Renungan Harian, Kamis, 01 Februari 2018

Pekan Biasa IV

INJIL: Mrk 6,7-13

Sekali peristiwa, Yesus memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: “Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.”

Ilustrasi. Credits : www.facebook.com/thomas.suratno.7

Ilustrasi. Credits : www.facebook.com/thomas.suratno.7

RENUNGAN:

Injil hari ini mengajak kita untuk mengandalkan Tuhan dalam tugas perutusan, pun dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai orang yang percaya dan mengimani Yesus sebagai Juru Selamat. Ungkapan “Yesuslah Andalanku.” menunjukkan keyakinan kita bahwa Yesus akan melakukan segala sesuatu kepada kita maupun kepada orang lain melalui diri kita. Sebagai seorang utusan-Nya, Yesus menegaskan kepada pada murid, bahwa rahmat yang diberikan sudah cukup. Ia berpesan, dalam menjalankan misinya tidak usah repot dengan makanan (roti pun jangan) dan harta yang melekat.

Yesus tidak melarang murid memenuhi apa yang dibutuhkan sebagai yang pokok, misalnya boleh bawa tongkat dan sandal. Tetapi, tidak perlu bawa baju berlebihan. Penegasan Yesus kepada murid-Nya dalam persiapan misinya ini bukan karena barang-barang itu tidak perlu, melainkan kalau para murid disibukkan dengan uang, pakaian, dan barang lain maka perhatiannya tidak pada pelayanan dan misi tetapi pada apa yang melekat pada dirinya.

Selain menganjurkan menjalani hidup seorang utusan yang berpikir mana yang perlu, mana yang penting dan mendesak untuk karya misi, Yesus menegaskan, dalam bermisi harus menyatu dalam kehidupan umat. Keterbukaan umat dan kebersamaan dengan mereka adalah sarana yang sangat efektif untuk memperkenalkan kehendak Allah. Melalui kebudayaan setempat, seorang misionaris dan utusan Yesus dituntut memasukkan nilai-nilai kristiani dalam situasi masyarakat tersebut.

Panggilan perutusan yang diberikan Yesus kepada para murid tidak hanya berhenti pada peristiwa masa lalu ketika murid pertama diutus, namun tetap dan berlaku untuk setiap orang beriman kristiani, terlebih karena persembahan dirinya untuk para terpanggil secara khusus (imam, biarawan, dan biarawati). Berkat pembaptisan, setiap dari kita tidak hanya dikuduskan, melainkan dipilih dan diutus mengobarkan budaya kebenaran dalam semangat kenabian, untuk mewujudkan kekudusan hidup dalam semangat imamat dan membangun persekutuan sebagai citra Allah dalam semangat rajawi.

Tuntutan zaman ini membutuhkan para murid Yesus yang setia pada Sabda Allah yang terwujud dalam hidup yang konkret. Umat membutuhkan seseorang yang bisa diteladani dan dicontoh, bukan hanya yang pandai dan pintar. Ketika dunia berlomba-lomba untuk menumpuk kekayaan, tentunya para imam dan religius memberikan teladan bagaimana harta benda digunakan untuk berbuat kasih dan menolong.

Ketika orang berlomba-lomba mencari hidup yang hedonis dan nyaman, para murid Yesus harus berani menjadi pribadi yang siap berjerih payah. Ugahari akan makanan, pakaian, uang, dan fasilitas, kiranya merupakan cara terbaik untuk mengobarkan kembali daya kekuatan Roh yang telah diterimakan dalam tahbisan maupun kaulnya.

Ketika kita dengan tulus dan gembira melayani perutusan-Nya, Tuhan akan menambahkan apa yang kita butuhkan. Kalau kita mencari kesibukan hanya untuk memenuhi keinginan ego kita, rahmat Tuhan akan semakin jauh dari diri dan perutusan kita.

DOA:

“Ya Yesus, bantulah aku untuk selalu memiliki pendirian yang teguh dalam mewartakan Kerajaan-Mu di tengah dunia zaman ini. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari aku pun mampu melakukan kebaikan kepada sesama dengan tulus. Doa ini kuhaturkan kepada-Mu karena Engkaulah Tuhan dan pengantara, kini dan sepanjang masa. Amin.”***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

99 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *