Buah Pemikiran Konfernas Umat Katolik Indonesia

Konfernas 2017

RADIO SUARA WAJAR – Berikut ini kami sajikan untuk pembaca semuanya butir-butir Konfernas Umat Katolik Indonesia seperti yang tertulis di website Dokpen KWI pada 14 Agustus 2017 yang lalu.

Konferensi Nasional Umat Katolik Indonesia, Sabtu (12/8/2017) diselenggarakan oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Aula Unika Atmajaya dengan mengambil tema “Revitalisasi Pancasila.” Ketua Panitia, Muliawan Margadana dalam siaran persnya menyampaikan bahwa Umat Katolik Indonesia mempertegas bahwa para pendiri bangsa secara sangat tepat dan benar telah mewariskan Pancasila kepada bangsa Indonesia. Hanya Pancasila yang bisa menjadi dasar negara dan falsafah kehidupan bangsa Indonesia yang sangat multikultur ini.

Konferensi ini sekaligus merupakan keputusan strategis Gereja Katolik Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Konfernas juga menegaskan sikap umat Katolik Indonesia untuk mendorong pelaksanaan nilai-nilai Pancasila bagi seluruh masyarakat, bangsa dan warga negara Indonesia.

Umat Katolik menilai Pancasila harus dikembalikan lagi sebagai falsafah hidup bangsa, sehingga sebagai satu bangsa harus saling menjaga, memupuk, dan menumbuhkan Pancasila.

Konfernas ini ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Ende, yang juga Ketua Komisi Kerawam KWI, Mgr Vincentius Sensi Potokota.

Berikut butir-butir pemikiran yang disampaikan pada akhir seluruh rangkaian Konfernas:

Mewakili panitia, pertama-tama kami mengucapkan syukur kepada Allah Bapa, bahwa acara Konferensi Nasional Umat Katolik Indonesia tentang Revitalisasi Pancasila telah berlangsung dengan lancar, aman dan bermutu tinggi. Segala jerih-payah persiapan sejak dua (2) bulan lalu terbayar tunai.

Tekanan “bermutu tinggi” adalah sesuatu yang menjadi target Komisi Kerasulan Awam KWI selaku penyelenggara. Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal:

  1. Kehadiran peserta yang melebihi target
  2. Kehadiran narasumber yang mencapai 100%. Terdapat 14 narasumber non-menteri yang diundang, dan semuanya hadir seraya menyiapkan makalah
  3. Jika kualifikasi menteri dijadikan ukuran, maka kehadiran tiga (3) menteri sudah bisa menjadi fakta yang bicara dengan sendirinya
  4. Kualitas topik yang disajikan oleh narasumber
  5. Kualitas mulai dari pertanyaan hingga perdebatan yang muncul di empat (4) sesi paralel

Selanjutnya, kami mencatat beberapa butir pemikiran yang muncul dalam sesi pleno. Walau keempat pembicara (Men-ESDM, Menhan, Menkominfo dan Bapak Bambang Ismawan) memiliki topik dan penekanan yang berbeda-beda, namun sebenarnya terdapat benang merah pemikiran di antara mereka:

  1. Di mata semua pembicara, gereja Katolik dan umat Katolik, dianggap sebagai penting dalam rangka mendorong revitalisasi pancasila di masyarakat
  2. Terdapat cara yang berbeda-beda dalam rangka mendorong revitalisasi Pancasila. Walaupun Pancasila sendiri dipersepsi sebagai sesuatu yang mutlak dan final, namun terdapat perbedaan cara yang tersedia bagi umat Katolik untuk melakukan revitalisasi pancasila yang dianggap sesuai. Bisa dengan cara: Peningkatan semangat kebangsaan, Bela negara, Restorasi desa, Pemberdayaan kemampuan ekonomi desa, Penggunaan media sosial yang bermanfaat, dan Berinteraksi lintas agama

Terkait beberapa sesi paralel, yang membicarakan mulai dari tantangan untuk pancasila, pancasila dan gaya hidup, pancasila dalam perpolitikan serta pancasila menghadapi intoleransi dan radikalisme, terdapat beberapa butir pemikiran yang muncul dalam diskusi:

  1. Amat perlu membangun manusia Katolik yang berkarakter dan berintegritas mulai dari keluarga. Agar bisa menjadi model bagi orang lain dan menjadi pimpinan di manapun.
  2. Secara kesejarahan, umat Islam sebenarnya berbesar hati demi kesatuan dan persatuan indonesia. Hal itu dilakukan melalui pencabutan 7 kata dalam Piagam Jakarta. Karena itu, umat Katolik juga perlu menghargainya, tidak dengan cara menjadikan pancasila sebagai mantra, namun sebagai sesuatu yang kongkret.
  3. Hukum memainkan peran penting dalam revitalisasi Pancasila. Konsistensi hukum khususnya menyangkut pembuatan dan implementasi hukum, adalah yang diharapkan dari hukum tersebut.
  4. Radikalisme harus dilawan. Jangan dibiarkan. Dalam kaitan itu, penertiban media sosial jangan setengah-setengah. Kontra narasi melalui berbagai aras harus dilakukan maksimal.
  5. Diingatkan agar jangan sampai upaya merevitalisasi pancasila membuat kita kembali seperti zaman orba. Khasanah kita tentang pancasila tidak kaya, hanya melalui gambaran masa orla, orba dan reformasi.
  6. Partisipasi politik umat katolik indonesia yang signifikan adalah niscaya dalam pikiran, perkataan dan, terutama, perbuatan

Bagian tak kalah penting dari konferensi ini adalah asupan kebijakan yang dipersiapkan oleh empat (4) perguruan tinggi Katolik (Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Universitas Katolik Atmajaya Yogyakarta, Universitas Katolik Soegijapranata dan Universitas Katolik Parahyangan Bandung). Terdapat banyak sekali hal penting dan bernas yang bisa disarankan kepada Unit Kerja Presiden Pemeliharaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Tentu tujuannya agar unit kerja ini tidak menjadi lembaga yang kosong dan tanpa kinerja. Beberapa butir pemikiran tersebut sebagai berikut:

  1. UKP-PIP seyogyanya bekerja secara sinkron dengan berbagai lembaga negara yang memiliki tupoksi melakukan kajian kebangsaan, demikian pula dengan lembaga negara yang memiliki tupoksi mengembangkan studi tentang ideologi pancasila. Sebagai lembaga yang muncul belakangan, ukp-pip perlu bersikap terbuka atas apa yang pernah dilakukan oleh lembaga lain
  2. Setiap perguruan tinggi hendaknya memiliki pusat studi/laboratorium pancasila. Pusat studi/laboratorium bertugas mengeksplorasi, mengevaluasi dan mencari visi baru pengembangan substansi dan metode pendidikan pancasila.tanpa ada pengkajian ilmiah maupun kefilsafatan secara kontinyu, ideologi pancasila dapat kehilangan dimensi aktualitasnya sehingga dapat ditinggalkan masyarakat
  3. Selalu penting untuk mengisahkan pancasila melalui strategi seni budaya. Mendarahdagingkan pancasila melalui strategi seni dan budaya dapat dilakukan melalui berbagai gerakan multikultural, gelar budaya dan kreativitas seni yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Upaya-upaya berbasis seni dan budaya sangat efektif untuk pembudayaan pancasila menjadi suatu praksis sehari-hari
  4. Dalam pendidikan politik pancasila, setiap orang perlu secara bersama-sama membangun satu-dua program aksi menyangkut masalah kemasyarakatan.  Agar efektif, ada lima hal yang perlu diperhatikan: agar muncul keteladanan (modelling), terjadi pembiasaan (habituasi), pemotivasian bagi banyak orang, konsistensi aksi dan refleksi perihal manfaat yang diperoleh. (dokpenkwi- Benedicta Fcl)

 

 

67 Total Views 3 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *