Renungan Harian, Sabtu 9 Juni 2017

Kantung Anggur

Sabtu Biasa XIII

Bacaan: Matius 9:14-17

Hal berpuasa

9:14 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” 9:15 Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. 9:16 Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. 9:17 Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.”

Renungan

Anggur yang baru harusnya disimpan dalam kantung yang baru memberi pengertian kepada kita bahwa hidup baru berarti ada pembaruan baik dari dalam maupun dari luar. Jika hendak sungguh mengadakan pembaruan diri, maka seluruhnya dibarui, tidak mungkin hanya setengah-setengah. Sikap setengah hati hanya akan membawa kehancura, baik nilai-nilai yang lama maupun nilai semangat baru yang dikehendaki. Dengan demikian, sia-sialah apa yang diniatkan dan diusahakan. Usaha pembaruan meliputi pembaruan kualitas dan kuantitas.

Puasa yang lama dalam konteks Injil hari ini adalah tidak makan tidak minum sesuai hukum yang berlaku. Itu adalah yang terjadi turun temurun, dari nenek moyang hingga jaman mereka. Berpuasa yang baru adalah dalam nama Kristus. Kristus sebagai ‘anggur’ baru tidak mungkin dimengerti dengan cara lama. ‘Anggur’ yang baru ini hanya bisa diterima dan disimpan dalam kantung yang baru. Anggur yang baru tidak merobek kantung yang lama, namun kantung yang lama tidak mungkin menahan anggur yang baru. Pembaruan terjadi baik dari isi maupun dari kantungnya.

Kita dipanggil untuk terus menerus membarui diri dalam Kristus. Pembaruan tidak terjadi sekali waktu. Kualitas pembaruan akan semakin terlihat dengan ujian waktu. Kesetiaan dan kebertahanan pembaruan menjadi indikasi apakah kita mempunyai niat yang sungguh untuk membarui diri.

Salah satu pembaruan diri yang ditawarkan adalah melihat banyak hal dalam kacamata iman. Kacamata iman berarti mengakui adanya kelemahan namun lebih memilih melihat dan mengusahakan hal-hal yang baik dan positif. Melihat banyak hal dalam kacamata positif akan jauh lebih membangun dari pada hanya melihat kesalahan dan ketidakberesan. Memang harus tetap menjadi bahan evaluasi, tetapi jika hanya terjebak dalam cara pikir menyalahkan, hidup kitapun akan serba salah. Sebaik apapun yang dikerjakan, hasilnya akan salah dan tidak ada apresiasi. Namun seburuk apapun yang dikerjakan, dengan apresiasi maka keburukan itu akan pelan-pelan berubah menjadi kabaikan-kebaikan.

Melihat kebaikan dalam keburukan adalah cara pandang Kristiani yang ditawarkan oleh Kristus sendiri. Semoga ‘Anggur’ baru yang sudah kita terima tidak kita sia-siakan begitu saja dan terbuang semuanya.

 

38 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *