Renungan Harian Senin 10 September 2018

Ilustrasi Yesus. Credits : Google

Ilustrasi Yesus. Credits : Google

Pekan Biasa XXIII

INJIL: Luk 6:6-11

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Maka bangunlah orang itu dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

RENUNGAN:

Di dalam suratnya kepada jemaat Kolose (Kol 1:24-2:3) ketika Paulus dipenjara dan dalam penderitaannya, dia mengatakan bahwa Tuhan sudah mempercayakan kepadanya tugas untuk melayani jemaat. Tugas perutusan yang dipercayakan Tuhan itu diteruskan kepada jemaat di Kolose dan Laodikia supaya mereka juga saling melayani sebagai wujud kepenuhan Sabda Allah. Dengan saling melayani ini mereka juga dapat mengungkapkan rahasia yang tersembunyi beradab-abad dan turun-temurun yakni Yesus Kristus Putra Allah. Dialah yang sekarang berada di tengah-tengah jemaat dan sedang dilayani oleh Paulus bahkan ia merelakan dirinya masuk ke dalam penjara. Pengalaman Paulus menjadi pengalaman Gereja sepanjang zaman. Setiap orang yang dibaptis memiliki panggilan luhur untuk mewartakan Injil dengan segala konsekuensi yang harus dialami terutama menderita demi Kristus. Untuk itulah orang harus memiliki iman yang kuat.

Penderitaan di dalam hidup sebagaimana yang dialami oleh Paulus menjadi pedoman bagi orang-orang yang mengikuti Yesus dari dekat. Orang yang mengimani Yesus memiliki suka dan dukanya tersendiri. Namun demikian seharusnya ada kesadaran bahwa sebagai orang beriman berarti sebagai pembawa kasih kepada sesama manusia yang lain. Kita membawa Kristus yang tersembunyi berabad-abad kepada sesama supaya mereka juga mengenal dan mengasihiNya. Apakah kita bersedia menderita demi Kristus?

Cinta kasih kepada Kristus hendaknya menjadi lengkap dalam cinta kepada sesama. Ada sebuah kesadaran bahwa setiap hari kita memiliki panggilan untuk berbuat baik kepada sesama. Yesus dalam Injil hari ini melakukan perbuatan baik dengan menyembuhkan orang yang sakit pada hari Sabat. Namun demikian kaum Farisi dan para ahli Taurat mempersalahkan Yesus karena melakukan pekerjaan pada hari Sabat. Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat maka Ia pun melakukan perbuatan baik dengan menyembuhkan orang yang sakit. Banyak kali perbuatan-perbuatan baik itu terancam musnah karena sikap legalistis manusia. Orang seharusnya memperjuangkan kebaikan, harkat dan martabat serta kehidupan manusia bukan hukum yang meniadakan manusia sebagai manusia.

Mukjizat yang dilakukan Yesus pada hari Sabat ini mau menegaskan nilai tertinggi dari hukum cinta kasih. Kita semua diajak untuk mengasihi Tuhan lebih dari segala yang ada di sekitar kita dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Hidup Kristiani akan menjadi lebih bermakna ketika kita menjadi semakin serupa dengan Yesus yang mengasihi tanpa batas. Namun demikian ketika kita semakin dekat dengan Yesus, gelombang penderitaan pun akan datang bertubi-tubi. Apakah kita dapat bertahan dalam penderitaan? Kita dapat bertahan hanya kalau kita mengimaniNya dan kita mau menyerupai Paulus yang berprinsip melengkapi penderitaan Kristus yang masih kurang di dalam Gereja. Paulus berbahagia dalam pederitaan karena Kristus. Kristus bersukacita karena menderita bagi kita semua. Bagaimana dengan anda dan saya menghadapi penderitaan di dalam diri sendiri? Apakah anda dan saya tetap bertahan dan setia kepada Yesus?

Doa:

“Ya Tuhan, bantulah aku untuk bertumbuh dalam iman dan bertahan dalam penderitaan karena cinta kepadaMu selamanya. Terpujilah Engkau kini dan sepanjang segala masa. Amin.”

Ya Tuhan, ajarilah kami untuk senantiasa mampu menghargai sesama kami. Bantulah kami agar kami mempunyai cara pandang yang menghargai martabat sesama kami. Semoga kami tidak mudah menyingkirkan orang lain karena situasi hidup kami. Bantulah kami agar kami mampu bertindak, berpikir, dan merasa seperti yang Engkau lakukan. Amin.***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

41 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *