Berikut Pencapaian Target Universal Akses Sanitasi di Provinsi Lampung

Direktur Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) Febrilia Ekawati.

Direktur Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) Febrilia Ekawati.

BANDAR LAMPUNG, SUARAWAJARFM.com — Per 2030 dalam Milestone Sustainable Development Goals (SDGs) setiap negara mampu mewujudkan 100 % akses air dan sanitasi higienis penduduknya  yang tercantum pada tujuan 6 SDGs.Indonesia meletakan target pencapaian lebih awal yaitu akhir tahun 2019, yang diamanatkan dalam RPJMN 2015-2019.

Namun, fakta yang ada saat ini, berdasarkan data riset kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun 2018 sebanyak 31 juta penduduk Indonesia belum memiliki akses sanitasi sehat. Buruknya kondisi sanitasi merupakan salah satu penyebab kematian anak di bawah 3 tahun yaitu sebesar 19% atau sekitar 100.000 anak meninggal karena diare setiap tahunnya dan kerugian ekonomi diperkirakan sebesar 2,3% dari Produk Domestik Bruto (studi World Bank, 2007).

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, penanganan masalah sanitasi merupakan kewenangan daerah. Pembangunan sanitasi dapat menjadi salah satu prioritas pembangunan di daerah. Namun pada kenyataannya belum semua kabupaten/kota menjadikan pembangunan sanitasi sebagai salah satu prioritas pembangunan. Hal tersebut mengakibatkan pengelolaan sampah rumah tangga, air limbah domestik, drainase lingkungan dan lain-lain tidak terkelola dengan baik dan berdampak kepada kualitas kesehatan yang memburuk, degradasi lingkungan dan tercemarnya sumber daya air.

1,3 Juta Penduduk Lampung Belum Akses Sanitasi Sehat

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang selanjutnya disebut sebagai STBM adalah pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Melalui STBM yang dijalankan oleh pemerintah pusat juga telah dijalankan oleh seluruh daerah dari tingkat provinsi, kabupaten hingga desa /kelurahan.

Provinsi Lampung yang terdiri dari 15 kabupaten/kota telah menjalankan program STBM.Saat ini total akses sanitasi mencapai 84,75%  (data Smart STBM November 2018). Dari 1.926.840 KK, 228 Kecamatan dan 2643 Desa/Kelurahan, masih tersisa 15,25%.

Plt. Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Lampung, Ir. Taufik Hidayat, M.M. MEP mewakili Gubernur Lampung dalam kata sambutanya pada pembukaan kegiatan Learning Event Percepatan Target Universal Akses Bidang Sanitasi menyampaikan bahwa penduduk Provinsi Lampung tahun 2018 dari data BPS sejumlah 9,2 juta jiwa. Ada sekitar 1,3 juta penduduk Lampung  belum mengakses sanitasi sehat, dan masih berprilaku BABS tersebar di 14 kabupaten/kota di Lampung.

“Dari 15 kabupaten/kota, wilayah dengan akses sanitasi terendah terdapat di kabupaten Tulang Bawang Barat (55,11 %), Mesuji (72,83 %), Pesawaran (81,99 %), dan Lampung Timur (82.03 %). Dari15 kabupatenn/kota baru satu kabupaten yaitu Kabupaten Pringsewu yang telah mencapai 100% Akses sanitasi pada tahun 2017,” ungkap Taufik.

Persolana sanitasi di Provinsi Lampung masih menjadi tugas berat kita bersama. Keterbatas regulasi, anggaran dan kelembagaan yang menggerakan program sanitasi menjadi faktor belum tercapainya target universal akses. Namun demikian, masih ada sisa waktu untuk mengejar pencapaian target 100% akses sanitasi hingga 2019.

“Kabupaten Pringsewu patut dijadikan pembelajaran untuk pencapaian universal akses, komitmen kepala daerah dalam hal ini Bupati dan wakil dengan didukung parapihak menjadi kunci sukses Pringsewu menjadi kabupaten yang berhasil mencapai 100% akses sanitasi, semoga strategi yang dikembangkan oleh Pringsewu bisa diimplementasikan di kabupaten/kota lainnya,” imbuh Taufik.

Learning Event Untuk Sanitasi

Untuk menentukan strategi dalam pencapaian universal akses perlu dilakukan-nya mapping permasalahan setiap kabupaten kota oleh setiap dinas-dinas terkait. Dan paling utama harus ada visi yang sama dari setiap instansi kabupaten untuk mencapai SDGs 100 % akses santasi. Selain itu juga harus ada upaya advokasi yang terus dilakukan untuk mengawal komitmen maupun program.

Direktur Eksekutif  YKWS, Febrilia Ekawati menyapaikan upaya advokasi untuk mendorong percepatan target universal akses air dan sanitasi higienis di Provinsi Lampung telah dilakukan oleh YKWS, Mitra Bentala dan SNV melalui Voice for Change Partership Programme sejak tahun 2016.

“Dalam rangak upaya advokasi pencapaian target 100 % universal akse air dan sanitasi higienis di Provinsi Lampung, diselenggarakan kegiatan Learning Event yang merupakan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Lampung, SNV, Yayasan Konservasi Way Seputih dan Mitra Bentala. Learning event menjadi wadah untuk 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung untuk saling bersinergi dan sharing strategi untuk pencapaian target 100 % universal akses sanitasi tahun 2019,” tutur Febri.

Kegiatan learning event akan diselenggarakan selama dua hari, Rabu hingga kamis (21-22/11). Peserta leaning event berasal dari Bappeda, Dinas Kesehatan dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Lampung dan dari 15 kabupaten/kota.

“Tujuan kegiatan learning event ini adalah untuk memetakan kemajuan, pencapaian, tantangan, dan faktor keberhasilan kabupaten/kota dalam pencapaian target universal akses sanitasi serta untuk menyusun rencana strategi pencapaian target yang harus didukung dengan komitmen seluruh parapihak khususnya kepala daerah, pada event ini kita juga mengundang Direktur AKKOPSI Nasional dan Bupati Pringsewu untuk berbagi strategi program sanitasi” imbuh Febri.

Peran AKKOPSI Percepat Pencapaian Sanitasi

Asosiasi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) menjadi salah satu organisasi yang memiliki peran besar dalam mempengaruhi seluruh kepala daerah untuk percepatan target universal akses air dan sanitasi higienis. Dari 514 kabupaten/kota di Indonesia ada 426 kepala daerah yang menjadi anggota AKKOPSI.

Direktur Eksekutif AKKOPSI Nasional Capt. Yosrizal Zain, M.M dalam pemaparannya, menyampaikan untuk terwujudnya target sebuah pembangunan ataupun program kuncinya ada pada kepala daerah. Gubernur, Bupati ataupun walikota adalah pemimpin yang bisa membawa perubahan kepada hal yang lebih baik. Keberhasilan untuk mencapai kondisi sanitasi yang lebih baik kuncinya ada pada kepala daerah.

“Memimpin itu salah satu bagian dari seni dan keahlian. Pemimpin yang bisa membawa perubahan selalu konsisten dalam komitmen. Yang dituangkan dalam visi dan misi. Komitmen kepala daerah itu bisa melalui regulasi, dukungan program, dan anggaran. Kepala daerah yang menjadi anggota AKKOPSI banyak yang telah menunjukan komitmennya untuk mencapai target universal akses bidang sanitasi seperti Bupati Pringsewu,” Ungkap Yosrizal , Walikota Payakumbuh periode 2002-2012.

Kabupaten Pringsewu yang telah berhasil dalam mencapai 100% akses sanitasi menjadi kabupaten untuk pembelajaran strategi pengembangan program sanitasi. Program jihad sanitasi yang dikembangkan oleh Bupati Pringsewu Hi. Sujadi Sadad telah memotivasi anggota AKKOPSI di Indonesia untuk mencapai target universal akses.

“ Jihad itu tidak harus dikonotasikan pada hal kekerasan atau bom-mengebom. Jihad bisa kita lakukan melalui hal-hal positif untuk pembangunan seperti perbaikan pada bidang sanitasi. Jihad sanitasi yang kami kembangkan di Pringsewu menjadi gerakan bersama seluruh parapihak sehingga Pringsewu bisa mencapai open defecation free (ODF). Sanitasi itu hal dasar yang pertama harus diselesaikan, meski tidak populer, namun membangun sanitasi lebih baik dampaknya sangat besar untuk kehidupan baik dari sisi kesehatan dan ekonomi,” ungkap Sujadi.***

Reporter : Robert

135 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *