Tetapi kita sebagai orang beriman, terutama di masa prapaskah ini, daripada memikirkan bagaimana kita nanti mati, tetapi marilah kita berpikir bagaimana cara hidup kita saat ini”, jelasnya.

Menurut Romo Ratno, beberapa bulan yang lalu banyak berita tentang kematian tragis, karena pembunuhan, terorisme ataupun karena kecelakaan akibat human error. Namun hendaklah kita tidak menghakimi orang lain dan menganggap diri kita lebih baik daripada orang-orang yang mengalami kematian yang tragis.

“Tuhan Yesus menghendaki agar kita memeriksa hidup kita. Mari kita bertanya pada diri kita, “sudahkah aku bertobat, sudahkah aku berbuah”. Masa Prapaskah ini merupakan kesempatan untuk merefleksikan hidup kita sejauh mana kita telah mengikuti jalan Tuhan, terutama di tengah kesulitan dan pergumulan hidup”, pungkasnya.

Rasul Paulus pada saat berada di Korintus mengajak kita janganlah bersungut-sungut, agar kita tidak dibinasakan oleh malaikat maut. Rasul Paulus mengingatkan bahwa bersungut-sungut bukanlah penyakit zaman dahulu saja. Di zaman sekarang tanpa sadar kita suka bersungut-sungut atau complain.

Contohnya ; misanya kok lama sih, atau suara koornya tidak merdu. Sifat bersungut-sungut ini membuat kita kurang peka, dan kurang bersyukur atas berlimpahnya berkat dari Tuhan. Bahkan membuat kita sering melihat kesalahan orang lain daripada kesalahan diri sendiri. Kita harus mengatahui, bahwa melihat kesalahan diri sendiri adalah persyaratan pertobatan, terutama di masa Prapaskah ini. Inilah yang diminta oleh Yesus, agar setelah bertobat kita dapat mengisi hidup kita dengan kebaikan dan berbuah untuk Tuhan dan sesame,” kata Romo Ratno.

Orang Muda Katolik (OMK) St. Petrus Stasi Panjang bersama beberapa crew Suara Wajar di depan studio Minggu 28 Februari 2016.

Orang Muda Katolik (OMK) St. Petrus Stasi Panjang bersama beberapa crew Suara Wajar di depan studio Minggu 28 Februari 2016.

Maka dari itu, menurut Romo Ratno masa Prapaskah adalah kesempatan, dimana Allah memberikan kepada kita kesempatan untuk melihat diri kita masing-masing, kesempatan untuk bertobat dan kesempatan untuk menghasilkan buah.

“Dan di tahun ini adalah Tahun Yubelium Kerahiman Allah, dimana kita banyak kesempatan untuk bertobat dan menerima sakramen rekonsiliasi (pengampunan), maka marilah kita mempergunakannya sebagai pertobatan sejati, sehingga Allah akan memetik buah dari kita,” tambahnya.

Sesungguhnya, begitu manusia dilahirkan, proses penuaan telah terjadi. Saat itu dan seterusnya, kapan pun waktunya, manusia selalu berproses dan setiap waktu bisa mengalami kematian. Untuk itu, Romo mengajak untuk kiranya kita tebar terus benih kebaikan dalam setiap detik kehidupan ini. Kita persembahkan karya yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain semaksimal mungkin.

“Jangan tunda apapun yang bisa kita selesaikan sekarang juga. Kita lakukan yang terbaik dalam setiap langkah kehidupan yang kita tempuh saat ini. Sebab, esok barangkali sudah tidak bisa kita nikmati jika ajal sudah menanti. Sebab, bisa jadi, kita akan dikenang sepanjang masa, karena kebaikan yang sudah kita tanam sepanjang hayat,” pungkasnya.***

Laporan        : Bastian Dani

Editor           : Robert

1015 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *