Renungan Harian, Kamis, 22 Februari 2018

Ilustrasi Tahta Santo Petrus. (https://www.facebook.com/thomas.suratno.7)

Tahta Santo Petrus. Credits : https://www.facebook.com/thomas.suratno.7

Pesta Takhta St. Petrus

INJIL: Matius 16:13-19

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

RENUNGAN:

Petrus sebagai seorang murid hari ini menunjukkan keotentikan dirinya. Dia menjawab pertanyaan Yesus bukan dari jawaban-jawaban orang lain, namun dari dalam dirinya sendiri. Ia yang dikenal sebagai murid yang blak-blakan, terus terang, apa adanya, hari ini menjadi murid yang mengungkapkan identitas keilahian Yesus. Yesus adalah Mesias, Putera Allah yang hidup. Namun seperti kita tahu, Petrus meski sudah mengatakan demikian, namun masih mempunyai konsep mesianik lama, yakni Mesias yang membebaskan mereka dari bangsa penjajah, Mesias yang membuat mereka kembali Berjaya seperti jaman Daud. Dengan kata lain, pemahaman mesianik Petrus adalah Mesias politis. Persis setelah perikopa ini kita melihat bagaimana Petrus menolak pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus.

Pertanyaan sederhana adalah mengapa Petrus sampai pada jawaban yang demikian? Mengapa murid yang lain tidak sampai pada jawaban seperti jawaban Petrus, padahal mereka hampir selalu bersama? Kalau kita lihat lagi, ternyata pertanyaan Yesus yang pertama dan kedua berbeda. Pada pertanyaan pertama Yesus menggunakan kata ganti orang pertama dengan “Anak Manusia”. Baru pada pertanyaan yang kedua, Yesus menggunakan kata “Aku”. Berhadapan dengan pertanyaan “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” para murid juga menjawab dengan jawaban menurut orang banyak. Bisa jadi mereka juga belum menyadari identitas “Anak Manusia” seperti yang kita mengerti saat ini. Maka bisa dimengerti para murid yang lain menjawab tidak seperti jawaban Petrus.

Pada pertanyaan yang kedua, Yesus menggunakan perspektif pertanyaan yang bebeda, tidak lagi menggunakan “kata orang” namun menggunakan “menurut kamu”; tidak lagi menggunakan kata ganti orang pertama “Anak Manusia”, namun menggunakan kata ‘Aku’. Tentu saja pertanyaan yang berbeda menjadikan perspektif cara pada para murid juga berbeda. Mereka sudah cukup mengenal Yesus, namun belum bisa memberi label pada pengenalan siapa Yesus itu. Petrus mengenal Yesus sebagai mesias namun masih dalam pengertian yang lama, pengertian yang pada umumnya dipikirkan orang-orang sejamannya. Padahal Yesus menghendaki sesuatu yang lain.

Meski demikian, jawaban Petrus itu menjadi pondasi iman para rasul, yakni bahwa Yesus adalah Mesias. Kemudian Yesus menegaskan bahwa ‘Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tak akan menguasainya’. Pertanyaan yang bisa kita pikirkan lebih jauh adalah apa artinya ‘di atas batu karang’ Yesus mau mendirikan jemaat-Nya? Apakah di atas pondasi Petrus?

Jika kita bermenung lebih jauh, kalau Gereja didirikan diatas Petrus, bukankah Gereja sudah dari dulu akan ikut terkubur bersamanya? Lalu dimana pondasi Yesus mendirikan Gereja? Bisa diyakini yang dimaksud Yesus mendirikan Gereja (jemaat) di atas Petrus adalah Gereja didirikan diatas pengakuan Petrus atas siapa Yesus. Dengan demikian, Gereja didirikan diatas pondasi dasar pengakuan Yesus sebagai Mesias. Gereja kokoh berdiri karena kita memiliki iman seperti iman Petrus “Engkaulah Mesias Putera Allah yang hidup”. Maka kalau dikatakan iman kita mempunyai dasarnya pada iman para rasul, itu berarti iman kita adalah iman yang mengakui Yesus sebagai Mesias Putera Allah.

Hari ini adalah pesta takhta St. Petrus. Kiranya Gereja hendak mempertegas pengakuan iman seperti yang disampaikan pada hari ini. Takhta Petrus bukan pertama-tama kedudukan terhormat yang mahatinggi, namun takhta Petrus berarti Yesus menyerahkan Gereja pada para rasul dengan dasar pengakuan iman yang sama dengan Petrus.

Bagi kita, hari ini menjadi hari penegasan kembali posisi keimanan kita. Apakah kita masih mengakui iman yang sama seperti yang Yesus katakana? Jika kita mengaku sebagai satu Gereja, maka dasar pengakuan itu mau tidak mau adalah pengakuan yang sama dengan apa yang diyakini Petrus dan para rasul. Masih kah kita bersandar pada iman yang lain?

DOA:

“Ya Tuhan, kami bersyukur atas warisan iman yang diteladankan oleh para rasul. Mampukanlah aku untuk terus mempunyai iman yang sama dengan para rasul dan seluruh Gereja. Semoga aku semakin mengimani bahwa Engkau adalah Mesias yang menyelamatkan aku kini dan sepanjang masa.Amin.”***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

138 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *