Renungan Harian, Selasa 1 Agustus 2017

perumpamaan-gandum-dan-ilalang-mat-13-24-433

Selasa Pekan Biasa XVII, PW St. Alfonsus Maria de Liguori

Bacaan: Matius 13:36-43

Penjelasan perumpamaan tentang lalang di antara gandum

13:36 Maka Yesuspun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” 13:37 Ia menjawab, kata-Nya: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; 13:38 ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. 13:39 Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. 13:40 Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. 13:41 Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. 13:42 Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. 13:43 Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Renungan

Ikut masuk ke dalam dapur api atau tidak adalah bagian dari pilihan kita. Pilihan itu ditentukan selama bagaimana kita hidup dan berjuang saat ini. Hal yang sudah pasti adalah bahwa kita adalah masuk dalam jenis benih yang baik. Pertanyaannya apakah kita tetap setia pada identitas jenis benih yang baik itu?

Perjalanan hidup kita tidak jarang justru mengaburkan hakekat kebaikan benih yang ada dalam diri kita. Berbagai macam hambatan dan godaan sering kali membuat kita lupa akan identitas kebaikan itu. Karena hidup tidak mudah, pilihan yang kadang kita ambil justru pilihan sebagai ilalang. Sama-sama bertumbuh, namun ilalang tidak berbuah dan hanya besar badan saja. Nah kita tidak jarang merasa aman hanya sekedar menjadi ilalang, tidak berbuah apa-apa tapi tetap hidup, tetap menjadi besar.

Kenyamanan menjadi ilalang seperti kenyaman hidup kita yang tidak peduli apakah kita berbuah atau tidak. Sering kali kita nyaman dengan diri sendiri, tanpa peduli dengan sekitar kita. Kepedulian terhadap sekitar adalah bentuk dari buah pertumbuhan kita. Buah-bauh kepedulian itulah yang diharapkan mampu tumbuh dan berkembang dalam diri kita.

Semoga kita tidak puas hanya menjadi seperti ilalang: makan terus dan menjadi ‘bongsor’ tanpa mau menghasilkan buah yang berguna bagi keselamatan orang lain. Semoga kita mampu setia memberikan harga tinggi atas benih baik yang sebenarnya adalah hakekat diri kita.

Pepatah kuno membuktikan bahwa menjadi tua itu sudah pasti, tetapi menjadi dewasa itu adalah pilihan.

 

96 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *