Dinas Sosial Provinsi Lampung Inisiasi Program Sakti Peksos Goes to School

Dinas Sosial Provinsi Lampung Inisiasi Program Sakti Peksos Goes to School.

Dinas Sosial Provinsi Lampung Inisiasi Program Sakti Peksos Goes to School.

BANDAR  LAMPUNG, SUARAWAJARFM.com — Fenomena permasalahan sosial anak semakin meningkat. Salah satunya adalah anak yang berhadapan dengan hukum dan anak yang berkonflik dengan hukum. Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Sosial Provinsi Lampung, Sumarju Saeni, Jumat 26 Oktober 2018 di ruang kerjanya.

Mensikapi fenomena tersebut maka Dinas Sosial Provinsi Lampung melaksanakan kegiatan Sakti Peksos Goes to School yang dimulai tanggal  22 s/d 31 Oktober 2018, di 22 SLTP/sederajat dan SLTA/sederajat di kabupaten/kota se-Provinsi Lampung.

Selanjutnya Sumarju mengatakan, berdasarkan laporan Satuan Bhakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) pada bulan Januari sd Agustus 2018 telah melakukan pendampingan terhadap 277 anak yang bermasalah hukum.

“Dengan berbagai jenis kasus seperti pencabulan sebanyak 95 kasus (34%) pencurian sebanyak 72 (26%) dan perkosaan sebanyak 51 kasus (18%). Sedang lainnya seperti penganiayaan, perjudian, penelantaran 59 (22%),” katanya.

Sedangkan berdasarkan status hukumnya menurut Sumarju, antara lain anak sebagai korban sebanyak 151 (55%), anak sebagai pelaku 41 (15%), anak sebagai saksi sebanyak 63 (23%) dan anak yang berhadapan dengan hukum lainnya sebanyak 22 (8%).

Masih menurut Sumarju berdasarkan jenis kelamin hasil respon kasus terungkap sebanyak 117 (42%) anak laki-laki sedangkan perempuan sebanyak 160 (58%).

“Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan terungkap sebanyak 98 anak (35%) SLTA, 75 anak (27%) SLTP dan 42  anak (15%) SD, 21 anak (8%) belum sekolah serta PAUD/TK sebanyak 14 anak (5%). Sedang sisanya 27 anak (10%) yang belum pernah sekolah.” jelasnya.

Menurut Supervisor Sakti Peksos Provinsi Lampung, M.Khayuridlo mengatakan kegiatan Sakti Peksos Goes to School terutama ditujukan bagi anak Siswa SLTP dan SLTA yang termasuk dalam perkembangan usia anak remaja.

“Pada fase ini anak sedang mencari identitas dan mengeksplorasi sesuatu yang baru. Tingginya rasa keingintahuan mendorong mereka untuk mencari sumber informasi dari berbagai media termasuk media elektronik seperti internet/media sosial, handphone, televisi yang belum tentu tepat bagi mereka,” katanya.

Menurutnya, saat ini banyak anak yang addict dengan internet/media sosial. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu ada komunikasi, edukasi, informasi dan pendampingan agar anak terhindar dari perilaku yang menyimpang seperti : pornografi, penyimpangan perilaku seksual (LGBT), sex bebas, pengaruh paham radikalisme dan dampak negatif lainnya dari berbagai media.***

Reporter : Robert

82 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *