Renungan Harian, Rabu, 22 Agustus 2018

Ilustrasi. (Credits : Facebook Thomas Suratno)

Ilustrasi. (Credits : Facebook Thomas Suratno)

PW St. Perawan Maria, Ratu.

INJIL: Mat 20, 1-16

“Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

RENUNGAN:

Injil yang kita renungkan bersama pada kesempatan ini berbicara tentang para pekerja yang diundang pemilik kebun anggur untuk bekerja di kebun anggurnya. Kalau kita berpikir secara manusiawi dan kita kaitkan dengan aturan tentang ketenagakerjaan maka wajarlah bila para pekerja protes. Tapi bukan maksud ini perumpamaan ini mau disampaikan buat kita. Lantas apa yang mau digarisbawahi dalam perumpamaan ini?

Allah adalah Tuan rumah agung yang memiliki kita dan yang kita layani. Sebagai tuan rumah, Dia mempunyai pekerjaan yang harus dilakukan dan para pelayan yang harus melaksanakannya. Allah mengupah para pekerja, bukan karena Ia membutuhkan mereka atau tenaga mereka, melainkan seperti tuan rumah yang murah hati Ia mempekerjakan orang karena ingin berbuat baik kepada mereka. Oleh karena itu Ia mengupah mereka untuk pekerjaan yang sebenarnya mereka lakukan bagi diri mereka sendiri.

Yang digarisbawahi dalam perumpamaan ini adalah Allah yang murah hati dan yang Maha Baik. Sangat sering kita berpikir bahwa kita menerima terlampau sedikit anugerah Allah, sedangkan orang lain menerima terlampau banyak. Juga bahwa kita melakukan terlampau banyak pekerjaan Allah, dan orang lain terlampau sedikit. Besar kemungkinan kita semua menilai rendah orang lain dan menilai tinggi diri sendiri. Sungguh sulit bagi orang-orang yang bekerja atau menderita bagi Allah lebih banyak daripada orang lain, untuk tidak meninggikan diri dan mengharapkan pujian atas jasa mereka. Mereka protes dan sakit hati. Ungkapan sakit hati itu dalam perumpamaan tadi dijelaskan dengan tiga hal ini.

Yang pertama, bahwa orang yang bersungut-sungut itu sama sekali tidak punya alasan untuk mengeluh bahwa ia diperlakukan tidak benar. Di sini tuan itu menegaskan sikap adilnya: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Tuan itu memanggilnya saudara, sebab saat bermusyawarah dengan orang lain, kita harus menggunakan kata-kata lembut, namun tegas, jika bawahan kita suka mengeluh dan menantang. Bagaimanapun, janganlah kita berkata-kata dengan kasar kepada mereka, tetapi dengan tenang. Yang kedua, tidak perlu diragukan lagi bahwa Allah tidak mungkin keliru. Ini adalah hak istimewa Raja di atas segala raja. Tidak adilkah Allah? Lalu yang ketiga, jika Allah mencurahkan anugerah kepada orang lain dan bukan kepada kita, ini adalah kebaikan yang diberikan kepada mereka, tetapi bukan ketidakadilan terhadap kita. Kelimpahan kepada orang lain itu bukan berarti ketidakadilan bagi kita. Jadi, janganlah kita mencari-cari kesalahan dalam hal ini. Kita perlu membiarkan diri untuk “diperlakukan” sesuka hati Allah, seperti alat tulis biarlah Allah bebas menggerakkan kita. Pasti yang akan dihasilkan adalah sebuah lukisan yang indah. Rencana Tuhan selalu indah pada waktunya.

DOA:

“Ya Tuhan Allah, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau selalu memperhatikan dan bersikap adil terhadap aku. Terpujilah nama-Mu kini dan sepanjang segala masa. Amin.”***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

148 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *