Paus Fransiskus Umumkan Komisi Baru Antipelecehan Seksual Anak

SUARAWAJARFM.com – Paus FransiskusFransiskus mengumumkan pembaharuan komisi gereja yang bertugas memberantas pelecehan seksual terhadap anak-anak di lingkungan gereja Katholik.

Komisi Kepausan ini bertugas untuk melindungi anak di bawah umur dan terdiri dari 16 orang yaitu delapan pria dan wanita, termasuk bekas korban pelecehan. Sembilan anggota merupakan orang baru yang ditambahkan ke panel. Tiga orang dari anggota komisi ini merupakan biarawati.

Kardinal Amerika Serikat, Sean O’Malley, dikonfirmasi sebagai kepala panel perlindungan anak bersama tujuh anggota inkumben.

“Anggota yang baru diangkat akan menambah perspektif global komisi dalam melindungi anak di bawah umur dan orang dewasa yang rentan,” kata O’Malley seperti dilansir Tribune Express pada 17 Februari 2018. Media Reuters menulis ada sepuluh tokoh di luar kalangan agamawan seperti akademisi dan psikolog terlibat dalam komisi ini.

Anggota komisi berasal dari berbagai negara seperti AS, Inggris, Belanda, Ethiopia, India, Italia, Tonga, Jerman, Brasil, Polandia, Afrika Selatan, Filipina, dan Zambia.

Seperti dilansir Reuters, Paus membentuk komisi ini setelah terjadi kehebohan mengenai Uskup Chili, Juan Barros, yang diduga terlibat dalam praktek pedofilia. Paus sempat membela Barros dengan alasan tidak ada bukti namun kemudian menunjuk tim investigasi untuk mengusut kasus ini.

Paus Fransiskus memimpin acara malam Misa Natal di St. Peter's Basilica, Vatican, 24 Desember 2017. REUTERS/Tony Gentile

Paus Fransiskus memimpin acara malam Misa Natal di St. Peter’s Basilica, Vatican, 24 Desember 2017. REUTERS/Tony Gentile

Investigator itu bernama Uskup Agung, Charles Scicluna dari Malta, yang dianggap berpengalaman menyelidiki kasus pelecehan seksual ini. Dia mulai bekerja di New York pada Sabtu kemarin dan bertemu dengan Juan Carlos Cruz, yang mengaku pernah menjadi korban pelecehan seksual saat anak-anak oleh pendeta di Chili bernama Fernando Karadima.

Karadima dinyatakan bersalah oleh investigasi Vatical pada 2011 karena terbukti melecehkan anak-anak lelaki selama bertahun-tahun. Karadima membantah hasil investigasi ini. Barros juga membantah mengetahui dan menutup-nutupi kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak oleh Karadima.

Mengenai pembentukan komisi ini, O’Malley mengatakan,”Bapa Suci telah memastikan kesinambungan dalam pekerjaan komisi kami, yaitu untuk membantu gereja-gereja lokal di seluruh dunia dalam usaha mereka melindungi semua anak, remaja, dan orang dewasa yang rentan dari bahaya.”

Panel ini awalnya dibentuk pada 2014 segera setelah Paus Fransiskus terpilih sebagai pemimpin umat katolik dunia. Namun dua anggota komisi mengundurkan diri karena merasa komisi itu tidak serius mengatasi masalah pelecehan seksual terhadap anak-anak, yang telah lama terjadi ini.

Anggota komisi dari Irlandia, Marie Collins, yang diperkosa seorang pastor rumah sakit pada usia 13 tahun, menyatakan keluar dari panel pada Maret tahun lalu sebagai protes terhadap tindakan menghalang-halangi yang memalukan terhadap upaya reformasi.

Anggota lainnya dari Inggris, Peter Saunders, yang juga merupakan korban pelecehan seksual, juga meninggalkan komisi ini pada 2016. Dia berselisih dengan anggota komisi lainnya mengenai penanganan atas dugaan tindak pelecehan seksual berseri oleh pastor Italia.

Pengumuman pembentukan komisi baru ini terjadi beberapa hari setelah terungkap Fransiskus mengadakan pertemuan pribadi rutin dengan para korban pelecehan seksual. Paus menggambarkan skandal pelecehan seksual ini sebagai “rasa malu besar” bagi Gereja Katolik. Tapi Fransiskus juga diserang karena dinilai mendukung uskup, yang dituduh menutup-nutupi kejahatan seorang pendeta pedofil.***

Editor : Robert

113 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *