Mgr. Harun Menghendaki Gereja Tanjungkarang Menjadi Gereja Yang Partisipatif

Perpasgelar III Keuskupan Tanjungkarang.

Perpasgelar III Keuskupan Tanjungkarang.

PRINGSEWU, RADIO SUARA WAJAR – Pada hari ke-5 Perpasgelar, Uskup Keuskupan Tanjungkarang memberikan kata-kata rangkuman apa yang selama proses ini pada sesi terakhir.

Mgr. Yohanes Harun Yuwono mengingatkan semua peserta untuk tidak melupakan sejarah. Itu merupkan kata Presiden Pertama RI, Soekarno, “Jangan Sekali-Kali Meninggalkan Sejarah (JAS MERAH).

“Perpasgelar menggunakan metode melihat apa yang sudah pernah terjadi supaya orang-orang muda dalam gereja, baik para imam maupun umatnya mengerti apa yang pernah terjadi. Belajar dari sejarah berarti meneruskan spirit yang sudah pernah ada, tetap ada, dan akan selalu menjadi roh kehidupan Gereja yang akan datang,” kata Mgr. Harun.

Mgr. Harun menyadari bahwa ada berbagai macam model bentuk gereja, dari gereja yang menolong sampai pada gereja yang mandiri.

“Saya menghendaki agar gereja Tanjungkarang menjadi gereja yang participative church atau partisipatif. Gereja adalah gereja yang ikut ambil bagian, dalam suka duka dunia. Gairah dan sukacita dunia menjadi bagian gairah dan sukacita gereja. Kesedihan dan duka dunia adalah kesedihan dan duka gereja”, katanya.

Uskup Keuskupan Tanjungkarang ini berharap, setelah Perpasgelar, Gereja Tanjungkarang menjadi gereja yang bergarak aktif, mau ikut terlibat untuk pergulatan dunia.

“Semua umat saya harap berani menjadi aktivis di gereja masing-masing. Gereja adalah kita. Keuskupan Tanjungkarang adalah kita,” pungkasnya.***

Penulis : RP Yohanes Dwi Wicaksono, SCJ

Editor   : Robert

 

108 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *