Renungan Harian, Sabtu 26 Agustus 2017

2711Sabtu Pekan Biasa XX

Bacaan: Matius 23:1-12

Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi

23:1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 23:2 “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. 23:3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. 23:4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. 23:5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; 23:6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; 23:7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. 23:8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. 23:9 Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. 23:10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. 23:11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 23:12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Renungan

Menghormati dan menghargai orang lain adalah sikap luhur yang perlu dimiliki olah setiap orang Kristiani. Sangat boleh tidak setuju dan tidak sependapat, tetapi berusaha tetap menghargai dan menghormati ada panggilan kita bersama. Tanpa itu, perang saudara yang hanya akan terjadi. Seni hidup orang beriman adalah bahwa ditengah ketidaksetujuannya, dia tetap bisa menghargai dan menghormati pihak lain sebagi yang in heren adalah berharga.

Hal itu juga ditegaskan oleh Yesus dalam perikopa hari ini. Terhadap mereka yang ‘menduduki kursi Musa’, artinya legal punya kekuasaan menetukan, kita perlu untuk mengikuti kata-katanya. Maksudnya, jika mereka setia kepada hukum, kita perlu untuk manaati hukum itu. Tetapi demikian, tidak otomatis mereka yang mengatakan hukum yang baik-baik, bisa menjalankannya juga dengan demikian. Atau dengan kata lain, belum tentu hidupnya juga baik. Tetapi meski hidupnya tidak baik, kita tetap harus menghormati dan menghargai, paling tidak terhadap kata-katanya.

Yesus juga menegaskan “barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Kiranya ini dialami banyak orang, dan terbukti demikian. Orang akan respect kepada mereka yang juga respect terhadap orang lain. Sementara orang yang arogan, akan lebih banyak dicela.

Kerendahan hati biasanya juga didukung dengan unsur pengetahuan. Jika pengetahuannya semakin luas dan dalam, ia akan mampu lebih mengerti realitas sesungguh, dan akan jauh lebih berani rendah hati. Semakin orang mendalami sesuatu, semakin dia merasa tidak mengerti apa-apa. Namun semakin orang tidak mendalami apa-apa, seolah-olah ia tahu semuanya. Disanalah kesombongan itu tumbuh subur, dibarengi dengan semangat belajar yang rendah.

Semakin orang tidak mengerti, semakin banyak dia bicara; semakin orang mengerti dengan sungguh, semakin mampu ia menyaring banyak hal dan mengeluarkan yang perlu saja. Semakin seseorang beriman, pastilah semakin dibarengi dengan sikap kerendahan hati yang tulus: berani tetap menghargai orang lain meski dia tidak sependapat. Tuhan memberkati.

 

79 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *