Jomblo Bahagia

Ilustrasi jomblo. Credit : pexels.com

Ilustrasi jomblo. Credit : pexels.com

Oleh : RD. Apolonius Basuki

Saya sering bertemu entah pria atau wanita yang sudah berumur tetapi belum menikah.  Mereka tekun beribadah, ekonomi mapan,  rupawan dan hidup sosialnya baik. Ketika ditanya mengapa belum menikah?. Jawabannya ingin menjadi jomblo bahagia sekaligus Jomblo abadi. Kata beberapa orang, mereka yang tidak menikah mempunyai  sifat lebih egois dan keras kepala. Misalnya  pastor, suster, juga yang menamakan diri jomblo bahagia. Tetapi menurut saya, orang yang menikah pun banyak yang lebih egois dan keras kepala sampai pasangan hidupnya sangat menderita. Maka semuanya tergantung pada pribadi masing – masing.

Kita dipanggil menjadi orang beriman yang baik dan rendah hati, entah menikah ataupun tidak. Semua orang beriman kristiani mempunyai hak  atas kebebasan dari segala paksaan dalam memilih status kehidupan (Kan.219). Termasuk memilih menikah atau jomblo bahagia, memilih menjadi biarawan–biarawati atau tidak, memilih menjadi imam atau pun tidak. Sebab pilihan hidup atau tindakan yang dipaksakan tidak sesuai dengan kodrat manusia dan melanggar hukum.

Tindakan yang dilakukan karena paksaan dari luar yang dikenakan pada orang yang sama sekali tidak dapat dilawannya dianggap tidak ada. Juga tindakan yang dilakukan karena ketakutan yang berat dan yang dikenakan secara tidak adil, atau pun karena tipu muslihat tindakan tersebut bisa dibatalkan melalui putusan hakim, entah atas permohonan pihak yang dirugikan atau para penggantinya menurut hukum, entah atas dasar jabatan (Lih. Kan. 125).

Gereja memahami dan menghayati kesamaan hakiki antara semua orang atas pilihan hidupnya, berbagai jenis diskriminasi manusia, bertentangan dengan maksud Allah. Misalnya seorang wanita tidak diakui wewenangnya untuk dengan bebas memilih suaminya dan menempuh status hidupnya, atau untuk menempuh Pendidikan dan meraih kebudayaan yang sama seperti kaum laki – laki (Lih. Gaudium Et Spes, No. 29).

Banyak orang yang tidak menikah, hidupnya tidak hanya dipersembahkan bagi keluarga asal mereka, tetapi juga mereka sering memberi pelayanan besar bagi masyarakat sesuai dengan profesi mereka. Namun, kehadiran dan sumbangan mereka acapkali diabaikan, dan hal ini menimbulkan rasa terasing. Di antara mereka tidak jarang ditemukan motivasi mulia yang membuat mereka memiliki komitmen sepenuhnya dalam karya sosial, seni, ilmu pengetahuan, dan budaya.

Kemudian, banyak di antara mereka yang tidak menikah menyumbangkan bakat mereka untuk melayani komunitas kristiani melalui kegiatan amal kasih dan kerja sukarela. Ada juga orang – orang yang tidak menikah karena mereka mengabdikan hidup mereka kepada kasih Kristus dan sesama. Dedikasi mereka sangat memperkarya keluarga, Gereja, dan masyarakat. Dengan demikian mereka disebut jomblo bahagia yang tidak menikah atas kemauannya sendiri demi Kerajaan Allah (lih. Mat 19:12). Meskipun mereka bukan pastor ataupun biarawan-biarawati.***

Reporter : Robert

 

91 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *