Renungan Jumat 21 September 2018

Ilustrasi Yesus dan muridnya. (Credits : FB Thomas Suratno)

Ilustrasi Yesus dan muridnya. (Credits : FB Thomas Suratno)

Pesta St. Matius, Rasul & Penulis Injil

INJIL: Mat 9:9-13

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

RENUNGAN:

Pada hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan Pesta St. Matius, Rasul. Matius lahir pada abad pertama. Ia dikenal sebagai salah seorang pemungut cukai dan merupakan salah satu dari keduabelas orang yang dipanggil Yesus untuk menjadi rasul. Ia juga dikenal dengan nama Lewi, anak. Matius menunjukkan semangat mengikuti Yesus dengan kerelaan menyambut Yesus di rumahnya sendiri. Pada saat itu banyak orang berdosa juga datang dan ikut makan bersama mereka. Hadiah besar yang dianugerahkan Yesus kepadanya adalah menulis Injil yang saat ini kita kenal sebagai Injil Matius.

St. Paulus menasihati agar setiap orang yang hidup sesuai kebajikan-kebajikan Tuhan dapat berusaha untuk memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera: satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, yang di atas semua, menyertai semua dan menjiwai semua. Kebajikan-kebajikan Kristus kalau di hayati dengan baik maka orang akan mewujudkan persekutuan dan persaudaraan sejati di dalam Kristus. Setiap orang yang dibaptis akan mewujudkan sakramen pembaptisannya di tengah dunia. Ia akan menjadi saksi Kristus yang mempersatukan semua orang dan bersama-sama berjalan menuju kepada Allah. Menurut Pulus, Tuhan Yesus juga memberi kasih karunia kepada setiap orang sesuai ukuranNya sendiri kepada setiap pribadi. Demikian juga akan terjadi pemberianNya kepada para rasul, nabi, pemberita Injil, gembala umat pengajar. Semua bentuk pengajaran yang diberikan dan yang diterima akan berguna bagi setiap pribadi menuju kepada kekudusan atau kepenuhan di dalam Kristus.

Di dalam Injil kita mendengar contoh konkret pribadi yang dipanggil Tuhan untuk mewujudkan iman, harapan dan kasihNya kepada Tuhan. Tuhan Yesus memanggil Matius ketika ia masih duduk di rumah cukai. Ia sedang menikmati pekerjaannya meskipun pekerjaan semacam itu gelap di mata orang-orang Yahudi. Para pemungut cukai disamakan dengan kaum pendosa karena mereka adalah orang Yahudi yang bekerja untuk bangsa Romawi yang saat itu masih menjajah Israel. Mereka boleh digolongkan pengkhianat bagi bangsa dan negara. Para pemungut cukai juga dinilai negatif karena kadang-kadang mereka menagih pajak melebihi jumlah yang harus ditagih. Kelebihannya itu kadang-kadang dipakai untuk dirinya sendiri.

Kaum Farisi dan para ahli Taurat boleh menolak para pemungut cukai, tetapi Yesus leluasa bergaul dengan mereka. Ia menerima mereka apa adanya, mengampuni dosa-dosa mereka, duduk dan makan bersama penuh persaudaraan dengan mereka. Yesus memiliki prinsip yang bagus yakni mencari orang berdosa untuk diselamatkan. Memang, “Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, melainkan orang sakit.” Sebagai Tuhan, Ia menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan! Ia tidak memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. Apakah anda dan saya merasakan belas kasihan Tuhan dalam sakramen Tobat? Apakah anda menikmati perubahan menjadi lebih baik lagi dalam hidupmu di hadirat Tuhan? Hiduplah sepadan dengan panggilanmu!

DOA:

“Ya Tuhan Yesus Kristus, SabdaMu memiliki daya pengampunan. Ampunilah dosa dan salah yang sudah aku perbuat ya Tuhan. Aku ingin tetap mengikuti-Mu dan mewartakan karya penyelamatan-Mu seperti yang tertulis dalam Injil. Amen.”***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

29 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *