Renungan Harian, Jumat, 23 Februari 2018

Yesus. Credit : https://www.facebook.com/thomas.suratno.7

Yesus. Credit : https://www.facebook.com/thomas.suratno.7

St. Polikarpus

Injil Mat 5: 20-26

Dalam khotbah di bukit berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

RENUNGAN:

Membunuh berarti menghilangkan nyawa orang dengan tindakan fisik. Banyak kecaman ketika kita mendengar berita pembunuhan, pembegalan,hukuman mati, dan sebagainya, Karena perbuatan itu melanggar perikemanusiaan dan merusak martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan. Apakah membunuh hanya berhubungan dengan tindakan fisik manusia? Tuhan Yesus memberikan pemahaman yang lebih luas. Ia mengutip Keluaran 20;13. ‘Janagan membunuh, siapa yang membunuh harus dihukum” .

Selanjutnya, Yesus menegaskan bahwa membunuh bukan saja soal aktifitas fisik, tetapi sekaligus mengungkapkan kemarahan kepada orang lain. Begitu pula pada saat mengatakan orang lain sebagai ‘kafir’ dan ‘jahil’. Itu semua bentuk perbuatan “membunuh” sebab disertai dengan amarah. Dengan mengatakan kafir, atau jahil, pada saat bersamaan kita membunuh pribadi orang lain. Yang menjadi korban bukan fisik lahiriah, tetapi perasaan dan psikis sesama. Dan bukan tidak mungkin perbuatan tersebut memancing terjadinya pertumpahan darah, bukan?

Nah, ketiga hal tadi, marah, kafir, dan jahil, terungkap melalui kata – kata yang terucap dari mulut kita. Itu berarti kata – kata yang keluar dari mulut kita memiliki potensi untuk membunuh orang lain. Setiap kata – kata negatif punya potensi untuk membunuh, mematikan dan menghancurkan hidup orang.

Maka seperti yang dinasehatkan Tuhan Yesus, diri kita hendaknya lebih baik daripada ahli taurat dan orang-orang Farisi! Di sini Yesus menantang kita agar membangun kehidupan yang lebih bersahaja dibandingkan dengan mereka. Yesus menantang kita untuk berani atau mau melihat kehidupan kita pada inti yang terdalam. Kita harus mau dan bisa memerangi kejahatan itu sampai keakar-akarnyaa, sebelum hal itu muncul ke permukaan sebagai tindak kejahatan. Kita harus bisa mengalahkan amarah yang menjadi cikal bakal dari membunuh, kita harus bisa mengatur sendiri tata damai dihati dan berdamai dengan sesama sebelum kita mempersembahkan kurban kepada Tuhan.

Kita harus membangun hidup yang lebih baik yang selaras dengan kehendak Tuhan. Dan kalau kita mau membangun hidup yang berkualitas, bandingkanlah diri kita dengan hidup orang-orang yang berkualitas lebih baik dari kita, sehingga kita dipacu untuk terus-menerus menjadi lebih baik dan lebih berkualitas sebagai orang beriman. Jangan hidup sekedar rajin berdoa dan taat pada perintah-perintah agama seperti orang-orang Farisi dan Ahli Taurat, melainkan hidup berdasarkan kasih dan baik terhadap orang lain dan hidup dalam suasana damai. Damai terhadap saudara dan sesama…damai terhadap Tuhan sang raja damai.

DOA:

“Ya Tuhan, ajarlah aku untuk memerangi akar-akar kejahatan yang ada dilubuk hatiku agar aku mampu membangun hidupku menjadi lebih baik dan berkenan kepada-Mu. Amin.”***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

76 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *