Renungan Harian, Sabtu 31 Oktober 2015

12193555_10204948335375874_9063020307397659275_nSabtu, 31 Oktober 2015
Hari Biasa Pekan Biasa XXX

Injil: Luk 14:1,7-11

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.
Karena Yesus melihat bagaimana para undangan memilih tempat-tempat kehormatan, Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat daripada engkau, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di tempat yang lebih terhormat. Dengan demikian, engkau akan menerima hormat di depan mata semua orang yang makan bersamamu. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

RENUNGAN:

Yesus menunjukkan bahwa orang perlu mengendalikan diri dari ambisi pribadi. Bila sikap rendah hati itu tulus, inipun akan menunjukkan suatu pribadi yang pantas dikagumi. Istilah low profile tidak menunjukkan bahwa seseorang kehilangan harga diri dan mutu, tetapi justeru menunjukkan apa yang dimiliki orang itu.

Salah satu yang ditunjukkan dalam Injil hari ini adalah soal memilih tempat. Tempat dan kedudukan memang bisa menunjukkan mutu seseorang. Tetapi ternyata bahwa mutu tidak hanya bisa digantungkan dengan tempat. Sikap dan penampilan juga ikut menentukan mutu tersebut. Bagi Yesus, kesederhanaan dan kerendahan hati adalah sikap yang ikut menentukan penampilan seseorang. Apakah hal itu juga menjadi sikap dan usaha kita?

Hikmat yang bisa dipetik dalam kehidupan para murid tercetus dalam pepatah orang Jawa: “empan papan anyar mangsa”. Maksudnya, agar orang tahu diri. Orang yang tahu diri menempatkan diri dalam pergaulan dan membaca tanda zaman. Kebijaksanaan hidup seperti itu pantas diperhatikan. Orang akan dihargai di hadapan Allah dan sesamanya bila memiliki kebijaksanaan yang menjadi kekuatannya.

DOA:

“Ya Tuhan Yesus, jadikanlah aku murid-Mu yang rendah hati. Jauhkanlah aku dari kesombongan diri dan tanamkanlah kebijaksanaan-Mu dalam diriku. Terpujilah Nama-Mu, kini dan selamanya. Amin.”

 

2080 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *