Pakai Kisah Tipuan Ular ke Hawa, Paus Fransiskus Soroti Berita Palsu

Paus Francis melambai ke kerumunan selama audiensi umum mingguan di alun-alun Santo Petrus, Vatikan, pada Rabu (24/1/2018). (AFP/Andreas Solaro)

Paus Francis melambai ke kerumunan selama audiensi umum mingguan di alun-alun Santo Petrus, Vatikan, pada Rabu (24/1/2018). (AFP/Andreas Solaro)

VATICAN CITY, SUARAWAJARFM.com – Pemimpin Gereja Katolik Roma sedunia, Paus Fransiskus menyinggung masalah berita palsu dalam pesannya di Hari Komunikasi Dunia, pada Rabu 24 Januari 2018.

Dia menggambarkan keterkaitan antara fenomena berita palsu dengan kisah alkitab tentang Adam, Hawa, ular, dan buah terlarang.

Paus menyebut peristiwa Hawa yang tertipu oleh ular sebagai kasus berita palsu pertama.

“Kita perlu membuka kedok apa yang disebut sebagai taktik ular, yang juga digunakan oleh mereka yang menyamarkan diri untuk menyerang,” katanya.

Paus Fransiskus menggunakan kisah Adam dan Hawa dari Kitab Kejadian di Perjanjian Lama, untuk menyoroti tidak ada disinformasi yang tidak berbahaya.

Menurutnya, mempercayai kepalsuan dapat memiliki konsekuensi yang mengerikan.

Dalam kisah Kejadian, ular meyakinkan Hawa dan kemudian Adam untuk memakan buah terlarang dari pohon pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan. Hal itu menyebabkan mereka terusir dari Taman Eden.

“Menyebarkan berita palsu dapat digunakan untuk tujuan tertentu, mempengaruhi keputusan politik, dan kepentingan ekonomi,” ujar paus seperti dilansir dari Kompas.com.

Untuk membedakan kebenaran dengan kebohongan, paus menyarankan agar masyarakat melihat hasilnya, seperti apakah berita tersebut memprovokasi pertengkaran, atau sebaliknya.

Paus memandang jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah misi, dan wartawan merupakan pelindung berita yang menyuarakan jurnalisme perdamaian.

Ungkapan fake news atau berita palsu dipopulerkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat memenangkan pemilihan presiden 2016, dan tahun pertamanya di Gedung Putih.

Trump menggunakan istilah itu untuk menggambarkan bias media yang melawannya. Beberapa waktu lalu, Trump juga baru saja mengungkap peraih “Fake News Award” versinya di Twitter.

Penghargaan tersebut mencakup jaringan berita dan surat kabar terkemuka di AS, seperti CNN, The New York Times, dan The Washington Post.***

Editor : Robert

82 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *