Rapatkan Barisan, Yayasan Xaverius Tanjungkarang Gelar Raker Kepala Sekolah

Rapat kerja Kepala Sekolah Yayasan Xaverius Tanjungkarang pada 13 Mei-16 Mei 2019 di Rumah Khalwat Mattow Way Hurik Tanjung Seneng, Bandar Lampung.

Rapat kerja Kepala Sekolah Yayasan Xaverius Tanjungkarang pada 13 Mei-16 Mei 2019 di Rumah Khalwat Mattow Way Hurik Tanjung Seneng, Bandar Lampung.

SUARAWAJARFM.com, BANDAR LAMPUNG — Yayasan Xaverius Tanjungkarang mengadakan rapat kerja Kepala Sekolah Xaverius se-Keuskupan Tanjungkarang. Rapat kerja kali ini diadakan pada 13 Mei-16 Mei 2019 di Rumah Khalwat Mattow Way Hurik Tanjung Seneng, Bandar Lampung.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh kepala sekolah Xaverius mulai dari kepala TK sampai SMA yang terdiri dari Kepala sekolah TK Xaverius 7 orang, Kepala SD Xaverius 5 orang, Kepala SMP Xaverius 11 orang dan Kepala SMA Xaverius 2 orang.

Kegiatan raker kepala sekolah xaverius ini dimaksudkan untuk memberikan bekal dalam hal spiritualitas, tata kelola keuangan, pastoral sekolah, sosialisasi kebijakan pemerintah, dan penyusunan program kerja bersama.

Kegiatan diawali dengan perayaan Misa Kudus yang dipimpin oleh RD Andreas Sutrisno dan konselebran RD Andreas Sunaryo. Pada kesempatan itu, Romo Andreas Sutrisno yang juga Ketua Yayasan Xaverius TanjungKarang dalam kotbahnya menyatakan bahwa sekolah katolik harus mampu memberikan warna di tengah masyarakat dengan penghargaan terhadap manusia yang bersumber pada spirit Kristus.

“Apa yang kita lakukan di sekolah harus mampu menghadirkan cinta yang tulus, cinta yang total kepada anak anak supaya mereka menjadi anak yang mempunyai karakter yang baik. Anak yang berkarakter baik yang diharapkan adalah anak yang bisa melakukan sesuatu yang baik atas dasar dorongan dari dalam dirinya, bukan atas ada aturan atau takut akan hukuman,” kata Romo Sutis.

Menurutnya, ciri sekolah katolik bukan hanya pada kedisiplinan yang baik, tetapi lebih pada penanaman nilai-nilai karakter berdasarkan iman akan Kristus.

“Nilai katakter yang ditanamkan Sekolah Xaverius akan terus dibawa oleh anak didik di dalam kehidupannya. Maka penanaman karakter harus sampai pada hati siswa yang pada akhirnya kebiasaan  dan menjadi bagian hidup anak anak,” pungkasnya.***

Kontributor : E. Gamma Pranadenta

Editor         : Robert

321 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *