Renungan Harian, Jumat, 16 Februari 2018

Ilustrasi Yesus tengah berdoa. Credits : www.facebook.com/thomas.suratno.7

Ilustrasi Yesus tengah berdoa. Credits : www.facebook.com/thomas.suratno.7

Sesudah Rabu Abu

INJIL: Mat 9: 14-15

Sekali peristiwa datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus, dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

RENUNGAN :

Keluhan yang kerapkali terdengar dari rekan-rekan kita sendiri adalah mengapa cara puasa kita sangat ringan, tidak seperti saudara kita muslim? Kalau kita berani merenungkan (baca: mengunyah) kiranya keluhan bisa kita kurangi. Hal ini bukan berarti puasa dalam arti mengurangi atau tidak sama sekali makan dan minum tidak berarti. Justru Gereja mau mengajak semua umatnya untuk memikirkan kembali makna dibelakang pantang dan puasa itu. Tidak cukup orang berhenti pada hal-hal lahiriah yang dibuatnya sendiri namun tidak ada pengaruhnya bagi orang-orang disekitarnya. Ini persis sama seperti yang dipersoalkan oleh murid-murid Yohanes kepada Yesus, “Mengapa kami dan orang-orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”

Disekitar kita banyak orang yang masih “terbelenggu”. Bukan hanya soal tidak bisa makan dan minum, berpakaian atau yang lain. Mereka terbelenggu oleh banyak aturan yang tidak adil, yang menyebabkan mereka tidak bisa bergerak dan merdeka, pribadi mereka kurang dihargai. Para istri tertindas oleh suami; anak-anak terlantar, pengamen dan anak jalanan semakin bertambah banyak, para pembantu rumah tangga kurang dihargai bahkan direndahkan martabatnya. Mereka inilah yang dalam masa Prapaskah perlu kita sapa, kita kurangi bebannya.

Tidakkah kita sudah dingatkan oleh Tuhan Yesus sendiri pada waktu membuka masa Prapaskah yang lalu, yakni pada hari Rabu Abu, bahwa tiga hal yang penting perlu diperhatikan dalam hidup beragama/beriman kita? Hal itu tak lain adalah sedekah, doa dan puasa? Tiga hal tersebut tak terpisahkan dalam penghayatan. Tidak mungkinlah kita berpuasa tanpa sedekah atau amal kasih terhadap sesame. Artinya melaksanakan puasa tanpa memikirkan sesame kita yang miskin dan menderita. Itu sebabnya kita mengadakan Aksi Puasa Pembangunan (APP). Dan itu salah satu wajud kepedulian kita terhadap sesame yang miskin dan membutuhkan pertolongan. Masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan secara pribadi.

Demikian juga puasa sendiri; puasa haruslah mengalir dari penghayatan iman yang benar seperti yang diajarkan oleh Gereja. Puasa bukan sekedar mengurangi atau tidak makan dan minum tetapi sungguh kita ‘berdukacita’ sebagai ‘tanda kasih kepada Tuhan’. Kalau kita sekedar mengurangi atau tidak makan-minum ya hal itu bisa kita lakukan di luar masa Prapaskah sebagai cara sehat dalam ber-‘diet’ demi kesehatan. Dalam Injil hari ini dengan jelas ditunjukkan oleh Tuhan Yesus yang mengaitkan alasan para pengikutNya untuk berpuasa dengan kepergian atau kematian “sang mempelai.” Sang mempelai yang dimaksudkan itu adalah Diri-Nya sendiri. Para murid (akan) berpuasa karena mereka akan berdukacita. Mereka berdukacita karena kehilangan sosok yang amat mereka dikasihi. Dengan demikian dukacita maupun puasa mereka merupakan ungkapan “bahwa mereka amat mengasihi guru dan Tuhan mereka.” Alasan yang sama sepantasnya juga menjadi milik kita bila pada masa ini kita melakukan pantang dan puasa. Kita mau berpantang dan berpuasa pertama-tama karena kita mau menunjukkan kasih kita kepada Tuhan, bukan karena semata-mata kita mau ikut-ikutan atau karena merasa diwajibkan oleh Gereja kita.

Kemudian dalam masa Prapaskah ini kita diharapkan meningkatkan doa dan ibadah kita. Membangun dan mengembangkan relasi atau hubungan kita manusia dengan Tuhan untuk semakin akrab dengan-Nya. Kita hendaknya semakin intens berkomunikasi dengan Tuhan dalam doa untuk semakin mengerti akan apa yang dikehendaki-Nya sehingga kita tidak salah langkah dan jatuh dalam dosa. Namun dari ketiganya itu yang penting bahwa dengan melakukan puasa dan matiraga, doa dan sedekah janganlah untuk pamer dan mencari pujian dari orang lain. Semua itu hendaknya kita laksanakan demi kemuliaan Tuhan.

DOA:

“Ya Tuhan Yesus, tuntunlah langkahku dimasa pertobatan ini semoga aku mampu menjalani retret agung ini sesuai dengan rencana-Mu dan berilah aku rahmat kekuatan-Mu untuk berani menjadi saksi-Mu. Amin.”

HAPPY CHINESE NEW YEAR 2018 – GONG XI FA CHAI

Merayakan Imlek OK dengan kesederhanaan … Puasa dan Pantang jalan terus…..***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

94 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *