Renungan Harian, Rabu, 17 Januari 2018

Ilustrasi Yesus. Sumber foto : rec.or.id

Ilustrasi Yesus. Sumber foto : rec.or.id

PW St. Antonius, Abas

INJIL: Mrk 3:1-6

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!” Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia.

RENUNGAN:

“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4).

Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat merupakan peristiwa yang cukup sering terjadi dan merupakan salah satu isu konflik dengan orang-orang Farisi, hal mana kelihatannya telah menyebabkan ketegangan yang serius antara diri-Nya dengan para petinggi agama Yahudi.

Akan tetapi, di sini Yesus memberikan satu pelajaran yang sangat penting. Yakni, hukum itu baik, dalam hal ini hukum Sabat, namun hukum ini tidak boleh merusak atau mengganggu pelayanan karitatif (Latin: caritas = kasih), artinya melakukan perbuatan baik bagi sesama. Memang, terkadang Yesus bisa dipandang melakukan tindakan yang melawan hukum Sabat dan secara tidak langsung menantang para ahli Taurat dan Farisi. Tetapi, di sini hanya ada dua pilihan yang memang harus dipilih: mengikuti Hukum cintakasih-Nya atau tidak! Jadi, tidak setengah-setengah, seolah-olah bisa ya bisa tidak.

Maka dari itu, kita juga seharusnya menentukan sikap tegas berkaitan dengan cintakasih Kristiani. Apakah kita mau mengubah cara-cara kita yang lama, rutinitas yang biasa untuk melakukan suatu tindakan cintakasih? Maukah kita menolong sesama manusia yang sungguh membutuhkan pertolongan karena berada dalam situasi kritis pada suatu pagi, walaupun hal ini berarti kita tidak dapat menghadiri Misa harian yang sudah merupakan kebiasaan kita, misalnya?

Hukum-hukum atau peraturan adalah baik. Hukum-hukum itu dibuat demi kehidupan yang harmonis dan bahagia dalam kehidupan bersama. Hukum atau peraturan itu semacam rambu-rambu bagi kita dalam menjalani jalan kehidupan bersama kita. Tetapi, hukum cintakasih Kristiani harus berada di atas rambu-rambu jalanan kehidupan kita, artinya apa? Artinya harus berada di atas hukum apa pun. Lalu, hukum cintakasih Kristiani itu merupakan dasar atau tolok ukur akhir dari suatu kehidupan Kristiani yang otentik.

Maka baiklah kalau kita berani bertanya diri: sanggupkah kita mengutamakan hukum cintakasih dalam kehidupan bersama kita? Atau justru kita mencari-cari celah hukum supaya kita tidak berbuat sesuatu dan tidak dipersalahkan ? atau dkl. mau berlindung di balik hukum dan membiarkan sesama terjerat hukum sementara kita seolah-olah terlihat sebagai orang baik, tidak bersalah, padahal diri kita tidak mau melakukan kebaikan dan sebenarnya hati kita “busuk.”

Marilah kita mohon kekuatan kepada Tuhan, supaya kita dimampukan untuk menjalankan hokum cintakasih-Nya dalam kehidupan kita bersama, sehingga kehidupan seperti yang diinginkan Tuhan sungguh menjadi nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.

DOA:

“Ya Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk hukum cintakasih yang Kauberikan kepada kami. Semoga hukum cintakasih-Mu ini senantiasa mengatur hidup kami. Amin.”***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

137 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *