Renungan Harian Minggu, 29 April 2018

Ilustrasi Yesus Kristus. Credits : https://www.facebook.com/thomas.suratno.7

Ilustrasi Yesus Kristus. Credits : https://www.facebook.com/thomas.suratno.7

Hari Minggu Paskah V

INJIL: Yoh 15:1-8

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya berbuah ia lebih banyak. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Aku katakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jika kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Siapa saja yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Siapa saja yang tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jika kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”

RENUNGAN:

Injil hari ini mengisahkan amanat perpisahan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya, yaitu agar mereka mau tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam mereka. Bagaimana memahami arti “tinggal di dalam” Yesus? Tahu bahwa hal itu mungkin sulit dipahami, Yesus mengambil perumpamaan untuk menjelaskannya, yaitu seperti ranting-ranting tinggal menyatu dengan pokok anggur. Sebab ranting-ranting yang hidup dan berbuah memang adalah ranting-ranting yang menempel atau menjadi satu dengan batang utama pohon yang menyatu dengan akarnya. St. Agustinus mengajarkan, bahwa dengan mengumpamakan diri sebagai pokok anggur, Tuhan Yesus mengacu kepada kodrat-Nya sebagai manusia, sehingga dapat menyatu dengan kita manusia; tetapi dengan mengatakan bahwa Ia dapat memberikan hidup kepada ranting-ranting-Nya, Yesus mengacu kepada kodrat-Nya sebagai Tuhan, sebab hanya Tuhanlah yang dapat memberikan kehidupan.

Demikianlah Kristus sebagai pokok anggur mengharapkan agar ranting-rantingnya bertumbuh dan menghasilkan buah. Untuk itu, ranting-ranting yang berbuah akan dibersihkan, atau dipangkas sedikit, agar semakin lebih banyak berbuah. Menurut St. Agustinus, maksudnya di sini adalah Allah akan membersihkan benih-benih kejahatan dari dalam hati kita, dan membuka hati kita terhadap sabda-Nya, menaburkan benih perintah-perintah-Nya dan menantikan buah-buah kebajikan dan kesalehan. Sebab siapakah di dunia ini yang sudah demikian bersih, sehingga tidak bisa lagi dibersihkan atau diubah? Jika kita mengatakan bahwa kita tidak berdosa, kita menipu diri sendiri. Allah membersihkan mereka yang bersih, yaitu ranting-ranting yang berbuah, supaya semakin bersih, dan semakin berbuah.

Melalui Baptisan, kita disatukan dengan Kristus. Kemudian, sabda-Nya tinggal di dalam kita, kalau kita melakukan perintah-perintah-Nya. Namun ketika sabda-Nya hanya ada di dalam ingatan tapi tidak kita lakukan di dalam hidup kita, artinya kita menjadi ranting yang tidak tinggal di dalam pokok anggur, dan tidak memperoleh hidup dari akarnya. Sedangkan kalau kita tinggal di dalam Kristus, kita tidak akan menghendaki apapun yang tidak sesuai dengan keselamatan kita.

Demikianlah, hal berbuah banyak karena menyatu dengan Kristus, dan terus dibersihkan agar berbuah lebih banyak, dapat kita lihat dalam teladan kehidupan para Rasul. Mereka mengandalkan rahmat Tuhan dan tidak urung jika mengalami pencobaan dan penganiayaan hal itu dihayati demi menyebarkan iman. Dan sesungguhnya keadaan semacam ini dialami oleh para Rasul lainnya, para martir dan juga banyak anggota Gereja di sepanjang sejarah. Di masa kini tantangan yang kita hadapi berbeda dengan apa yang dialami oleh para murid di abad-abad awal, namun intinya tetap sama. Kita diminta oleh Yesus untuk hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai anak-anak Allah, yang dikenali dengan ciri khasnya, yaitu saling mengasihi. Itulah sebabnya para Rasul dan para martir dapat mengampuni dan mendoakan mereka yang telah menganiaya mereka, dan dengan demikian membawa sejumlah dari para penganiaya mereka untuk bertobat dan mengenal Tuhan Yesus. Kasih yang memberikan diri sampai akhir inilah yang berulang kali ditulis dalam Injil maupun surat-surat para Rasul, dan kasih Tuhan kepada kita menjadi sumber kekuatan dan alasan bagi kita untuk mengasihi sesama, termasuk mereka yang sulit untuk kita kasihi. Jika kita melakukan kehendak-Nya ini, kita tinggal di dalam Dia, dan kemudian berbuah banyak.

DOA:

“Ya Tuhan Yesus, biarkanlah aku bertumbuh dan berkembang dalam kasih-Mu sehingga aku berani melakukan apa yang Kaukehendaki dalam kehidupanku sehari-hari sebagai pengikut-Mu. Amin.”***

Oleh : RP Thomas Suratno SCJ

126 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *