Renungan Injil Yoh 18: 1–19:42

crucifixion-751557

Injil  Yoh 18: 1–19:42

Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya. Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata. Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan ber­kata kepada mereka: ”Siapakah yang kamu cari?” Jawab mereka: ”Yesus dari Nazaret.” Kata-Nya kepada mereka: ”Akulah Dia.” Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Ia berkata kepada mereka: ”Akulah Dia,” mundurlah mereka dan jatuh ke tanah. Maka Ia bertanya pula: ”Siapakah yang kamu cari?” Kata mereka: ”Yesus dari Nazaret.” Jawab Yesus: ”Telah Kuka­takan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.” Demikian hendaknya supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya: ”Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorang pun yang Kubiarkan binasa.” (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab….)

RENUNGAN:

Kita kurang beruntung sebab di negeri kita ini kita tidak mengenal burung pelikan. Induk burung ini dikenal sebagai seekor binatang yang luar biasa. Jika musim kering menimpa, dimana tiada air dan tambahan makanan segar bagi anak-anaknya, ia takkan segan-segan mematuk dadanya sendiri, sampai darah menetes dan anak-anaknya bisa hidup dari tetesan darah sang induk. Itulah sebabnya di banyak tabernakel, ditemukan gambar seekor burung pelikan dengan anak-anaknya yang hidup dari dada berlubang sang induk.

Yesus telah memberikan segala-galanya yang Ia miliki, punyai dan kuasai. Berjalan berkeliling dan berbuat baik, menghadirkan Kerajaan Allah, menyembuhkan yang sakit, membela yang kecil terbelunggu, mengalahkan kuasa jahat dan iblis, membebaskan orang dari permusuhan dan ikatan-ikatan ketidakadilan. Ia menjanjikan Firdaus dan hidup abadi, damai sejahtera di rumah Bapa. Puncak kasih penebusan-Nya ialah pemberian diri sampai tuntas, tanpa batas. Jiwa dan raga, lambung berlubang, tangan terentang dan terikan doa diatas kayu salib ‘Eli Eli lama sabachtani’ menjadi sebuah doa yang bukan saja memelas dan merobek hati, tetapi juga yang merobek bait Allah.

Hari ini kita menundukkan kepala atas wafatnya Tuhan Yesus. Peristiwa yang mewarnai suluruh perjalanan iman kita sebagai seorang kristiani. Yesus memberikan diri-Nya sampai tuntas di kayu salib. Permenungan kita hari ini terarah ke salib, tanda hina sekaligus menjadi tanda keselamatan. Di salib inilah kekejaman ditimpakan Yesus. Namun peristiwa ini membuka tabir baru, yakni tabir kasih dan persembahan diri total Yesus. Darah dan air yang mengalir menunjukkan seluruh diri Yesus yang tercurah bagi hidup kita. Itulah kehidupan yang diberikan Yesus kepada kita.

Darah dan air itulah pemberian diri Yesus demi keselamatan kita. Pada zaman kita ini cukup banyak orang menyia-nyiakan kehidupan yang telah dikaruniakan oleh Tuhan. Berbagai kekejian telah menimpa hidup manusia dan pelakunya pun manusia. Yesus telah wafat untuk keselamatan kita, maka kita harus menjaga keselamatan kita dan sesama dengan segenap tenaga dan kemampuan kita.

DOA:

Tuhan Yesus sungguh agung pengurbanan-Mu bagi hidupku. Berilah aku kesetiaan utnuk selalu menimba dari sumber hidupku, yakni Engkau sendiri sekarang dan selama-lamanya. Amin.

5264 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *