Renungan Harian, Sabtu 9 September 2017

Memetik gandum

Sabtu Pekan Biasa XXII

Bacaan: Lukas 6:1-5

Murid-murid memetik gandum pada hari Sabat

6:1 Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. 6:2 Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” 6:3 Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, 6:4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?” 6:5 Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Renungan

Hubungan kasih antar sesama manusia dan hubungan kasih antara manusia dengan Tuhan menjadi inti dari hukum yang Yesus berikan kepada para murid. Demikian juga dengan hukum dan peraturan yang lain arahnya untuk membangun hubungan yang baik antara sesama manusia dengan hubungan dengan Tuhan. Namun sering kali terjadi justru hukum dan aturan itu semakin menjauhkan satu sama lain, bahkan mungkin saja menjauhkan diri dari Tuhan sendiri. Sementara Tuhan ‘mengabaikan’ hukum ilahi supaya bisa berkomunikasi dan menjumpai manusia.

Kecenderungan yang sering terjadi adalah bahwa dengan hukum kita dimasukkan dalam zona ‘boleh dan tidak boleh’, ‘dilarang atau tidak dilarang’. Kita kerap kali masuk dalam zona larangan “jangan begini, jangan begitu”. Nadanya memang membatasi ruang gerak. Apakah kita mau hanya menjadi produk hukum yang demikian?

Yesus menawarkan produk hukum kasih yang semakin membangun kemanusiaan, juga membangun relasi yang semakin intin dengan Allah sendiri. Hukum kasih menjadi intisari hukum Taurat. Hukum kasih tidak membiarkan orang mati kelaparan sementara disitu ada berlimpah makanan persembahan; hukum kasih tidak membiarkan orang yang sekarat karena dirampok dengan alasan takut najis karena mau berdoa; hukum kasih memberi ruang Gereja bagi mereka yang terkena dampak bencana, menjadi naungan berteduh bagi mereka yang putus harapan.

Semoga kita semakin dimampukan untuk mengerti hukum kasih. Karena kasih itulah Kristus sampai pada pengosongan diri (kenosis), menjumpai manusia dan menebus manusia.

 

40 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *