Renungan Harian, Selasa, 06 Februari 2018

Ilustrasi Yesus. Credits : www.facebook.com/thomas.suratno

Ilustrasi Yesus. Credits : www.facebook.com/thomas.suratno

PW St. Paulus Miki dkk, Imam dan Martir

Injil Markus 7: 1-13

Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?”. Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban – yaitu persembahan kepada Allah, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”

RENUNGAN:

Sejak bangun tidur hingga tidur lagi, kita mempunyai banyak sekali kesibukan. Ada yang bekerja, ada yang belajar dan melakukan hal-hal lainnya. Hampir seluruh hari, kita habiskan untuk menjalani rutinitas harian kita. Memang demikianlah manusia, rutinitas dan aktivitas itulah yang menjadikan kita sungguh-sungguh manusia. Namun terkadang, karena kesibukan-kesibukan kita itu, tak jarang kita melupakan hal-hal lain. Tidak jarang kita menomorsekiankan hal-hal lain, termasuk relasi kita dengan Tuhan. Kita seringkali melihat kehidupan doa dan kedekatan kita dengan Tuhan hanya sebagai sebuah rutinitas saja. Kita tidak pernah benar-benar memiliki relasi yang intim denngan Tuhan. Kita hanya menjalankan-kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan oleh Gereja. Akibatnya kita semakin jauh dari Tuhan.

Injil pada hari ini, juga membicarakan hal yang kurang lebih sama. Yesus mengkritik orang-orang farisi dan ahli taurat karena mereka lebih mementingkan tradisi daripada Tuhan. Mereka menomorsatukan tradisi dan menomorsekiankan Tuhan. Tuhan Yesus tidak setuju dengan sikap itu. Sikap yang menomorsekiankan Tuhan. Karenanya, Tuhan mengecam dan menegur mereka. Teguran yang keras ini juga kiranya berlaku juga bagi kita yang terkadang juga menempatkan Tuhan ke nomor yang kesekian. Karena itu hendaklah kita berubah dan bertobat. Kita harus merubah hidup kita dan kembali mengarahkan hidup kita kepada Tuhan. Bagaimana caranya? Kita dapat melakukannya dengan cara yang sederhana yaitu dengan cara mengajak Tuhan dalam segala aktivitas kita. Apa maksudnya? Maksudnya yakni kita mengikutsertakan Tuhan dalam aktivitias kita. Bagaimana caranya? Kita dapat memulainya dengan cara Berdoa sebelum melakukan Aktivitas. Misalnya, memohon berkat Tuhan pada saat bangun pagi, saat akan berangkat kerja saat akan ke sekolah dan tentunya dalam kegiatan-kegiatan lain. Dengan cara yang sederhana seperti ini kita sudah menjadikan Tuhan nomor satu dalam hidup kita.

Dalam hal prinsip Yesus tidak pernah kompromi. Bagi Yesus sikap terhadap Allah harus diutamakan dan bukan peraturan manusiawi, apalagi peraturan yang membuat kita mengabaikan Tuhan dan sesama. Tidak jarang terjadi bahwa demi peraturan ada manusia yang dikorbankan. Dalam kehidupan harian, kita sering menemukan berbagai aturan yang mencekik dan lebih berat daripada aturan Allah sendiri, akibatnya banyak penderitaan dan ketidakadilan karena peraturan yang menindas itu.

Sebagai orang kristen, kita dipanggil untuk berani mengutamakan Allah. Ada banyak kesempatan yang bisa digunakan untuk berbuat kasih Allah. Dan kita harus berani melawan arus dunia yang selalu berlawanan dengan arus kasih Allah itu. Kita tidak perlu takut jika ada aturan yang menghalangi kasih Allah. Inilah saatnya bagi kita untuk menyebarkan dan mewujudkan perintah Allah, yakni membagi kasih ilahi yang kita miliki kepada yang lain.

DOA:

“Ya Tuhan sertailah kami dalam segala rutinitas hidup kami, dan tinggallah dalam diri kami sehingga kami melihat Engaku satu-satunya harapan dan tujuan hidup kami, berilah kami keberanian untuk menyebarkan dan mewujudkan perintah-Mu meski kami banyak menghadapi tantangan dan hambatan. Terpujilah Engkau Tuhan kini dan sepanjang masa. Amin.”***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

132 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *