Renungan Harian, Selasa 11 juli 2017

Panenan Banyak

Selasa Biasa XIV, Pw. St. Benedictus, Abas

Bacaan: Matius 9:32-38

Seorang bisu disembuhkan, Belas kasihan Yesus terhadap orang banyak

9:32 Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. 9:33 Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” 9:34 Tetapi orang Farisi berkata: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan.” 9:35 Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. 9:36 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. 9:37 Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. 9:38 Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Renungan

Tidak jarang dalam tahbisan imamat, atau kaul-kaul biarawan-biarwati, kata-kata Yesus diakhir perikopa ini menjadi moto bagi mereka. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Yesus mengingatkan para murid bahwa panggilan untuk menjadi penuai itu adalah panggilan dari Allah sendiri, bukan pertama-tama mereka yang mencari. Maka berdoa dan memohon pada Allah adalah jalan utama yang harus ditempuh.

Dalam beberapa kesempatan, orang tua merasa kuatir jika anaknya mempunyai keinginan untuk masuk seminari atau hendak menjadi suster. Kekuatiran mereka adalah bagaimana seandainya ditengah jalan mereka berhenti atau dihentikan. Sebagai orang tua mereka merasa malu dan tidak mau itu terjadi. Dengan kekuatiran itu, tidak sedikit orang tua yang melarang anaknya masuk seminari atau menjadi suster. Yang perlu selalu diingat adalah bahwa menjadi pastor atau biarawan biarawati bukanlah soal voting, namun bagaimana discerment itu berlangsung. Tidak bisa juga orang tua menuntut bahwa anaknya setelah masuk harus jadi, apalagi menuntut kongregasi itu supaya anaknya tetap disitu.

Jika itu yang terjadi, maka kita sama dengan orang Farisi yang justru berkomentar “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan.” Apa yang seharusnya menjadi berkat, justru berubah menjadi kutuk.

Ajakan Yesus hari ini pertama-tama ditujukan kepada kita semua. Kita berdoa mohon pada Allah agar semakin banyak pekerja untuk menua hasil panen. Syukur-syukur kita sendiri mau melibatkan diri dalam pekerjaan penuaian. Menjadi ‘pekerja-Nya’ bukan pertama-tama harus menjadi biarawan/wati atau pastor. Kita semua mempunyai panggilan itu. Keluarga juga dipanggil untuk menjadi bagian dari panen raya itu.

Keluarga adalah garam dan terang dunia. Melalui keluarga, hadirlah pribadi-pribadi yang dilibatkan Allah untuk bekerja di kebun-Nya, menuai panenan yang melimpah. Mari bersama melangkahkan kaki dan menyingsingkan lengan baju. Kita lakukan apa yang dikatakan Yesus dalam Matius 25:40 dan kita jauhi Matius 25:45. Tuhan Yesus memberikati.

 

95 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *