Membangun Kesadaran Nasionalisme

RD Yohanes Kurniawan Jati. Credits : Pribadi

RD Yohanes Kurniawan Jati. Credits : Pribadi

Oleh : RD. Y. Kurniawan Jati

Koordinator Komisi H.A.A.K Bidang Politik, Ormas dan Mahasiswa Keuskupan Tanjungkarang

“NKRI Harga Mati!” Demikian kata-kata ini bergaung akhir tahun 2017 menyikapi situasi politik dan ancaman disintegritas bangsa Indonesia. Sudah 72 tahun Indonesia merdeka, toh pada kenyataannya bentuk negara kesatuan masih harus diperjuangkan dan dibela demi keutuhan bangsa dan negara.

Kunci kesatuan nasional adalah integrasi seluruh warga bangsa Indonesia. Integrasi nasional menjadi sebuah kebutuhan dari tegak berdirinyakehormatan, martabat dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Proses integrasi nasional belum berakhir dalamkaitannya dengan NKRI sebagai negara bangsa atau nation state.

Dalam pidato 1 Juni 1945 (lahirnya Pancasila), Ir. Soekarno mengutip pendapat Otto Bauerdalam Buku “Die Nationalitätenfrage” yang berpendapat bahwa bangsaadalah satu persamaan, suatu persatuan karakter, watak yang tumbuh dan lahir karenakesamaan pengalaman. Para pendiri bangsa menyadari bahwa mereka memiliki satu perasaan, karakter, watak, dan pengalaman sebagai sebuah bangsa yang ingin lepas dari penjajahan.

Selain itu, Ir. Soekarno masih menekankan kesatuan bangsa yang menghuni kepulauan nusantara. Cita-cita kemerdekaan menjadikan para pendiri bangsa mampu mengintegrasikan seluruh masyarakat nusantara yang plural.

Dalam pidato Soekarno tersebut, ia menegaskan bahwa Negara Indonesia Merdeka hendak didirikan bukan untuk orang tertentu atau golongan tertentu, bukan untuk golongan bangsawan atau kaum Islam, namun mendirikan satu negara, semua untuk semua yang disebutkan negara kebangsaan.

Dengan jiwa besar golongan mayoritas (Islam dan Jawa), kesepakatan akhirnya terwujud untuk membentuk kesatuan dalam keragaman yang ada. Dengan demikian konsepsi nation yang digunakan oleh founding Parent kita adalahsuatu entitas politik yang terdiri dari warga negara yang berbedalatar belakang ras, etnik, agama, budaya, golongan, namun punya kehendakyang kuat untuk bersatu dibawah payung negara nasional dan didalam suatu wilayah yangjelas batas-batasnya.

Proses integrasi nasional perlu didukung oleh ideologi nasionalisme. Dalam suatu bangsayang masyarakatnya secara sosio-kultural majemuk seperti Indonesia, ideologi nasionalismeperlu memberikan jawaban ideologis serta arahan terhadap strategi yang akan dianut dalamintegrasi nasional.Nasionalisme merupakan suatu ideologi yang memiliki kekuatan pengaruhyang menggerakkkan perasaan menjadi bagian dari sesuatu dan berfungsi membangunperasaan bagi satu komunitas nasional. Nasionalisme adalah paham nation atau pahamkebangsaan.

Sesungguhnya nasionalisme di bumi Nusantara telah mengembrio sejak Boedi Utomotahun 1908, lalu menemukan prinsip-prinsipnya pada Soempah Pemoeda 1928 danterkristalisasi dalam cita-cita konkrit menuju Indonesia merdeka, serta menemukan puncaknyapada proklamasi 17 Agustus 1945 yang melahirkan cita-cita nasional.Sejarah mencatat bahwa nasionalisme Indonesia mengalami pasang surut serta tiada hentimenghadapi berbagai tantangan dan ancaman diera Orde Lama, Orde Baru dan EraReformasi saat ini. Ancaman latennya adalah mengarah kepada disintegrasi bangsa.

Nasionalisme merupakanpengikat jiwa untuk bisa tetap hidup bersama,berdampingan sekalipun beragam etnis, agama, golongan, keturunan dan keberagamanlainnya. Nasionalisme adalah pengikat jiwa yang tidak memberi peluang kesenjangan mewarnai kehidupankebangsaan.Kesenjangan itu, tidak saja berkaitan dengan kemiskinan, juga kesenjangan-kesenjanganlainnya,seperti kesenjangan hak, kesenjangan memperoleh keadilan dan perlakuanhukum, yang justru menjadi sumbu kering pemicu dan pemacu letupan serta ledakan konfliksosial antarkomponen bangsa. Terlebih-lebih kesenjangan itu lahir karena maraknya intervensifaktor eksternal globalisasi yang mengabaikan nilai-nilai lokal internal.

Sejarah terbentuknya negara dan bangsa Indonesia tidak terlepas dari keberadaan BPUPK (Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan). BPUPK semula hanya Jawa-Madura yang kemudian berkembang menjadi cerminan seluruh Nusantara.Jumlah keanggotaan BPUPK (termasuk 1 orang Ketua dan 2orang  Wakil Ketua)semula 63 orang, kemudian bertambah menjadi 69 orang. Diantara 69 orang ini, terselip satuorang Jepang (Itibangase Yosio), yang menjadisalah seorang Wakil Ketua.Meskipunmerupakan BPUPK Jawa-Madura, namunkarena Pulau Jawa merupakan pusat pergerakan dantempat tinggal parapemimpin politik dari berbagai pulau di Tanah Air, maka keanggotaannyamencerminkan keragaman asal-usul etnis dan agama.

Keanggotaan BPUPK Jawa-Madurabisa diklasifikasikan ke dalam lima golongan: golongan pergerakan (lintasetnis danagama), golongan Islam, golongan birokrat (kepala jawatan), wakilkerajaan (kooti), pangrehpraja (residen/wakil residen, bupati, wali kota), dangolongan peranakan: peranakan Tionghoa (4 orang), peranakan Arab (1 orang), danperanakan Belanda (1 orang). Tidak semua anggota BPUPK ini terdiri dari kaum pria,karena ada 2 orang perempuan (Ny. Maria Ulfa Santoso danNy. R.S.S. SoenarjoMangoenpoespito).

Tugas BPUPK hanyalah sampai pada penyelidikan usaha kemerdekaan, sedangkan rancangan dan penetapan UUD berada pada kewenangan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Keanggotaan awal PPKI terdiri dari: Soekarno, Mohammad Hatta, Soepomo, Radjiman Wediodiningrat, R.P. Soeroso, Soetardjo Kartohadikoesoemo, K.H. Abdoel Wachid Hasjim, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Otto Iskandar Dinata, Abdoel Kadir, Pangeran Soerjohamidjojo, Pangeran Poerbojo (perwakilan Pulau Jawa), Yap Tjwan Bing (perwakilan etnis Tionghoa), Mohammad Amir, Abdul Maghfar, Teuku Mohammad Hasan (perwakilan Sumatera), A.A. Hamidhan (perwakilan Kalimantan), GSSJ Ratulangi, Andi Pangeran (perwakilan Sulawesi), I Goesti Ketoet Poedjo (perwakilan Nusa Tenggara), dan Johannes Latuharhary (perwakilan Maluku).

Nasionalisme bangsa Indonesia untuk membentuk negara telah diawali para pendiri bangsa dalam semangat kebersamaan “semua untuk satu dan satu untuk semua”. Konsensus dasar bangsa telah disepakati bersama, yakni Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan sesanti Bhineka Tunggal Ika. Keempat hal ini harus dijaga agar bangunan bangsa dan negara Indonesia tetap kokoh berdiri. Gangguan terhadap bangunan bangsa ini seharusnya tidak menjadikan sebagian orang mempertanyatan empat konsensus dasar bangsa tersebut.

Gangguan terhadap kehidupan bangsa antara lain: kesenjangan sosial, kemiskinan, rendahnya pendidikan, isu trans nasional (paham sektarian keagamaan), dll. Gangguan tersebut semakin diperparah dengan media komunikasi modern saat ini yang dengan mudah dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk melakukan penggiringan opini publik terhadap situasi kebangsaan. Massa mengambang dengan permasalahan sosial-kemasyarakatan yang dihadapi akan mudah digerakkan oleh kepentingan tertentu sehingga tidak lagi melihat bangsa Indonesia secara utuh, namun melihat bangsa dan negara ini dari kacamata diri sendiri.

Masyarakat yang beragam beresiko terjadinya dominasi mayoritas atau tirani nimoritas. Dominasi mayoritas adalah pihak mayoritas mendominasi, sehingga pihak minoritas terkalahkan kepentingannya. Sedangkan tirani minoritas adalah pihak yang sedikit jumlahnya memiliki kekuatan, sehingga sewenang-wenang dan menekan pihak yang jumlahnya lebih banyak. Masing-masing pihak, mayoritas dan minoritas, harus menyadari keberadaan diri bersama yang lain sehingga tidak saling meniadakan.

Setiap warga negara Indonesia memiliki tugas untuk menjaga jiwa nasionalisme. Kesadaran pribadi sangat penting untuk membangun kesadaran bersama atas bangsa dan negara ini. Keterbukaan dan kesediaan menerima perbedaan (keragaman) menjadi pintu masuk terlibat dalam kehidupan masyarakat yang plural. Jiwa nasionalisme ditumbuhkan dengan membangun persaudaraan yang lebih peka terhadap permasalahan sosial-kemasyarakatan, terlibat aktif dalam kehidupan masyarakat dan solider terhadap penderitaan dan keprihatinan sesama.***

Reporter : Robert

 

64 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *