Aplikasi SaktiLink Mengubah “Wajah Kuno” Koperasi. Siapkah Koperasi di Lampung Menerapkan?

Yohanes De Deo Widyastoko (Pengajar dan Pegiat Koperasi asal Lampung)

Yohanes De Deo Widyastoko (Pengajar dan Pegiat Koperasi asal Lampung)

BANDAR LAMPUNG, SUARAWAJARFM.com — Pagi itu kami sudah dibangunkan oleh pimpinan rombongan untuk sarapan di luar hotel, karena hotel kecil tempat menginap hanya memberikan segelas kopi instan dan sepotong roti kecil. Menurut informasi, perjalanan ketempat sarapan hanya membutuhkan sekitar 10 menit di tengah kota tua yang memiliki banyak bangunan bersejarah zaman Belanda, Probolinggo. Pemilihan tempat sarapan merupakan ide dari karyawan koperasi di sana yang menyambut dan akan mendampingi kami.

Menu sarapan pagi itu adalah soto dan sate sebagai pelengkapnya. Belasan anggota rombongan kami dengan semangat menyantap hidangan soto yang sangat sulit ditemukan di Lampung. Setelah menyelesaikan misi sarapan itu saya sedikit terhenyak dengan pemilik warung soto tersebut yang menawarkan pimpinan rombongan boleh membayar secara cashless bila memiliki applikasi Sakti Link.

“Pak, tadi itu bayarnya pakai applikasi apa kok hanya menscan QR Code yang ditempel di kaca?” tanyaku pada pimpinan rombongan.

“Pakai SaktiLink,” jawabnya.

“Memang Bapak punya applikasi itu,” tanyaku kembali.

“Applikasi opo kui Pak,” tanyaku dengan bahasa jawa kental karena saya tertarik dengan cara pembayaran yang kelihatan terkini dan terkesan milenial. Pembeli tidak perlu membawa uang cash dalam dompet mereka tetapi semua sudah ada dalam genggaman atau gadget. Saya jadi teringat dengan Gojek dan Grab yang juga bisa kita bayar dengan uang yang berada dalam akun penyedia layanan yang ada di handphone pengguna.

“Saya tadi bayar sarapan kita dengan Sakti Link dan pembayaran mobil yang kita pakai ini pun juga menggunakan akun tersebut. Teman teman kalau mau beli pulsa hp dan listrik selama acara kita ini silahkan hubungi saya, karena saya sudah menggunakan applikasi tersebut,” ucap pimpinan rombongan dalam perjalanan menuju koperasi yang menjadi tujuan pertama kunjungan kami.

Setiba di CU Mandiri, kami disambut oleh pengurus dan staff koperasi tersebut di kantor pusat layanan mereka yang sangat luas. Gedung tersebut didesain dengan menyediakan tempat yang sangat luas dan lapang bagi anggota yang akan berinteraksi dengan anggota lain. Mereka punya pandangan bahwa koperasi adalah tempat bertemunya anggota maka sediakan tempat yang seluas luasnya untuk mereka.

Setelah meninjau gedung dan fasilitas yang dimiliki kami minum dan makan snack bersama dengan mereka. Kami dipersilahkan memilih minuman sendiri karena tersedia kopi, teh, jahe dan bahkan minuman tradisional. Untuk camilan mereka menyediakan makanan tradisional kota tersebut.

Tibalah pada saat acara pokok kunjungan yakni sharing dari CU Mandiri. Acara dibuka dengan perkenalan dan dilanjutkan bagaimana penggunaan SaktiLink disana. Kami langsung praktek menggunakan program tersebut dengan mempersilahkan kami menjadi anggota sementara dan memiliki akun dikoperasi tersebut dan menabung uang di Simpanan Harian atau Sukarela. Kemudian kami dipersilahkan memindahkan sejumlah tabungan kita ke Simpanan Ponsel dan mempraktikan beberapa fasilitas transaksi yang tersedia di Sakti Link.

Applikasi SaktiLink juga akan digunakan disekolah sekolah di kota tersebut dengan menggunakan kartu khusus untuk pembayaran mereka di kantin sekolah. Hal itu menyikapi usulan orang tua karena dengan applikasi ini orang tua dapat mengontrol uang saku mereka dan juga dapat mengetahui apa dan dimana uang tersebut dibelanjakan dengan melihat catatan transaksi yang tersedia pada applikasi.

Beberapa pertanyaan mengenai Sakti Link yang ada dalam benak saya terjawab semua ketika kita sudah memindahkan sebagian uang kita ke rekening ponsel tersebut. Rekening ponsel inilah rupanya yang merupakan dana yang bisa kita sediakan untuk berbagai transaksi layanan yang disediakan oleh SaktiLink seperti pembelian pulsa ponsel dan listrik, transakasi antar rekening anggota pengguna Sakti Link seluruh Indonesia, transaksi ke rekening bank bank pemerintah dan swasta, transaksi dengan merchant (anggota yang memiliki usaha) dan rekening pembayaran lain.

Transaksi cashless yang dilakukan pimpinan rombongan dengan merchant warung soto tadi pagi ternyata adalah contoh transaksi yang dilakukan anggota terhadap warung soto (merchan) yang dipasang QR Code.

Satu hal yang terlintas dalam benak saya adalah kita sering kita sulit mengajak anggota untuk menabung. Dengan applikasi ini berapapun pembayaran mereka mau sedikit ataupun banyak langsung masuk ke tabungan mereka sehingga keengganan anggota yang mau menabung karena persoalan jumlah uang yang sedikit bukanlah masalah lagi.

Apalagi, Walaupun transaksi keuangan anggota keluar dan masuk , semuanya hanya memindah uang antar rekening anggota yang artinya adalah uang tersebut semuanya masih tetap dikoperasi.

Canggih, milenial, dan kooperatif itu kesan yang saya dapatkan dari Sakti Link yang akan dikembangkan juga di Lampung. Koperasi yang semula terkesan hanya untuk kumpulan orang tua ternyata sudah berubah. Apakah Anda siap dengan perubahan tersebut?.***

Penulis : Yohanes De Deo Widyastoko (Pengajar dan Pegiat Koperasi asal Lampung)

Editor  : Robert

231 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *