Gubernur Ridho: Lampung Siap Bergandengan Tangan dengan NGO Kawal TNBBS

BANDAR LAMPUNG, SUARAWAJARFM.com — Gubernur Muhammad Ridho Ficardo mengatakan Provinsi Lampung siap bergandengan tangan dengan kalangan aktivis lingkungan dan NGO (Non Government Organizartion) untuk menjaga TNBBS sebagai warisan Dunia. Pesan Gubernur itu disampaikan Sekdaprov Sutono dalam Workshop Conserving The Bukit Barisan Selatan National Park As UN World Heritage in Sumatera, Jumat 8 Desember 2017 di Hotel Sheraton Lampung.

Acara ini diikuti aktivis lingkungan dari Wildlife Conservation Society ( WCS), World Wildlife Fund (WWF), Yayasan Badak Indonesia (Yabi), dan praktisi lingkungan lainnya. ” TNBBS bukan hanya kebanggaan orang Lampung tapi juga merupakan warisan dunia. Sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk keberadaannya. Selain upaya pemerintah daerah, kita bersyukur dengan kehadiran mitra seperti rekan-rekan dari WCS, WWF, Yayasan Badak Indonesia yang turut mendukung mengatasi ancaman dalam pengelolaan TNBBS khususnya dalam perlindungan habitat dan peningkatan populasi satwa kunci, ” kata Sutono.

Sutono pada Gebyar HUT BMPS ke-46, di Gedung Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Bandarlampung, Selasa 7 Oktober 2017 malam.

Sekdaprov Lampung Sutono

Seperti diketahui, Unesco (Organisasi PBB yang mengurusi masalah pendidikan dan kebudayaan) menetapkan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) sebagai Cluster Natural World Heritage Site atau Tapak Warisan Alam Dunia. Hal ini tentu saja merupakan kebanggaan. ” TNBBS bukan hanya kebanggaan orang Lampung tapi juga merupakan warisan dunia. Sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk keberadaannya. Selain upaya pemerintah daerah, kita bersyukur dengan kehadiran mitra seperti rekan-rekan dari WCS, WWF, Yayasan Badak Indonesia yang turut mendukung mengatasi ancaman dalam pengelolaan TNBBS khususnya dalam perlindungan habitat dan peningkatan populasi satwa kunci, ” tambah Sutono

Saat ini, kata Sutono, yang menjadi tantangan adalah terus tumbuhnya populasi masyarakat desa di sekitar kawasan dan mayoritas mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada kawasan hutan untuk itu diperlukan koordinasi yang baik oleh semua pihak terkait.

Selain itu, dalam pengelolaan kawasan TNBBS, ada tiga unsur yang harus diperhatikan yakni perlindungannya, pengawetannnya juga  pemanfaatan hutan yang lestari. TNBBS ditargetkan bukan hanya menjadi hutan yang lestari tapi juga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahetaraan masyarakat. ” Pak Gubernur Ridho terus mendorong upaya percepatan untuk menghijaukan Lampung. Jika hutan Lampung lestari masyarakat juga sejahtera,”  ujar Sutono.

Pada bagian lain, Sutono juga menjelaskan bahwa Lampung berhasil mengurangi kerusakan hutan lebih dari 50% selama lima tahun terakhir. “Alhamdulillah, selama lima tahun terakhir tingkat kerusakan hutan terus menurun menjadi sekitar 50%. Pemprov Lampung khususnya Gubernur Muhammad Ridho Ficarco mendorong program Gelam, yakni  Gerakan Lampung Menghijau untuk percepatan untuk mengijaukan kembali hutan yang rusak,” kata Sutono.

Pemprov juga meminta pemerintah daerah kabupaten khususnya Tanggamus, Pesisir Barat dan Lampung Barat terlibat aktif dalam penyelamatan satwa kunci yang ada di TNBBS khususnya badak.

“Pemkab juga didorong dalam upaya peningkatan ekonomi masyarakat sekitar TNBBS melalui ekonomi masyarakat seperti BumDes,” tambah Sutono.

Ketua Pelaksana workshop Kurnia Rauf mengatakan kegiatan workshop merupakan langkah awal WCS, WWF dan Yabi serta German Ministry of Environment International Climate Initiative (IKI) untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi TNBBS agar diterus dipertahankan sebagai warisan dunia.***

Reporter : Robert

58 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *