Renungan Harian Jumat 14 September 2018

salib-suci

Salib Suci. Credits : Facebook Thomas Suratno

Pesta Salib Suci

INJIL: Yoh 3:13-17

Dalam percakapannya dengan Nikodemus, Yesus berkata:”Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainan memperoleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.”

RENUNGAN:

Pesta Salib Suci dirayakan pada tanggal 14 September dan mengingatkan umat akan tiga peristiwa bersejarah: penemuan Salib Sejati (salib Kristus yang asli) oleh St. Helena, ibu dari Kaisar Konstantinus; pemberkatan gereja-gereja yang dibangun oleh Konstantinus di situs Makam Suci dan di Gunung Kalvari; kemudian pengembalian Salib Sejati ke Yerusalem oleh kaisar Heraklius II. Namun dalam arti yang lebih mendalam, pesta ini juga merayakan Salib Suci sebagai instrumen keselamatan kita. Instrumen penyiksaan yang dirancang untuk mempermalukan para penjahat, menjadi pohon kehidupan yang menebus dosa asal manusia pertama Adam dan Hawa.

Paus Bendiktus XVI dalam bukunya The Spirit of Liturgy (San Francisco, Ignatius, 2000, hal 177) mengatakan bahwa tata gerak yang paling mendasar di dalam doa katolik adalah Tanda salib dan akan selalu demikian. Perkataan ini memang benar karena Tanda Salib adalah doa kristiani yang paling lazim dan sudah ada sejak gereja didirikan. St. Paulus dalam surat-suratnya banyak menulis tentang salib. Ia misalnya menulis: “Aku sekali-kali tidak bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (Gal 6:14).

Tertullianus adalah seorang Bapa Gereja yang dalam tulisannya mengungkapkan imannya kepada Kristus tersalib: “Dalam semua gerak dan perjalanan kami, dalam semua kedatangan dan keberangkatan kami, ketika kami mengenakan sepatu, ketika kami mau mandi, ketika kami duduk di meja makan, ketika kami menyalahkan lilin, ketika kami berbaring dan mau tidur, ketika duduk, apa pun juga kesibukan yang sedang kami lakukan, kami menandai dahi dengan tanda salib.” (Tertullianus, The Chaplet, 3). Ia sendiri memuji istrinya karena ia membuat tanda salib pada tubuhnya dan pada tempat tidur sebelum ia beristirahat pada malam hari. (Tertullianus, The Chaplet, 2.5).

Kisah-kisah tentang Salib dari zaman dulu hingga sekarang ini mengatakan satu kata yang penting yakni cinta kasih. Allah begitu mengasihi dunia sehingga Ia merelakan Yesus Kristus PuteraNya sebagai Penebus dosa kita. Dalam pembicaraan dengan Nikodemus pada malam hari, Yesus berkata kepadanya: Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain Dia yang telah turun dari surga yakni Anak Manusia. Dalam dunia Perjanjian Lama, Musa telah meninggikan ular di padang gurun sehingga orang Israel yang memandang ular yang ditinggikan itu memperoleh hidup kehidupan kekal. Yesus datang, memikul salib supaya kita bisa diselamatkan. Anak manusia ditinggikan menjadi syarat bagi kita semua memandang salib dan memuliakanNya.

Salib akhirnya menjadi symbol kasih yang dinyatakan oleh Yesus Kristus Tuhan kita. Dari sini kita bias mengerti bahwa “Simbol kasih bukanlah hati melainkan salib. Hati bisa berhenti detakannya tetapi Manusia tersalib yakni Yesus dari Nazaret tidak akan berhenti mengasihi anda dan saya.” St. Paulus memahami misteri salib ini dengan memandang Yesus sendiri. Dari Yesus, ia mendapati kepenuhan hidupnya. Apa kata St. Paulus untuk meneguhkan kita semua? Sambil memandang Yesus tersalib, ia kelihatan mengajak kita untuk masuk dalam permenungan ini: “Yesus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:6-11).

Pada hari ini kita semua diteguhkan untuk memandang salib sebagai tanda kasih sejati. Dari salib itu mengalir kasih Tuhan yang tiada batasnya di dalam diri Yesus satu-satunya Penebus kita. Ia sudah memberi diriNya secara total untuk kita. Salib sebagai kayu yang kasar sudah menjadi altar keselamatan bagi kita. Saudara-saudari yang terkasih, mari kita mengakhiri permenungan kita hari ini dengan membuat tanda salib tanda kasih sejati dan kemenangan Kristus yang dianugerahkan kepada kita “dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus. Amin.”

————————————

Sejarah Singkat:

Pesta Salib Suci dirayakan pada tanggal 14 September dan mengingatkan umat akan tiga peristiwa bersejarah: penemuan Salib Sejati (salib Kristus yang asli) oleh St. Helena, ibu dari Kaisar Konstantinus; pemberkatan gereja-gereja yang dibangun oleh Konstantinus di situs Makam Suci dan di Gunung Kalvari; kemudian pengembalian Salib Sejati ke Yerusalem oleh kaisar Heraklius II. Namun dalam arti yang lebih mendalam, pesta ini juga merayakan Salib Suci sebagai instrumen keselamatan kita. Instrumen penyiksaan yang dirancang untuk mempermalukan para penjahat, menjadi pohon kehidupan yang menebus dosa asal manusia pertama Adam dan Hawa.

Setelah wafat dan kebangkitan Kristus, baik penguasa Yahudi maupun Romawi di Yerusalem melakukan upaya untuk “mengaburkan” Makam Suci, makam Kristus di taman dekat lokasi penyaliban-Nya. Situs itu diurug dan kuil-kuil kafir dibangun di atasnya. Menurut tradisi, salib Kristus disembunyikan oleh penguasa Yahudi di suatu tempat di sekitar tempat penyaliban Kristus.

Pada tahun 348 M untuk pertama kalinya St. Sirilus dari Yerusalem mencatat bahwa St. Helena, menjelang akhir hidupnya dan di bawah inspirasi ilahi, memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Yerusalem pada tahun 326 M untuk menggali Makam Suci dan berupaya untuk menemukan Salib Sejati. Seorang Yahudi bernama Yudas, yang mengetahui cerita mengenai tempat penyembunyian salib Kristus, berhasil membawa para penggali Makam Suci ke tempat di mana Salib Sejati disembunyikan.

Tiga buah salib ditemukan di tempat itu. Menurut salah satu tradisi, prasasti Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum (Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi) tetap melekat pada Salib Sejati. Namun menurut tradisi lain yang lebih umum, prasasti itu hilang, sehingga St. Helena dan St. Makarius, uskup Yerusalem, merancang percobaan untuk menentukan salib mana yang merupakan Salib Sejati. Ketiga salib dibawa kepada seorang wanita yang hampir mati. Ketika wanita itu menyentuh Salib Sejati, dia pun sembuh. Menurut versi tradisi lain, tubuh seorang yang sudah mati diletakkan pada setiap salib dan hanya Salib Sejati yang mampu memulihkan kehidupan orang mati itu.

Dalam rangka merayakan penemuan Salib Sejati, Konstantinus memerintahkan pembangunan gereja-gereja di lokasi Makam Suci dan di Gunung Kalvari. Gereja-gereja yang diberkati pada tanggal 13 dan 14 September 335, dan tidak lama kemudian Pesta Salib Suci mulai dirayakan pada tanggal 14 September. Perayaan pesta ini perlahan menyebar dari Yerusalem ke gereja-gereja lain, dan pada tahun 720 perayaan itu menjadi universal.

Pada awal abad ketujuh Persia menaklukkan Yerusalem, dan Raja Persia Khosrau II merebut Salib Sejati dan membawanya ke Persia. Kaisar Heraklius berhasil mengalahkan Khosrau dan merebut kembali Salib Sejati pada tahun 628. Pada tahun 629 Heraklius memutuskan untuk mengembalikan Salib Sejati ke Yerusalem. Tradisi menceritakan bahwa ia memanggul salib di punggungnya sendiri. Ketika ia mencoba untuk memasuki gereja di Gunung Kalvari, ada kekuatan aneh yang menghentikannya. Patriarkh Zacharias dari Yerusalem melihat perjuangan sang Kaisar dan menyarankan agar dia melepaskan jubah kerajaan dan mahkota serta memakai jubah pertobatan sebagai gantinya. Begitu Heraklius mengikuti saran Zacharias, ia mampu membawa masuk Salib Sejati ke dalam gereja.***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

25 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *