Renungan Harian Kamis, 30 November 2017

Ilustrasi Yesus. Sumber foto : rec.or.id

Ilustrasi Yesus. Sumber foto : rec.or.id

Pesta St. Andreas, Rasul

INJIL: Mat 4,18-22

Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

RENUNGAN:

Seorang frater (calon romo) dalam membuat paper mata kuliah ‘Kristologi Kontekstual’ mengambil tema tentang bagaimana membahasakan Kristus dalam dunia sekarang ini khususnya dikalangan orang muda dan atau para pengguna media sosial. Atau bagaimana membahasakan Kristus dalam dunia para ciber yang pasti tidak akan banyak berbicara ketika menggunakan bahasa-bahasa teologi dan filsafat. Dalam permenungannya, frater itu menemukan bahasa yang menurutnya bisa ditangkap dan diterima oleh kalangan mereka, yakni “Jesus is The Cyber Star”. Suatu istilah yang “keren” kata anak muda sekarang namun ungkapan itu mungkin tidak sepenuhnya mudah dimengerti dan diterima oleh sebagian besar umat Katolik.

Demikian juga dengan istilah ‘penjala manusia’. Yesus menggunakan istilah itu dengan latarbelakang bahwa para murid berasal dari dunia penjala ikan yang harus nantinya menjadi para murid Yesus untuk menyampaikan misi-Nya. Para nelayan yang menjala ikan dipanggil untuk menjadi penjala manusia, apakah sepenuhnya saat itu dimengerti oleh para murid atau para rasul? Bisa dipastikan tidak sepenuhnya dimengerti apa yang dimaksud Yesus menjadi penjala manusia. Namun bagi kita yang hidup sekian abad setelah para rasul mungkin saja bisa mengerti dengan cukup mudah.

Sebenarnya kata-kata Yesus sendiri sudah menunjukkan bahwa para murid tidak mengerti. Dan proses menjadi penjala manusia itu adalah Yesus sendiri yang membentuknya, bukan dari diri para rasul. Dasar dari penjala manusia adalah pendidikan dan pengajaran Yesus sendiri. Sabda Yesus “Akan Kujadkan penjala manusia” menjadi titik tolak dan dasar panggilan para rasul. Demikian khususnya yang hari ini kita kenangkan bersama, St. Andreas, rasul yang tak lain adalah salah satu dari murid-murid-Nya. Secara alami ia dibentuk menjadi penjala ikan di lingkungan para nelayan. Tetapi secara rohani, Tuhan Yesus lah yang membentuknya menjadi penjala manusia.

Pusat dari penjala manusia itu tidak lain tidak bukan adalah Yesus sendiri. Dari Dialah keluar panggilan itu, dan kepada-Nyalah semuanya akan mengarah dan tertuju. Para rasul bukan tujuan dari penjala manusia itu sendiri, Yesus lah yang menjadi dasar panggilan mereka. Demikian juga dengan kita saat ini, panggilan kita adalah ikut ambil bagian dalam panggilan agung Kristus. Kita dipanggil untuk menjadi murid-murid-Nya, rasul-rasul-Nya atau Nabi-nabi cintakasih pada jaman modern ini untuk membawa orang lain sampai pada Yesus dan percaya kepada-Nya.

Panggilan kerasulan selalu mengingatkan kita sekaligus mengajak kita untuk berefleksi apakah Yesus sudah sungguh menjadi dasar hidup kita? Apakah Dia sungguh “Jesus is my Cyber Star”? Kita bisa memberi label masing-masing atas panggilan kita. Tetapi yang jelas Yesus Kristus adalah Juruselamat kita. Maka ‘label’ itu seharusnya menjadi frame dari seluruh karya dan kehidupan kita. Semoga dengan demikian, nilai-nilai dan semangat kerasulan senantiasa menjadi bagian dari hidup kita sebagai orang yang sudah mendapat rahmat Tuhan dalam baptisan yang sudah kita terima.

DOA:

Ya Tuhan, ajarilah kami untuk berani menjadi penjala manusia dalam konteks dunia saat ini. Semoga kami berani terus menerus meniru para rasul yang setia sampai akhir hidup mereka menjadi warta keselamatan-Mu. Semoga darah kemartiran mereka mampu menjadi teladan bagi hidup dan perjuangan kami. Amin.***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

23 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *