Renungan Harian, Rabu, 07 Februari 2018

Ilustrasi Yesus. Credits : www.facebook.com/thomas.suratno.7

Ilustrasi Yesus. Credits : www.facebook.com/thomas.suratno.7

Pekan Biasa V

Injil Markus 7: 14-23

Pada suatu hari, Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka, “Dengarkanlah Aku, dan camkanlah ini! Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskan dia! Tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya!” Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar! Sesudah itu Yesus masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak. Maka murid-murid bertanya kepada Yesus tentang arti perumpamaan itu. Yesus menjawab, “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Camkanlah! Segala sesuatu yang dari luar masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskan dia, karena tidak masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya lalu dibuang di jamban.” Dengan demikian Yesus menyatakan semua makanan halal, Yesus berkata lagi, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya! Sebab dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

RENUNGAN:

Kita tentu sering membaca dan melihat di kemasan makanan kata dan symbol yang bertuliskan halal. Menurut pihak tertentu, makanan-makanan yang memuat tulisan tersebut sudah layak dan boleh dimakan. Namun di lain pihak kita juga sering mendengar ungkapan makanan ini haram makanan itu haram. Kita juga sering melihat kata itu tertulis ditempat-tempat tertentu. Larangan-larangan itu sebenarnya oleh kelompok tertentu, dibuat dengan maksud dan tujuan yang baik yaitu sebagai sarana untuk mengarahkan setiap orang agar semakin dekat kepada Tuhan. Namun jika halnya dimengerti demikian, agaknya terlalu naif dan sempit. Karena pengertian yang semacam itu sama sekali tidak menyentuh salah satu bagian yang terpenting dalam diri manusia yaitu hati.

Hati dalam tradisi tertentu merupakan kunci dari segalanya. Maka tak jarang kita melihat dan berjumpa dengan orang-orang bijaksana yang rendah hati. Bahkan ada pepatah yang indah yang mengungkapan pentingnya hati, “Semakin tua sebatang padi, maka bulir-bulirnya akan semakin merunduk”. Hal ini menunjukan bahwa hati menjadi bagian yang sungguh sangat penting bagi hidup manusia. Namun meskipun demikian, di sisi lain, dari hati juga muncul sesuatu yang seingkali merugikan seperti misalnya dendam, iri hati, cemburu dan hal-hal negatif lainnya. Karena itu hati bak sebilah pisau. Ia dapat sangat berguna jika digunakan di dapur untuk memotong sayur, tapi ia juga akan sangat merugikan jika digunakan untuk membunuh.

Dalam injil hari ini juga, kiranya menunjukan hal yang sama. Tuhan Yesus mengajak kita untuk tidak berhenti pada sebuah prinsip yang dangkal, yaitu tentang najis tidaknya sebuah makanan yang masuk ke dalam mulut. Prinsip ini hanya berhenti pada hal-hal dunia yang profan. Prinsip ini sama sekali tidak menunjukan sebuah kedalaman. Tuhan Yesus pada hari ini mengajak kita untuk masuk lebih dalam ke lubuk terdalam dari hati kita. Ia mengajak kita untuk mampu mengelola/mengolah hati kita. Sehingga hati kita menjadi hati yang jernih dan murni. Hati kita bebas dari iri hati, dendam, cemburu dan hal-hal negatif lainnya. Mari sebagai sorang Kristiani, kita melihat hati kita, sudahkah kita menyucikan hati kita ataukah hati kita masih terbelenggu oleh hal-hal yang membuat kita terus berada dalam kegelapan?

DOA:

“Ya Tuhan Yesus, ubahlah hati kami yang yang senantiasa keras menjadi hatimu yang putih dan murni seperti hatiMu dan jadikanlah hati kami sebagai sarana untuk mengalirkan kasih kepada semua orang. Sehingga semua orang dapat melihat Engkau melalui hati kami. Amin”***

Reporter : Robert

110 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *