Renungan Harian, Kamis, 7 Desember 2017

Ilustrasi Yesus. Credits : google

Ilustrasi Yesus. Credits : google

PW St. Ambrosius – Uskup & Pujangga Gereja

INJIL: Mat 7,21.24-27

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

RENUNGAN:

Apa artinya batu di dalam Kitab Suci? Batu adalah simbol iman kita kepada Tuhan. Batu juga menjadi simbol kekuatan yang berasal dari Tuhan. Kitab Mazmur 18;27;40;62 dan lainnya berisikan nyanyian Daud yang mengatakan Allah sebagai gunung batu atau batu karang. Allah adalah gunung batu berarti Dialah satu-satunya dasar dan perlindungan manusia. Dalam Kitab Perjanjian Baru, Yesus disebut batu penjuru (Ef 2:20) atau batu karang yang hidup (1Pt 2:4). Batu senantiasa menjadi simbol yang penting dalam hidup menggereja karena di samping kita mengingat iman yang berasal dari batu yang Hidup yaitu Yesus Kristus, kita juga mengingat Hirarki Gereja yang didirikan di atas batu karang yang tidak lain adalah Petrus atau Kefas.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini sama-sama mengatakan tentang batu. Kepada orang-orang Yahudi yang berada di Babilonia. Yesaya bernubuat: “Di tanah Yehuda akan dinyanyikan nyanyian ini: Kita mempunyai kota yang kuat! Tuhan telah memasang tembok dan benteng untuk keselamatan kita. Bukalah pintu-pintu gerbangnya, agar masuklah bangsa yang benar dan yang tetap setia. Engkau menjaga orang yang teguh hatinya dengan damai sejahtera, sebab ia percaya kepadaMu. Percayalah kepada Tuhan selama-lamanya, sebab Tuhan Sllah adaah gunung batu yang kekal.” (Yes 26:1-4).

Nabi Yesaya sedang menghibur bangsa Yahudi yang sedang menderita di Babel bahwa pada suatu saat yang tepat mereka akan kembali ke Sion. Kota Sion atau Yerusalem akan dibangun kembali dengan bantuan Tuhan. Dia sendiri yang memasang tembok dan membuat benteng untuk keselamatan kita. Yerusalem nantinya menjadi kota kediaman Allah sendiri dan umat pilihanNya yang tetap setia kepadaNya. Umat Allah saat itu memiliki kepercayaan penuh kepada Yahwe yang bersemayam di Sion. Pada saat ini kita sebagai Gereja mempercayakan seluruh hidup kita kepada Tuhan Yesus Kristus yang menjadi sahabat bagi kaum papa dan miskin.

Yesaya tidak hanya mengingatkan mereka untuk memikirkan Sion tetapi dengan jelas mengatakan tentang kota Babel yang akan diruntuhkan: “Kota-kota di atas gunung telah ditaklukanNya, benteng-benteng yang kuat telah dirobohkanNya, diratakanNya dengan tanah dan dicampakkanNya menjadi debu dan diinjak oleh kaki orang sengsara dan telapak orang-orang lemah” (Yes 26: 5-6).

Kemegahan kota Babel akan runtuh karena kota itu hanyalah buatan tangan manusia berdosa. Sejalan dengan keruntuhannya ini maka Yerusalem akan membuka tanganNya dan membiarkan Tuhan masuk dan tinggal bersamaNya. Dia sendiri yang menyiapkan tempat untuk sisa Israel ini.

Sedang Yesus dalam Injil hari menekankan kuasa Sabda. Pribadi-pribadi yang setia pada sang Sabda akan melakukan kehendak Bapa di dalam Surga. Jadi bukan orang yang hanya tahu berteriak minta tolong kepada Tuhan tetapi orang yang sungguh-sungguh melakukan kehendak Allah Bapa di dalam Surga. Kemampuan mendengar Sabda dan melakukannya adalah suatu kebijaksanaan. Bagi Yesus, mereka ini seperti orang yang membangun rumah di atas batu. Meskipun banyak kesulitan namun mereka tidak akan menyerah karena dasar pijakan mereka adalah Tuhan sendiri. Iman adalah dasar yang kuat supaya orang dapat tahan uji. Tuhan adalah gunung batu dan benteng pertahanan yang kuat.

Sabda Tuhan hari ini memberikan dorongan kepada kita untuk memiliki harapan pada pertolongan Tuhan. Kita tidak dapat berjalan sendiri. Kita butuh Tuhan sebagai benteng pertahanan kita. Ketika dosa menggoda, kita memiliki tempat perlindungan yang nyaman yaitu Allah sendiri. Apakah kita pernah bersyukur karena memiliki Allah yang kuat dan perkasa? Mari kita renungkan bersama hal ini.

DOA:

“Ya Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah gunung batu dan benteng pertahananku. Semoga Engkau sungguh menjadi dasar iman yang kokoh dalam diriku kini dan selamanya. Amin.”***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

20 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *