Mahasiswa AS Ajak Dunia Makan Kecoak

Camren Brantley-Rios memakan kecoak.

Camren Brantley-Rios memakan kecoak.

Mahasiswa AS Ajak Dunia Makan Kecoak

VIVA.co.id – Seorang mahasiswa di Amerika Serikat menjalankan makan serangga selama 30 hari. Camren Brantley-Rios memakan serangga tiga kali sehari. “Untuk makan malam, saya makan ulat Hong Kong dengan nasi goreng. Itu cukup bagus. Setelah dibumbui dan dicampur kecap, saya lemparkan mereka masuk,” kata Brantley seperti dilansir BBC, Sabtu 28 Februari 2015.

Ketika banyak orang mendengar ide makan belatung atau serangga sangat menjijikkan, tapi tidak dengan Brantley. Dia memakan serangga untuk sarapan, makan siang dan makan malam. “Aku menempelkan tiga spesies. Ulat Hong Kong, cacing lilin dan jangkrik. Mereka sebagian besar diet saya. Tapi saya suka mencoba memasukkan hal-hal lain yang lebih eksotis,” kata Brantley.

Orak-arik telur dengan cacing lilin, burger keju dengan serangga, adalah makanan sehari-harinya. Sesekali dia mencoba serangga yang berbeda-beda seperti, kecoak oranye dan tutul. “Anda melepas kaki, sayap dan pronotumnya. Saya menggunakan saus dengan bumbu yang berbeda, jamur dan bawang. Itu tidak aneh sama sekali,” katanya. Brantley bukan tanpa alasan mengonsumsi serangga. Menurut dia, mengomsumsi sedikit serangga dapat menghasilkan protein yang sama dibandingkan mamakan daging sapi. Bahkan lebih.

Kata dia, organisasi pangan dan pertanian PBB juga menganjurkan lebih dari dua miliar orang di seluruh dunia untuk mengkonsumsi serangga. Tapi masakan serangga masih menjadi ceruk di Amerika Serikat. Menurut Brantley, saat ini orang AS belum benar-benar perlu memakan serangga karena masih memiliki banyak daging yang bagus. “Kami memiliki daging lebih halus dan kami beruntung memiliki kemewahan itu, sehingga tidak ada banyak tekanan untuk memakan serangga sekarang. Tapi, banyak orang yang mencoba untuk menjadikan serangga sedikit lebih berharga,” kata dia.

Brantley masih terus mencari informasi di internet untuk menemukan serangga-serangga. Saat ini dia telah mengorder serangga dari peternakan yang biasa memasok kebun binatang, untuk memberi makan reptil dan burung. “Tidak terlalu banyak peternakan serangga.” Meski begitu, Brantley selalu memastikan memakan serangga yang telah diberi diet organik. Spesies yang dibelinya juga harus aman untuk dikonsumsi. “Aku tidak akan keluar ke hutan untuk mencari serangga. Pasti ada risiko dengan itu,” kata dia.

Brantley sadar betul bahwa satu orang yang makan serangga tidak akan membuat perbedaan. Untuk membuat dampak lingkungan yang nyata, dia mengajak jutaan orang untuk melakukan hal yang sama, mengkonsumsi serangga.

1200 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *