Renungan Harian, Selasa, 03 April 2018

Ilustrasi Yesus. Credits : RP Thomas Suratno, SCJ

Ilustrasi Yesus. Credits : RP Thomas Suratno, SCJ

Oktaf Paskah

INJIL: Yoh 20:11-18

Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

RENUNGAN

Paskah seharusnya membawa pembaruan hidup karena Yesus yang bangkit membawa kesegaran hidup. Hidup lama kita diterangi dengan sinar kebangkitan yang membawa sukacita. Bersyukur dan bersukacita itulah yang membawa kesegaran baru dalam hidup kita. Hidup baru berarti melihat hidup lama dengan cara pandang yang baru untuk melangkah pada hari yang akan datang.

Dalam perikopa hari ini, dikisahkan Yesus yang bangkit menjumpai Maria Magdalena. Perjumpaan dengan Sang Guru tidak serta merta disadari oleh Magdalena. Ia masih terbawa atau dalam kondisi manusia lama. Ia tidak mengenali Sang Guru yang sudah bangkit, sudah membawa hidup yang baru. Manusia lama Magdalena masih menutupi manusia barunya, ia belum mampu melihat hari baru.

Tetapi sapaan Yesus yang khas menyadarkan dirinya. Pada akhirnya perjumpaan dengan Yesus menjadikan Magdalena manusia baru, manusia yang mampu melihat harapan cerah keselamatan masa depan. Ia yang tadinya tidak mengenal Yesus yang bangkit pada akhirnya menjadi saksi pengalaman perjumpaan dengan Sang Guru. Magdalena menjadi ikon hidup yang dibarui karena Yesus yang bangkit. Manusia lama telah berlalu, sudah dikuburkan dan ditinggalkan. Manusia baru datang dengan penuh sukacita dan pengharapan. Pengalaman perjumpaan dengan Yesus tidak disimpannya sendiri. Magdalena membagikan pengalaman dan memberikan kabar itu juga kepada murid yang lain, bahwa ia melihat Tuhan. Berbagi sukacita dilakukan Magdalena karena mengalami perjumpaan dengan Yesus yang bangkit.

Bagi kita, kisah ini tidak hanya sekedar kisah pangalaman Magdalena. Kisah ini semestinya merupakan juga kisah pengalaman hidup kita. Apakah perjumpaan kita dengan Tuhan Yesus membawa sukacita? Apakah sukacita itu sudah kita bagikan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita?

Pengalaman sukacita merayakan paskah yang setiap tahun kita lakukan, diharapkan juga senantiasa memperteguh iman kita. Ini merupakan peristiwa karya keselamatan Allah yang luar biasa, Gereja senantiasa mengenangnya kembali, Gereja menghadirkan kembali karya agung keselamatan Allah ini.

Mungkin hidup kita biasa-biasa saja, tidak ada perubahan. Usaha tetap berjalan biasa, hutang-hutang tidak segera lunas, anak-anak tetap bermasalah, suami istri tidak kunjung usai bertengkar. Nah, inilah saatnya bagi kita untuk mempunyai sikap pembaruan diri. Dasar pembaruan itu adalah sukacita merayakan paskah, sukacita mensyukuri bahwa hidup kita diperhitungkan Allah. Allah tidak meninggalkan kita sendirian. Dalam susah dan derita, Tuhan senantiasa hadir dan mendampingi kita. Permasalahannya apakah kita senantiasa menyadarinya dan membiarkan Allah terlibat dalam persoalan hidup kita?

Ketika kita mengalami sukacita atau kesuksesan, kita juga perlu ingat Tuhan. Ia hadir dalam segala situasi. Pada saat demikian, memang kita tidak mengeluh. Maka yang bisa kita lakukan adalah berbagi sukacita, seperti yang dilakukan Magdalena, membagikan sukacita itu pada orang lain. Biasanya yang bisa kita lakukan adalah dengan bertutur kata atau bersikap yang bisa membawa berkat bagi orang lain.

DOA:

“Ya Tuhan, kami bersyukur atas rahmat keselamatan yang Engkau anugerahkan kepada kami. Semoga kami mampu menerima rahmat itu dengan hati penuh sukacita. Ajarilah kami untuk juga mampu berbagi sukacita kepada orang-orang yang ada di sekitar kami. Amin.”***

Oleh RP Thomas Suratno, SCJ

60 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *