Daya Saing Naik, Lampung Berpeluang Jadi Lokomotif Sumatera

Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo , di Manasseh Meyer Building, Lee Kuan Yew School of Public Policy, Bukit Timah, Singapura, Jumat 24 November 2017.

Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo , di Manasseh Meyer Building, Lee Kuan Yew School of Public Policy, Bukit Timah, Singapura, Jumat 24 November 2017.

SINGAPURA, SUARAWAJARFM.com — Kenaikan daya saing dari 14 ke 11 nasional membuat Provinsi Lampung berpeluang menjadi lokomotif perekonomian Sumatera. Syaratnya, Pemerintah Provinsi Lampung harus konsisten mempertahankan kondisi sebagai daerah ramah investasi.

“Daya saing daerah sangat ditentukan oleh pemerintah dalam memberi ruang dan suasana yang konsisten kepada para pebisnis. Saya menghargai upaya Gubernur Lampung yang luar biasa. Tetapi dari pengalaman saya, tidak cukup hanya Gubernur yang bergerak. Para bupati harus dirangsang kuat untuk ikut terlibat,” kata Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI), Syahrul Yasin Limpo, di Manasseh Meyer Building, Lee Kuan Yew School of Public Policy, Bukit Timah, Singapura, Jumat 24 November 2017.

Pernyataan tersebut dia sampaikan terkait kenaikan daya saing Lampung ke posisi 11 nasional hasil penelitian Lembaga pengkajian daya saing Asia Competitiveness Institute (ACI) National University of Singapore (NUS). Syahrul Yasin Limpo yang juga Gubernur Sulawesi Selatan dan Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo tampil pada sesi diskusi akademisi. Keduanya diundang berbicara di depan para akademisi karena dinilai konsisten meningkatkan daya saing provinsi masing-masing.

Menurut Syahrul, posisi Lampung sama dengan Sulawesi Selatan. Lampung sebagai pintu gerbang Sumatera dan Sulawesi Selatan sebagai pintu gerbang menuju Indonesia timur. Pencapaian itu harus menjadi modal bagi Gubernur Ridho dalam menjadikan Lampung sebagai lokomotif pembangunan Sumatera. “Lampung harus jadi jembatan Jawa-Sumatera,” kata Syahrul.

Pencapaian itu, kata Syahrul, dicapai berkat kegigihan Pemerintah Provinsi Lampung dan kepercayaan pengusaha kepada Lampung. Walaupun pemerintahan bagus, namun tidak didukung kepercayaan pengusaha, tidak akan menaikkan daya saing daerah. “Itu membutuhkan pengondisian agar pengusaha percaya. Harus win-win karena pengusaha dan pemerintah sama-sama punya kepentingan,” kata Syahrul Yasin Limpo.

Melihat makin tingginya kenaikan daya saing Lampung, sebagai Ketua APPSI, dia menilai sudah saatnya pemerintah pusat lebih banyak meratakan pembangunan ke daerah. “Kekuatan Indonesia itu tidak lagi di Jakarta, tapi di semua sudut Indonesia. Kekuatan Indonesia itu seperti apa kekuatan provinsi. Oleh karena itu, pemerintah pusat memberikan dukungan, bukan menarik kewenangan itu ke atas sehingga daerah bisa berkembang lebih luas,” kata Syahrul.

Pada sesi penyampaian daya saing, Gubernur Ridho memaparkan Lampung memiliki semua syarat untuk berkembang menjadi lokomotif Sumatera. Kondisi komparatif seperti Jalan Tol Trans Sumatera, Bandara Radin Inten II, Pelabuhan Panjang, dan penyeberangan Bakauheni-Merak, merupakan konektivitas yang membuat Lampung menjadi daerah tujuan investasi.

“Lampung surplus di bidang pangan seperti beras, jagung, singkong, dan ternak. Singapura tak jauh dari Lampung dan tak lama lagi konektivitas Lampung-Singapura akan terjalin. Kami tengah membenahi berbagai persoalan infrastruktur dengan mengalokasikan dana besar agar industrialisasi dan hilirisasi hasil pertanian makin berkembang. Kami komitmen menjadikan Lampung sebagai provinsi ramah investasi,” kata Gubernur Ridho.

Fokus pembangunan Lampung yakni pertanian, industri, dan pariwisata, menurut Ridho didukung terus membaiknya keamanan. Salah satu bentuknya, Kementerian Dalam Negeri secara konsisten menetapkan Lampung pada posisi pertama dalam penyelesaian konflik. “Dengan kenaikan daya saing ini, kami berharap dapat membuat lompatan tinggi terhadap pembangunan Lampung,” kata Ridho.

Sejak 2015, ACI meneliti daya saing 34 provinsi di Indonesia dengan memakai sejumlah indikator. Hasilnya, daya saing Lampung konsisten naik dari posisi 25, kemudian 14, dan terakhir 11 nasional. ACI bahkan menempatkan dua indikator yakni keuangan, bisnis, dan tenaga kerja, Lampung bahkan menyodok di posisi 9 nasional dari semula 21 pada 2015. Kemudian, pada indikator pemerintah dan institusi publik, Lampung di posisi delapan dari sebelumnya dari peringkat 28 nasional.

Melihat tren itu, Lampung berpeluang masuk 10 besar daya saing nasional karena dua dari empat indikatornya berada di 10 besar nasional. Kenaikan tajam daya saing itu, membuat ACI kini menempatkan Lampung di zona competitiveness. Untuk itu, Lampung harus bersaing dengan Sulawesi Selatan, Bali, Kepulauan Riau, dan seluruh provinsi di Pulau Jawa, agar masuk 10 besar.

“Indikator daya saing ini dijadikan para pengusaha untuk menilai apakah suatu provinsi layak dijadikan tempat berinvestasi. Pemeringkatan yang kami buat menjadi salah satu acuan dan hasil penelitian ini kami sebarkan ke berbagai negara sebagai kajian akademis,” kata Research Fellow and Deputy Director ACI, Mulya Amri, pada seminar tersebut.***

Reporter : Robert

16 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *