Renungan Harian, Senin, 20 November 2017

kotbah-yesus-di-bukit-747707

Ilustrasi Yesus. Credits : Google

Pekan Biasa XXXIII

INJIL: Luk 18:35-43

Ketika Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta duduk di pinggir jalan dan mengemis. Karena mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Ada apa itu?” Kata orang kepadanya,”Yesus orang Nazaret, sedang lewat.” Maka si buta berseru,”Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Maka Yesus pun berhenti dan menyuruh orang mengantar dia kepada-Nya. Ketika si buta itu sudah dekat, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kauinginkan kuperbuat bagimu?” Jawab orang itu,”Tuhan, semoga aku melihat!” Maka Yesus berkata, “Melihatlah, imanmu telah menyelamatkan dikau.” Pada saat itu juga ia melihat, lalu mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat menyaksikan peristiwa itu dan memuji-muji Allah.

RENUNGAN:

Biasanya, bila salah satu indera manusia tidak berfungsi, maka indera yang lain akan lebih berfungsi. Hal itu dapat kita perhatikan dalam diri Bartimeus yang buta. Secara nyata indera penglihatannya tak berfungsi, tapi pendengarannya sangat tajam. Waktu dia mendengar orang banyak lewat ia sadar bahwa ada sesuatu yang istimewa, maka dia bertanya: “Apa itu?” Ketika ia mendapat jawaban bahwa Yesus orang Nazaret lewat, ia berseru: “Yesus Anak Daud, kasihanilah aku.” Ternyata lewat pendengarannya ia tahu banyak tentang Yesus, sebagai anak Daud. Sebagai Anak Daud, dia tahu bahwa Yesus itu seorang yang berkuasa dan orang yang berbelas kasih, maka dia mohon: “Anak Daud, kasihanilah aku.” Orang-orang melarangnya, namun dengan lebih keras lagi ia berseru mengungkapkan pengetahuan dan serentak kepercayaannya akan Anak Daud itu.

Yesus mendengar seruan Bartimeus dan menaruh perhatian padanya dan minta supaya dibawa kepada-Nya. Lalu Yesus berdialog dengan Bartimeus dengan menanyakan keinginan Bartimeus. Betapa bahagia Bartimeus, sebab Yesus yang dia dengar dari orang lain, kini ada di depannya dan berbicara langsung dengannya. Maka pengetahuan yang menumbuhkan kepercayaan dan pengharapan dalam dirinya makin kuat dan kini ia menyerahkan kerinduannya itu kepada Anak Daud dengan berkata: “Tuhan, supaya aku dapat melihat.” Dengan ini Bartimeus mengungkapkan imannya yang benar: Yesus bukan saja Anak Daud, sebagai raja yang terkenal, tapi Dialah TUHAN, yang Maha kuasa. Maka iman sebesar itu diganjari dengan penglihatan secara fisik, tapi lebih lagi, kini dia melihat dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan, yang harus diikutinya sambil memuliakan Allah.

Mungkin banyak hal sudah kita tahu lewat pendengaran tentang diri Yesus. Ada baiknya kita tanya pada diri, sejauh mana pengetahuan itu membawa kita pada kepercayaan akan Dia? Apakah kepercayaan itu membuat kita semakin berharap pada Dia dan akhirnya kita mengikutinya sambil memuliakan Tuhan? Kalau ya, iman telah menyelamatkan kita.

Banyak dari manusia di atas bumi ini kemungkinan besar sudah banyak yang tahu tentang Yesus Kristus. Entah pengetahuan itu diperoleh dari seseorang, atau membaca buku-buku keagamaan, atau bahkan dari Injil sendiri. Namun, tidakkah kenyataannya masih banyak di antara mereka yang tidak sampai percaya kepada Yesus, bahwa Dia adalah Tuhan? Apalagi mau mengikuti-Nya. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa tahu saja itu belumlah cukup. Lalu bagaimana dengan kita sendiri yang sudah dibaptis, percaya kepada Yesus, apakah kita kemudian sungguh mengikuti Dia dengan segenap hati kita? Jangan-jangan sekarang kita sedang mengalami kebutaan rohani. Tahu tetapi belum atau bahkan tidak mau mengikuti Tuhan Yesus dengan segenap hati dan seluruh hidup kita.

Tuhan Yesus menunjukkan kepada kita bahwa orang yang mengaku Kristen tetapi tidak sadar akan kebutuhan rohaninya adalah orang yang buta dan telanjang, tidak memahami kondisinya yang sedang meraba-raba dan malang (lih. Wahyu 3:17). Seperti halnya berada dalam kegelapan untuk waktu yang lama mengakibatkan kebutaan terhadap mata jasmani, rasul Yohanes menunjukkan bahwa seorang Kristen yang membenci saudaranya seolah-olah sedang berjalan tanpa tujuan dalam kegelapan yang membutakan (lih. 1 Yohanes 2:11); dan rasul Petrus memperingatkan bahwa orang yang tidak memupuk buah-buah Kristen, yang terbesar di antaranya adalah kasih, “buta, menutup matanya terhadap cahaya” (2 Petrus 1:5-9). Sumber kegelapan dan kebutaan rohani tersebut adalah Setan si Iblis yang menyamar menjadi “malaikat terang” yang telah membutakan pikiran orang-orang yang tidak percaya agar mereka tidak memahami kabar baik tentang Tuhan Yesus Kristus (lih. Lukas 22:53; 2 Korintus 4:4; 11:14-15).

DOA:

”Ya Tuhan Yesus, ampunilah aku karena walau pun aku sudah percaya kepada-Mu namun dalam perjalanan hidupku belum 100% dapat mengikuti-Mu secara konsekwen. Ampunilah dosa-dosaku. Amin.”***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

35 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *