Rumpun Kemasyarakatan KWI Gelar Seminar di Bandar Lampung

Peserta seminar sehari Mewujudkan Pemilu 2019 yang Berkualitas dengan tema “Meningkatkan Hubungan Antar Umat Beragama” di Wisma St. Albertus Bandar Lampung, Sabtu, 15 Desember 2018. Foto : Robert/Radio Suara Wajar Bandar Lampung.

Peserta seminar sehari Mewujudkan Pemilu 2019 yang Berkualitas dengan tema “Meningkatkan Hubungan Antar Umat Beragama” di Wisma St. Albertus Bandar Lampung, Sabtu, 15 Desember 2018. Foto : Robert/Radio Suara Wajar Bandar Lampung.

BANDAR LAMPUNG, SUARAWAJARFM.com — Rumpun Kemasyarakatan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) gelar seminar bertema “Meningkatkan Hubungan Antar Umat Beragama, di Wisma Albertus, Pahoman, Bandar Lampung, Sabtu, 15 Desember 2018.

Rumpun Kemasyarakatan terdiri dari Komisi Kerasulan Awam (Kerawam), Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE), Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KP-PMP), Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAAK) dan Sekretariat  Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP).

Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI RD Paulus Christian Siswantoko mengatakan Gereja Katolik Indonesia sebagai bagian dari sejarah dan kehidupan bangsa dipanggil untuk terlibat dalam pemilu 2019 dan bersama dengan lembaga agama yang lain turut mewujudkan  pesta demokrasi yang berkualitas.

“Hal ini penting, karena ke depan itu suhu politik akan semakin naik, dan itu rawan dengan kekerasan, perbedaan pendapat dan perpecahan. Apalagi sekarang kan masih kuat kampanye-kampanye yang berpotensi memecah belah. Nah ini perlu kita antisipasi,” kata Romo Siswantoko.

Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI ini mengajak umat Katolik serta umat beragama dan berkepercayaan untuk ikut menciptakan pemilu yang damai.

“Kalau kita diam, maka ini akan terus menjadi bencana bagi demokrasi di negara ini. maka meski kita umat Katolik sedikit, tetapi harus bersuara dan telibat untuk membuat pemilu ini damai. Dengan damai itu semua orang bisa memberikan suaranya secara baik. Tidak takut, tidak dengan intimidasi, bisa menjadi pemilih secara bebas dan bertanggung jawab,” katanya.

Seminar ini menurut Romo Siswantoko juga untuk meningkatkan dialog dan kerjasama antar umat beragama dan berkepercayaan.

“Dalam konteks bangsa Indonesia yang majemuk, termasuk dalam hal agama, kerjasama antar agama dan kepercayaan menjadi sangat penting,” tutupnya.

Pada kesempatan itu, Dekan Febi UIN Raden Intan Lampung, Dr. Moh. Bahruddin yang diundang sebagai salah satu pembicara pada seminar tersebut, menyerukan pada tokoh agama untuk tidak diam menghadapi pemilu 2019. “Harus punya andil, punya peran dan kontribusi untuk mewujudkan pemilu yang damai,” kata Ketua Forum Kerja Lintas Agama (FKLA) Provinsi Lampung ini.

Hal kedua yang disampaikan Kiai Bahruddin, mengajak tokoh agama untuk memberikan kontribusi nyata dengan memberikan pencerahan terkait dengan proses-proses demokrasi yang bermartabat, menyuarakan nilai-nilai etika dan moral dalam pemilu.

“Ketika ada hal-hal, dalam arti yang tidak pada on the track, itu juga harus memberikan nasihat bahwa itu tidak baik dalam perspektif norma-norma keagamaan tentunya,” kata Kiai Bahruddin.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam ini meminta para tokoh agama untuk tidak menjadikan agama sebagai isu-isu kapitalisasai dalam politik. “Sehingga jangan gunakan formalisasi simbol-simbol untuk bidang politik kepada jemaatnya atau umatnya, kiranya tokoh agama bisa menyerukan hal itu,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu peserta seminar Falentinus Andi menekankan pentingnya dialog dan kerjasama antar agama dan kepercayaan.

“Lebih-lebih ketika beberapa tahun terakhir ini agama sering dipolitisasi dan dijadikan alat atau instrumen untuk mencapai kepentingan poilitik tertentu  yang berdampak pada terkoyaknya kerukunan antar umat beragama,” kata Falen yang merupakan calon anggota DPRD Dapil I (Kecamatan Gedong Tataan) Kabupaten Pesawaran ini.***

Editor : Robert

 

205 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *