Renungan Harian, Jumat, 20 Oktober 2017

Ilustrasi Hati Kudus Yesus. Sumber foto : 4.bp.blogspot.com

Ilustrasi Hati Kudus Yesus. Sumber foto : 4.bp.blogspot.com

Pekan Biasa XXVIII

INJIL: Luk 12,1-7

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.

RENUNGAN:

Allah menciptakan manusia dan memeteraikannya untuk sebuah tugas mulia, yaitu memuji dan memuliakan Allah (bdk.Ef.1:14). Itulah yang dikatakan oleh Santo Paulus; bahwa sejak awal penciptaan kita ke dunia ini, kita ini milik Allah dan kita mempunyai tugas yang jelas dari Allah. Kita hidup bukan untuk diri kita sendiri. Itulah yang telah dimeteraikan atau ditentukan oleh Allah.

Oleh karena itu, Yesus menegaskan bahwa kita harus takut kepada dia yang mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka (bdk. Luk.12;5 ). Maksud Yesus, bukanlah supaya kita hidup dalam ketakutan, diawasi dan dinilai terus oleh Allah. Kalau demikian, kita melakukan segala hal yang baik karena terpaksa dan karena kita takut dihukum oleh Allah. Bukan itu maksudnya. Takut akan Allah berarti, dalam bersikap dan bertindak kita selalu memperhitungkan dan menghormati keberadaan Allah. Kita tidak senaknya saja. Kita sadar bahwa hidup kita adalah anugerah Allah, sedangkan cara kita hidup merupakan jalan atau cara kita memuliakan Allah. Orang yang takut akan Allah, dengan demikian, tidak akan takut menghadapi gejolak dunia ini, tidak akan cemas dan khawatir dengan apa yang akan menimpa kita di kemudian hari, karena kita begitu berharga di mata Allah.

Ada suatu ungkapan berbunyi “ Hendaklah kamu tidak takut, lebarkanlah pintu hatimu bagi Kristus”. Banyak tokoh atau pun orang Kristen yang menyerukan suatu tindakan kebenaran, perdamaiaan dan keadilan kepada bangsa-bangsa. Tindakan tersebut dilatarbelakangi oleh sikap ketidaktakutan terhadap pelbagai ancaman ataupun rintangan.

Injil hari ini juga mengisahkan bahwa Yesus tidak pernah jemu-jemunya mengajak para murid-Nya untuk tidak takut. Dia memberikan kepastian penyelenggaraan Ilahi bagi para murid. Ajakan ini diungkapkan Yesus terhadap para pendengar-Nya bahwa burung pipit dijaga Allah begitu juga jaminan hidup burung tersebut, bagaimana halnya para pengikut Yesus. Allah adalah sahabat sejati manusia di sepanjang perjalanan hidup berimannya. Yesus mengajak para murid dan para pendengar-Nya bahwa Allah tidak akan membiarkan mereka binasa dan terancanm. Ajakan Yesus ini menghimbau ktia sebagai pengikut Kristus yang sejati untuk tidak takut dalam mewartakan iman dan memberikan kesaksian hidup di tengah dunia ini. Hal ini telah terealisasi dalam pengalaman hidup beriman Abraham sebagai contoh dan teladan yang benar dan tepat, bagaimana ia beriman terhadap Allah. Pada masa lalu bapa Abraham telah berhasil dan terbukti sebagai orang beriman yang tidak takut dalam memberikan kesaksian imannya dan bagaimana kita sekarang ini sebagai pengikut Kristus yang sejati? Beranikah kita mewartakan Kristus di tengah dunia ini yang penuh tantangan? Yakinkah kita atas penyelenggaraan Allah di sepanjang perjalanan hidup beriman kita?

DOA:

“Ya Bapa, yang maharahim, aku sadar bahwa aku ini berasal dari-Mu dan kelak aku kembali kepada-Mu. Itulah kodrat hidupku. Maka tuntunlah hidupku agar aku bisa member kesaksian dengan memuliakan Engkau dalam kehidupanku: berjuang demi nama-Mu dan bukannya menyia-nyiakan berkat yang telah aku terima dari-Mu. Amin.”***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

43 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *