Renungan Harian, Jumat, 24 Nopember 2017

Ilustrasi Yesus. Credits : dinamikaiman.wordpress.com

Ilustrasi Yesus. Credits : dinamikaiman.wordpress.com

PW St. Andreas Dung Lac, dkk. Imam & Martir

INJIL: Luk 19:45-48

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

RENUNGAN:

Mengapa Yesus mengusir semua pedagang di dalam Bait Allah di Yerusalem? Apakah Ia kecewa karena keserakahan mereka? Ini adalah satu-satunya insiden yang tercatat di dalam Injil dimana Yesus menggunakan kekuatan fisik. Yesus masuk ke kota Yerusalem, Ia tahu bahwa akan menghadapai kematian pada salib, dan akan mengalami pula kemuliaan demi kita. Tindakan-Nya itu yang mengusir dan menjungkirbalikkan meja-meja pedagang di Bait Allah perlu diartikan sebagai tanda kenabian dan peringatan kepada orang-orang bahwa Tuhan sangat menginginkan sembah bakti kita secara serius dan sungguh-sungguh – apalagi sembah bakti di Bait Allah.

Dalam insiden ini kita melihat tindakan cepat dan mengejutkan yang dilakukan Yesus dalam membersihkan Bait Allah dari mereka yang mengekploitasi para penyembah Tuhan. Para pedagang memeras orang miskin dan memaksa mereka membayar berkali-kali lipat – dan dilakukan di dalam Rumah Tuhan! Kelakuan jahat mereka itu tidak hanya berarti tidak hormat kepada Tuhan namun juga tidak adil terhadap sesama mereka. Terhadap tindakan-Nya itu, Yesus mengutip perkataan nabi Yesaya yang mengatakan “mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.” (Yesaya 56:7) dan Yeremia “Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini? Kalau Aku, Aku sendiri melihat semuanya, demikianlah firman TUHAN.”(Yeremia 7:11).

Tindakan pengusiran-Nya itu bertujuam untuk memurnikan, membetulkan cara-cara salah yang mereka lakukan. Meskipun ada keberatan dari para pemimpin agama, namun tidak diragukan lagi Yesus telah merebut otoritas mereka di dalam rumah Allah. Hal ini kelihatan jelas karena orang-orang yang mendengarkan Yesus mengajar setiap hari di Bait Allah memandang-Nya dengan kagum dan rasa hormat. Penginjil Lukas menceritakan bahwa “seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.” (Lukas 19:48).

Jika kita mendekatkan diri kepada firman Tuhan dengan rendah hati dan dengan kesediaan untuk diajar oleh Tuhan, maka kita sedang berada di tempat yang benar agar firman Tuhan mengubah dan mentransformasi kita menjadi serupa dengan Kristus. Tuhan ingin mengajar kita jalan-jalan-Nya agar kita bisa bertumbuh dalam kekudusan. Tuhan memberi instruksi dan memberi teguran keras kepada kita di dalam kasih agar kita terhindar dari kesalahan dan agar kita melihat kebenaran dan keadilan. Kiranya peristiwa Yesus mengusir para pedagang dari Bait Allah pun perlu kita tempatkan dalam kaitannya dengan Tuhan yang sedang memberi instruksi dan teguran keras. “Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” (Ibrani 12:10).

Tuhan memanggil kita agar menjadi kudus yang menyembah Dia dengan rendah hati dan syukur atas belas kasih-Nya kepada kita. Apakah kita, Anda dan saya mengijinkan firman Tuhan mentransformasi kita di dalam jalan kasih dan kekudusan-Nya? Semuanya kembali kepada kesediaan hati kita semua. Walau pun Yesus telah menegur kita dengan memerintahkan untuk memurnikan, menyucikan atau menguduskan diri kita, kita tetaplah manusia yang dianugerahi kebebasan sejak semula oleh Allah. Walau pun perintah itu demi kebaikan kita, kita pun bisa menolaknya. Semoga kita semua dapat memahami apa yang menjadi kegundahan, keprihatinan dan kemarahan Yesus. Dan akhirnya menyadari bahwa demi keselamatan kita harus melakukan apa yang menjadi ajakan-Nya.

DOA :

“Tuhan Yesus, Engkau membuka lebar pintu rumah-Mu dan Engkau membiarkan kami masuk dengan penuh keyakinan agar kami bisa menyembah Engkau dalam roh dan kebenaran. Bantulah aku agar bisa dekat kepada-Mu dengan rasa syukur dan sukacita atas belas kasih-Mu. Semoga aku selalu menghormati firman-Mu dan memberikan Engkau puji-pujian dan sembah yang sepantasnya. Amin.”***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

134 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *