Renungan Harian, Kamis, 15 Februari 2018

Ilustrasi Yesus. Sumber Foto : www.facebook.com/thomas.suratno.7

Ilustrasi Yesus. Sumber Foto : www.facebook.com/thomas.suratno.7

Sesudah Rabu Abu

INJIL: Luk 9: 22-25

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat lalu dibunuh, tetapi dibangkitkan pada hari ketiga. Kata-Nya kepada mereka semua, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”

RENUNGAN:

Pepatah tradisional berikut ini tetap layak kita padukan dengan semangat Yesus, “Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Relevan bukan? Kebahagiaan yang dicapai secara instan tidak banyak mendidik diri kita. Sebaliknya, bila kita mau menderita terlebih dahulu, seluruh potensi diri kita pun ditantang untuk kita kembangkan dan sekaligus mampu menghadapi rintangan demi rintangan yang mungkin menghambat diri kita.

Setiap orang kristen mengambil bagian dalam tugas kemuridan Kristus sesuai dengan bidangnya masing-masing. Orang tua yang baik dengan rela dan gembira menghidupi dan mendampingi perkembangan anak-anak mereka meskipun dituntut banyak pengorbanan yang membatasi kebebasan mereka. Seorang imam, biarawan-biarawati siap diutus kemana saja untuk melayani sesama yang membutuhkan. Meski medan pekerjaan tidak selalu gampang, namun kesetiaan mengikuti jalan Tuhan menyemaikan buah-buah pengharapan, iman, dan cinta bagi semua orang. Seorang ahli medis siap menolong pasien yang mengetuk pintu rumahnya di malam hari.

Kemuridan adalah pilihan pribadi. Jika kita menanggapi kasih Allah, hidup dalam relasi dengan Yesus, mengingkari diri dan mengangkat salib sehari-hari, maka kita akan hidup.

Yesus hari ini menasehati kita, “Apa gunanya kamu memperoleh seluruh dunia, tetapi dirinya binasa?”. Kekayaan memang tidak membinasakan seseorang, tetapi bisa membuat orang kehilangan kebahagiaaan, ketenangan, kedamaian, keharmonisan. Orang juga boleh mencari kekayaan semaksimal mungkin, tetapi jangan sampai kita kehilangan yang menjadi sumber hidup kita yaitu Yesus. Kalau orang mempunyai kekayaan dan segalanya yang didunia tetapi meninggalkan Yesus, ia akan binasa. Tetapi kalau ia memiliki dan mengimani Yesus, kekayaan akan menjadi berkat bagi diri dan sesama.

Maka dari itu diperlukanlah suatu sikap yang bijaksana. Tidak hanya memikirkan hidup bahagia untuk dirinya sendiri tetapi berfikirlah juga bagaimana orang lainpun dapat menikmati hidup bahagia. Hidup makmur sejahtera memang sungguh menyenangkan dan membanggakan tetapi bagaimana kalau nasib sesame kita masih hidup di bawah garis kemiskinan atau prasejahtera. Ingatlah bahwa kemiskinan yang terajdi adalah menjadi tanggungjawab kita bersama dan bukan hanya mereka yang menderita. Maka mari kita bersama-sama mengusahakan hidup yang sejahtera. Kita semua adalah saudara, sebangai umat Allah yang sedang berziarah di dunia ini. Sehingga sudah selayaknyalah kalau kita bersama-sama meningkatkan persaudaraan dan persatuan dengan bekerjasama demi kesejahteraan dan kemuliaan Allah.

Kita harus berani menyangkal diri, memandang dan meyakini bahwa Allah adalah segala-galanya karena kita bergantung pada-Nya. Kita juga harus berani menjalankan roda kehidupan ini setiap hari sebagai salib yang harus kita pikul dalam setiap langkah dalam mengikuti Tuhan kita Yesus Kristus. Inilah perziarahan hidup kita. Bukan hanya aku sendiri tetapi bersama sesame saudara kita.

DOA:

“ Ya Tuhan Yesus, Engkau mengingatkanku untuk menata hidup lebih serius, dimana jiwa dihidupi. Ajarikah aku untuk menata hidup ini agar aku tidak hanya tergiusr oleh hal-hal duniawi, tetapi aku mampu pula untuk mengolah hidup rohani demi keselamatn jiwaku. Amin.”***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

117 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *