Renungan Harian, Rabu, 28 Februari 2018

Ilustrasi Yesus. Credits : https://www.facebook.com/thomas.suratno.7

Ilustrasi Yesus. Credits : https://www.facebook.com/thomas.suratno.7

Pekan II Masa Prapaskah

INJIL : Mat 20:17-28

Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: ”Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: ”Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: ”Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: ”Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: ”Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: ”Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: ”Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

RENUNGAN:

Menjelang Pemilu 20149 banyak orang yang diunggulkan menjadi calon pemimpin dari partai tertentu. Satu dengan yang lainnya saling beradu kata-kata atau orasi visi dan misinya bila nanti dia menjadi pemimpin. Banyak yang memberi janji-janji: mau memperhatikan orang miskin, pinggiran, akan menyejahterakan rakyat lewat program-program yang diusungnya dan sebagainya. Namun, apa yang dibuat setelah jadi pemimpin? Mereka lupa? Kita yakin mereka yang terpilih tidak lupa, tetapi tidak mempunyai keberanian untuk membuka mulut dan menyuarakan suara hatinya. Mengapa? Ternyata bisa jadi karena tempat duduknya itu “empuk”. Sayang kan kalau salah omong lalu “dilengserkan” dan digantikan dengan orang lain. Mereka juga mengatakan, aku menjadi pemimpin sudah menghabiskan dana dan tenaga yang banyak. Sekarang saatnya, dana-dana yang telah aku keluarkan itu kembali dan tenagaku pulih kembali. Inikah semangat pemimpin kita? Ada yang demikian meski tidak semua.

Pengalaman diatas sungguh berlainan dengan “ajaran dan aturan” kerja Yesus!. Tuhan Yesus mengajarkan: yang mau menjadi besar, yang mau menjadi pemimpin harus rela menjadi pelayan. Ini aturan dan ajaran Yesus yang tidak bisa ditawar lagi. Resiko dari ajaran Yesus adalah : jalan salib. Inipun jalan satu-satunya yang di berikan oleh Yesus kepada para pengikut-Nya.

Salome, Ibu Yohanes dan Yakobus sebagai Ibu ingin memberikan yang terbaik untuk kedua anaknya, oleh karenanya ia meminta kedua anaknya memangku jabatan dan duduk disebelah kanan dan kiri Yesus. Orang sering terlalu ambisi untuk meraih kedudukan, jabatan kekuasaan supaya naik derajatnya, bahkan dengan cara yang tak terpuji, dengan jalan pintas, curang dan menghalalkan segala cara. Yang menyedihakan bila ada orang berkedok pelayanan pada Tuhan untuk sesuatu tujuan guna meraih keuntungan dan prestise.

Melalui Injil yang kita renungkan hari ini, Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita “Barang siapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Seorang pelayan atau hamba, tidak pernah berfikir apakah pekerjaannya akan mendapat penghargaan atau tidak dari majikannya. Dia hanya melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya. Sebagai murid Yesus kita wajib meneladan Sang guru yakni melayani bukan minta dilayani, mengayomi, memberikan suasana damai, rela rugi, menderita, bahkan memberikan nyawa bagi banyak orang. Itulah resiko menjadi pengikut Sang Anak Perdamaian, yang tak tertandingi dalam hal penyerahan Diri dan Kasih.

DOA:

“Ya Bapa di surga, terimakasih untuk damai yang aku rasakan. Ajarlah aku untuk memiliki hati seorang hamba, agar aku mampu melakukan yang terbaik bagi-Mu dan bagi sesama ku. Amin.”***

Oleh : RP Thomas Suratno

133 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *