Renungan Harian, Kamis, 23 Nopember 2017

Ilustrasi Hati Kudus Yesus. Sumber foto : 4.bp.blogspot.com

Ilustrasi Hati Kudus Yesus. Sumber foto : 4.bp.blogspot.com

Pekan Biasa XXXIII

INJIL: Luk 19:41-44

Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”

RENUNGAN:

Menurut Anda, apakah yang menjadi musuh dari kedamaian di dalam rumah, kota, dan bangsa kita masing-masing dan apakah yang menghalangi kita dari relasi yang baik dengan Tuhan dan dengan sesama kita? Sewaktu Yesus telah dekat kota Yerusalem Ia menangisi kota itu karena para penduduknya “tidak mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteranya” (Lukas 19:42). Istilah “menangis” di sini mungkin bisa juga diartikan sebagai keprihatinan dan empati yang mendalam sehingga menitikkan air mata. Yesus akan memberikan kebahagiaan bagi mereka yang “menangis” dan bagi mereka yang membuat perdamaian – “berbahagialah orang yang berkabung … berbahagialah orang yang membawa damai” (Matius 5,4.9). Itulah sebabnya Yesus pergi ke Yerusalem untuk disalibkan tidak hanya demi dosa-dosa penduduknya tetapi juga untuk mendamaikan seluruh dunia – semua orang yang berdosa – dengan Allah. Berduka dan menangis atas dosa dan ketidaksetiaan akan mengarahkan kita ke perdamaian dan rekonsiliasi sejati tidak hanya dengan Allah tetapi juga dengan sesama kita.

Pelayanan Yesus di dunia dipusatkan dan memuncak di Yerusalem, yang oleh para penulis kitab suci disebut sebagai kota suci, tahta Tuhan (Yeremia 3:17); dan tempat dimana Tuhan tinggal (1Raja-raja 11:13; 2 Raja-raja 21:4; 2 Raja-raja 23:27); dan gunung kudus dimana Tuhan ditetapkan sebagai Raja (Mazmur 2:6). Yerusalem mengambil namanya dari kata “salem” yang berarti “damai”. Bait Allah di Yerusalem merupakan tanda yang mengingatkan penduduknya bahwa Tuhan hadir bersama mereka.

Mengapa Yesus menangisi kota ini? Para penduduknya telah menolak para nabi yang berbicara dalam nama Tuhan karena kesombongan dan ketidakpercayaan mereka. Sekarang mereka menolak mendegarkan Yesus yang datang sebagai Mesias mereka – yang telah Tuhan urapi sebagai Penyelamat mereka dan Pangeran Perdamaian (Yesaya 9:6). Masuknya Yesus ke kota Yerusalem merupakan kunjungan penuh rahmat dari Raja yang diurapi oleh Tuhan untuk kota suci ini. Namun demikian, karena Yerusalem kurang beriman dan menolak Mesias, maka akan membawanya kepada kehancuran dan kerusakan.

Ratapan/lamentasi Yesus dan nubuatnya atas Yerusalem menggemakan ratapan nabi Yeremia yang menubuatkan kehancuran pertama Yerusalem dan Bait Allah. Ratapan Yeremia menawarkan pengharapan akan kebebasan dan pemulihan : “oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya…Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan. Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya.” (Ratapan 3:21-22, 31-32). Yesus adalah pengharapan dunia karena Ia adalah satu-satunya yang sungguh bisa merekonsiliasi kita dengan Tuhan dan dengan sesama. Melalui wafat dan kebangkitan-Nya Yesus merobohkan tembok-tembok permusuhan dan perpecahan dengan merekonsiliasi kita dengan Tuhan. Dia memberi kita Roh Kudus-Nya untuk memurnikan dan merestorasi kita sebagai umat kudus Tuhan. Melalui Kristus kita menjadi bait Roh Kudus yang hidup (1 Korintus 6:19). Tuhan telah mengunjungi kita umatnya pada masa lampau dan Ia terus mengunjungi kita melalui semua anugerah dan karya Roh Kudus-Nya. Apakah Anda bisa mengenali kunjungan rahmat Tuhan hari ini?

DOA:

“Tuhan Yesus, Engkau telah melawat dan menebus umat-Mu. Semoga aku tidak melewatkan anugerah kunjungan-Mu hari ini karena Engkau membawa semua umat-Mu ke dalam kebaikan dan kekudusan hidup yang lebih besar. Murnikan hati dan pikiranku agar aku bisa memahami jalan-jalan-Mu dan menyerahkan seluruh hidupku kepada kehendak-Mu. Amin.”***

Reporter : Robert

29 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *