Wajah Orangtua Gambaran Wajah Allah

Orangtua. Foto : Robert

Ilustrasi Orangtua. Foto : Robert

Oleh : RD. Apolonius Basuki

Ketika di seminari Menengah, Saya  mempunyai teman dengan nama panggilan Rio. Rio yang pemurung, sering sedih. Karena sering sedih mukanya sampai “lonjong”. Suatu ketika dia bersandar di tembok seminari seorang diri. “Rio, apakah dunia ini masih indah?” tanya saya kepada Rio. Dia kaget dan tersenyum kepada saya. Senyum yang kurang tulus. Lalu dia cerita kepada saya. Dia mengatakan bahwa dia dibesarkan oleh seorang bapak yang galak. Dan ibu yang judes cerewet. Dia mengalami luka batin. Ia sering mengalami kecemasan dan ketakutan. Rio mempunyai gambaran dan penghayatan akan Allah seperti orangtuanya, bukan seperti Allah yang diperkenalkan Yesus dalam Kitab Suci.

Bagaimana Rio akan mewartakan kabar gembira, kalau hidupnya murung terus. Bagaimana Rio mau mewartakan kebebasan selaku anak-anak Allah, kalau hidupnya masih terbelenggu. Bagaimana Rio mau mewartakan harapan, kalau hidupnya dirundung kecemasan dan ketakutan terus menerus.

Ada kecemasan  dan ketakutan karena tauma (luka batin), ada kecemasan tanpa sebab. Manusia pernah merasa cemas atau takut tanpa mengetahui apa yang ditakuti. Kecemasan merupakan bagian dari hidup manusia. Beriman berarti membebaskan diri dari kecemasan sehingga manusia merasa diterima.. Salah seorang pemikirnya adalah Paul Tillich yang mengatakan kita harus mengalami bahwa kita diterima oleh Allah dan kemudian kita dapat menerima orang lain karena kita sendiri juga diterima.

Dalam Metode penyuluhan penyembuhan Carl Rogers, penerimaan menjadi dasar bagi penyembuhan. Dikatakannya bahwa penghormatan serta penghargaan diri secara positif dan tanpa syarat merupakan pendekatan fundanmental dalam penyuluhan penyembuhan.

Wajah Orangtua.

Dalam diri Rio penerimaan dirinya rusak, kepercayaan dasarnya rusak. Tidak terbentuk dengan baik sehingga ia mengalami luka batin. Orangtua mestinya yang menanamkan kepercayaan dasar yang baik dalam diri anak. Istilah Kepercayaan dasar (basic trust) ini dipopulerkan oleh Erikson seorang ahli Psikologi Agama. Menurut Erikson manusia tidak mungkin hidup tanpa Kepercayaan dasar. Manusia haus akan kepastian, hidup ini pada dasarnya baik dan ramah. Hal tersebut membuat manusia tabah dan berani menempuh hidup yang terjal dan menantang, memasukki masyarakat yang banyak bersinggungan dengan peristiwa yang menyakitkan.

Begitu anak lahir, anak mengalami ketakutan, maka ia menangis, tetapi begitu didekap sayang oleh orang dewasa, terutama ibu, si anak merasa aman. Ini disebut fase pertama yaitu fase Anak-anak. Wajah ibu yang ramah dan berseri-seri memberikan kepercayaan dasar bahwa dalam hidup ini ada perlindungan, kebaikan, dan kasih sayang. . Sebab, buktinya,  ibu – wakil umat manusia yang pertama dan terpenting memang begitu. Dengan kepercayaan dasar ini, seorang bayi bisa tumbuh sehat. Ia merasa diterima, didukung, dan dicintai.

Kedua, Fase Remaja. Semakin hari Anak tumbuh menjadi remaja. Masa remaja ikatan dengan orangtua mulai berkurang. Ia mulai mandiri dan berelasi dengan teman sebaya. Wajah orangtua yang ramah dan berseri sudah menjadi percayaan dasarnya. Wajah tersebut dibawa dalam hidupnya, tetapi ia mulai mencari pengganti dengan wajah teman sebaya tertutama lawan jenisnya.

Pada saat inilah ia mulai jatuh cinta. Setiap manusia yang normal pasti pernah jatuh cinta dengan lawan jenisnya. Seorang anak putri akan mencari cowok yang sosok (rupa) dan sifat-sifatnya sama seperti  bapaknya. Dan seorang cowok juga akan mencari cewek yang rupa dan sifat-sifatnya sama seperti ibunya. Ketertarikan dan keberanian untuk jatuh cinta ini dipelajari dari perlakuan yang baik dari orangtua terhadap si anak. Ketertarikan ini untuk menghidupkan kepercayaan dasarnya.

Ketiga fase dewasa. Orang dewasa akan melihat wajah sesamanya sebagai gambaran dirinya untuk menghidupkan kepercayaan dasarnya. Untuk orang yang menikah wajah istri yang ramah akan menguatkan suaminya. Dan wajah suami yang berseri akan menguatkan istrinya. Tetapi suami-istri yang menikahpun tidak merasa puas dengan kehadiran suami atau istrinya. Ada ruang batin kosong yang tidak dapat diisi oleh siapapun kecuali oleh Allah. Wajah sesama yang ramah dan berseri-seri akhirnya akan diganti wajah Allah.

Untuk yang menjalani hidup selibat (pastor, suster, frater, bruder, ataupun orang yang tidak menikah) wajah orangtua sebagai gambaran wajah Allah yang diterima dan terbentuk sejak bayi sebagai kepercayaan dasar, bukan ditemukan dalam relasi suami-istri (meski mereka tertarik pada lawan jenis dan pernah jatuh cinta) melainkan langsung dalam wajah Allah. Kepercayaan dasar ini agar berfungsi harus selalu dihadirkan. Dalam ritus sehari-hari, dalam doa Liturgi dan pribadi.

Wajah Allah.

Banyak teks-teks kitab Suci yang menggambarkan wajah Allah yang ramah dan berseri-seri. Beberapa teks dapat disebutkan di sini. Teks tersebut biasanya menggambarkan relasi manusia dengan Allah. Misalnya, dalam Bil 6: 25-26 dikatakan: “Tuhan menyinari engkau dengan wajahNya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajahNya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera”. Dalam Mzr 17: 15 dikatakan: “Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajahMu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupaMu “. Dalam Mzr 27: 8: “Hatiku mengikuti sabdaMU “Carilah wajahKu” maka wajahMu kucari, ya Tuhan, janganlah menyembunyikan wajahMu kepadaku”. “Buatlah WajahMu bercahaya atas hambaMu, selamatkanlah aku oleh kasih setiamu” (lih. Mzr 31:17).

Dalam seluruh karyanya, Yesus menghadirkan wajah Allah yang berseri-seri, ramah, pengampun, pemurah, dan  belaskasih. Sehingga setiap orang yang bertemu Dia dan mengimani Dia mengalami diterima, didukung, dikasihi, diampuni dan diselamatkan..

Doa – doa menjadi pengingatan kembali (anamnesis) akan “Kepercayaan Dasar”. Kepercayaan Dasar tersebut harus selalu dihidupkan dalam doa supaya manusia tidak merasa terasing, kesepian ataupun mengalami kecemasan dan ketakutan dalam hidupnya. Kepercayaan dasar tersebut istilah psikologis. Dalam bahasa kristiani disebut Iman. Iman adalah keutamaan yang dicurahkan dalam hati manusia oleh Allah (keutamaan teologal). Oleh karena itu iman adalah anugerah Allah, sekaligus penyerahan diri dan tanggapan manusia terhadap undangan Allah.

Konsekuensi logis dari teori Erikson tentang “Kepercayaan Dasar” adalah doa Bapa kami sebagai pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang seorang Bapa. Doa Salam Maria sebagai pemenuhan akan kasih sayang seorang Ibu. Dan Semua melalui Yesus, dalam Yesus, dan oleh Yesus terpenuhi kebutuhan akan seorang Sahabat. Bukankah, Yesus menyebut murid-muridnya sebagai sahabat. “Aku tidak menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Ku dengar dari BapaKu” (Lih. Yoh 15:15).

 

Penutup

Dari Pengalaman Rio betapa pentingnya peranan orangtua dalam penanaman dan pembentukan  iman anak. Karena perlakuan dan sikap-sikap orangtua terhadap anak akan membekas dalam diri anak dan mempengaruhi gambaran dia tentang Allah. Kalau orangtua kejam  berarti Allah kejam. Kalau orangtua sayang berarti Allah sayang. Dalam perjalanan hidupnya Rio Bisa sembuh dari luka batin dan bisa menghayati Allah seperti yang diwartakan Yesus dalam Kitab Suci.

Rio mempunyai keberanian untuk melihat masa lalunya sebagai bagian dari sejarah hidupnya. Rio bisa menerima diri. Rio bisa mengampuni orangtuanya. Rio bisa melihat maksud baik orangtuanya di masa lalu. Rio mampu bersyukur atas hidupnya dan dengan tekun menjalani cita-citanya. Rio mengalami diterima, dihargai, dan dicintai sehingga ia berani hidup. Rio sembuh sehingga Rio mampu menghayati Allah sebagai “Bapa; ABBA”. Bukankah karena kita mengimani Yesus sehingga kita memanggil Allah sebagai Bapa. Itulah pengalaman iman Rio. Sekarang Rio terus mencoba menjadi pastor yang baik. Ia menghadirkan Wajah  Allah yang ramah dan berseri-seri bagi sesama.***

Reporter : Robert

 

95 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *