Yuli Nugrahani Wakili Indonesia Ikuti Konferensi Mengutuk Xenophobia di Roma

Yuli Nugrahani bersama Paus Fransiskus pada acara Konferensi Dunia tentang Xenophobia, Rasisme, dan Nasionalisme Populis dalam Konteks Migrasi Global, di Hotel Ergife Palace Roma pada 18-20 September 2018.

Yuli Nugrahani bersama Paus Fransiskus pada acara Konferensi Dunia tentang Xenophobia, Rasisme, dan Nasionalisme Populis dalam Konteks Migrasi Global, di Hotel Ergife Palace Roma pada 18-20 September 2018.

VATIKAN, SUARAWAJARFm.com – Anggota Badan Pengurus Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Yuli Nugrahani mengutuk xenofobia dan rasisme yang diarahkan pada pengungsi dan migran.

Xenofobia adalah ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain, atau yang dianggap asing.

Yuli Nugrahani menjadi peserta satu-satunya dari Indonesia yang diundang ke Konferensi Dunia tentang Xenophobia, Rasisme, dan Nasionalisme Populis dalam Konteks Migrasi Global, di Hotel Ergife Palace Roma pada 18-20 September 2018.

Pertemuan ini merupakan kerjasama Dicastery for Promoting Integral Human Development (Vatikan) dengan Badan Gereja-Gereja Dunia (Jenewa) dalam kolaborasi dengan Pontifical for Promoting Christian Unity (Vatikan).

Yuli Nugrahani yang juga Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan Tanjungkarang ini bergabung dengan 200 peserta lainnya dari berbagai negara di Dunia.

Menurut Yuli, acara dihadiri bukan hanya undangan dari Gereja Katolik tapi juga dari Gereja-gereja lain di dunia, perwakilan lintas agama, organisasi pemerintahan maupun kemasyarakatan dari berbagai negara.

Pertemuan ini menurut Yuli, merupakan kesadaran akan peningkatan xenofobia dan rasis reaksi terhadap pengungsi dan migran.

“Pada konferensi ini kami berusaha menggambarkan, menganalisis, memahami dan mengatasi pengecualian, marjinalisasi, stigmatisasi dan kriminalisasi migran dan pengungsi, dan pembenaran untuk sikap dan wacana yang sekarang ada di beberapa bagian dunia yang berbeda, bahkan di dalam gereja-gereja,” katanya kepada Radio Suara Wajar, Senin 01 Oktober 2018.

“Bersama para peserta lain dari berbagai negara kami sepakat meyakini bahwa semua manusia setara dalam martabat dan hak dan sama-sama harus dihormati dan dilindungi,” ungkap Yuli.

Konsekuensinya lanjut Yuli, kita dipanggil oleh Tuhan untuk melawan kejahatan, bertindak adil, dan mengejar perdamaian untuk mengubah dunia.

“Sementara kita mencari dan mempromosikan dialog untuk penyelesaian perbedaan pada setiap masalah yang diangkat dalam pesan ini, keyakinan inti ini bersifat tetap dan permanen,” imbuhnya.

Menurut mantan Redaktur Utama Majalah Nuntius ini, Gereja-gereja menjadi tempat kenangan, harapan, dan cinta.

“Dalam nama Yesus, yang membagikan pengalaman migran dan pengungsi dan menawarkan Firman pengharapan bagi yang dikecualikan dan penderitaan, kami bahkan berkomitmen lebih kuat untuk mempromosikan budaya perjumpaan dan dialog, mengenali Tuhan di wajah migran. Karena lebih kuat dari cara kematian adalah cara hidup dan cinta,” tutupnya.

Sementara itu, dalam pidato tertulisnyanya, Paus Fransiskus memperingatkan para pemimpin politik untuk tidak mengeksploitasi rasa takut sebagai cara untuk mendapatkan minat pemilih seperti yang sekarang ini sering terjadi dalam dunia politik.

Paus meminta semua orang yang bertanggung jawab untuk pembentukan orang-orang muda dan menggunakan media untuk mengembangkan budaya perjumpaan dan keterbukaan kepada orang lain, dalam suasana saling menghormati keragaman.***

Reporter : Robert

41 Total Views 3 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *